Seperti biasa, saya selalu membangunkan putri saya setiap pagi, tapi kali ini saya merasa dia sepertinya lagi marah, matanya agak bengkak dan merah, suaranya juga serak.

Rutinitas sehari-hari berjalan seperti biasa, anak-anak tampak sehat, tidak ada gejala sakit, satu-satunya yang mungkin membuatnya marah adalah “pertengkaran” dengan neneknya kemarin sore. Pulang dari sekolah, putri tampak ceria bermain di luar, pulang ke rumah hendak mengganti pakaian. Nenek yang khawatir putri masuk angin, kemudian menghalanginya mengganti pakaian. Mungkin karena panas, sehingga putri ingin segera menanggalkan pakaiannya, tapi lagi-lagi dihalangi neneknya, sehingga membuat putri seketika naik pitam dan berteriak keras.

Kebetulan saat itu, saya berada di kamar baca, lalu segera keluar dan menghampiri begitu mendengar teriakannya. Nenek sebenarnya bermaksud baik, tapi, anak itu sepertinya memang merasa gerah, kemudian saya mengambil pakaian yang agak longgar untuknya. Setelah mengganti pakaian, anak itu masih tampak kesal karena neneknya, dan tidak ingin neneknya mendekat. Tak lama kemudian nenek membawakan segelas air, tapi anak itu masih cemberut tidak mau minum.

Karena saya pikir anak itu masih kecil, belum tahu apa-apa, kalaupun melampiaskan kekesalan atau emosinya juga adalah hal yang wajar, jadi saya pun tidak banyak pikir lagi, lalu sibuk kembali dengan pekerjaan. Hanya saja, saya tak menyangka kalau anak itu benar-benar sangat kesal/marah. Dan saya benar-benar tidak percaya kalau bukan melihat ekspresinya secara fisik setelah amarahnya memuncak, bagaimana tidak, seorang anak yang usianya kurang dari lima tahun itu bisa begitu marahnya. Dan setelah saya renungkan sekarang, tampaknya anak itu benar-benar sudah tak tahan lagi saat ia berteriak/membentak neneknya.

Nenek tentu saja sayang dan mencintai cucunya, tapi ia memaksakan maksud baiknya pada anak-anak, mengira anak-anak masih kecil tidak tahu apa-apa, tidak bisa mengambil keputusan, sehingga perlu bantuan dari orang dewasa. Tapi faktanya, anak-anak lebih tahu dengan apa yang dialaminya, meskipun masih kecil dari sisi usia, tapi setidaknya masih bisa menilai terhadap hal-hal yang dialaminya sendiri, tidak perlu campur tangan orang lain.

Ada kalanya, dimana ketika terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan dan disalahkan, maka alasan yang paling sering diucapkan orang-orang “saya kan bermaksud baik”. Tapi, bertolak dari maksud baik itu tidak bisa menghapus hati yang terlanjur terluka. Memaksakan maksud baik kepada seorang anak kecil yang baru beberapa tahun usianya saja bisa membuatnya marah, apalagi memaksakannya kepada orang dewasa, maka akibatnya bisa dibayangkan. Karena itu, hal apa pun itu, sebaiknya jangan dipaksakan kepada seseorang, termasuk maksud baik. Kalau memang bertolak dari maksud baik dan perhatian, maka pertama-tama yang harus kita lakukan adalah menghormati dan menghargai pilihan orang lain. Hanya dengan sikap seperti ini, barulah merupakan wujud perhatian dan makna yang sebenarnya. (Epochtimes/ Qing Song/Jhn)

Share
Tag: Kategori: Uncategorized

Video Popular