Oleh: Liu Xiao

Seorang ksatria pada abad pertengahan Eropa lengkap dengan kuda tunggangan dan persenjataannya dan sebagai ksatria muda yang mendapatkan gelar tersebut acapkali harus melalui turnamen duel untuk menunjukkan bahwa dirinya layak menyandang gelar agung sebagai ksatria.

Sanggurdi tersebar masuk Eropa

Setelah sanggurdi ditemukan di Tiongkok, dengan cepat menyebar ke Korea. Di dalam makam kuno Korea abad kelima sudah ada lukisan tentang sanggurdi. Sanggurdi paling awal yang digali di Eropa, berasal dari abad ke-6, di dalam pemakaman orang Avars Hungaria (keturunan orang Rouran dari dataran tinggi Mongolia).

Karena itu para ahli memperkirakan, kira-kira pada abad ke-6, sanggurdi melalui suku Rouran yang lebih dulu berimigrasi ke barat lantas menyebar di Turki, kemudian ke kekaisaran Romawi dan terakhir tersebar ke seluruh daratan Eropa. Inilah kenapa pada awalnya sanggurdi oleh beberapa ilmuwan Barat disebut sebagai “Sepatu Tiongkok”.

Pengaruh sanggurdi terhadap sistem ksatria barat (Western Knights)

Banyak orang mahfum tentang sistem dan semangat Ksatria Barat / Ksatria Berkuda (Western Knights). Singkat kata, orang yang terlahir di keluarga bangsawan adalah syarat utama menjadi seorang ksatria berkuda. Kedua, seorang ksatria sejak kecil sudah menerima pelatihan ketat dalam bidang kemiliteran dan tata krama, ketika sudah berusia 21 tahun mereka baru secara resmi dinobatkan sebagai ksatria.

Dan sebagai ksatria muda yang mendapatkan gelar tersebut acapkali harus melalui turnamen untuk menunjukkan bahwa dirinya layak menyandang gelar agung sebagai ksatria.

Dalam duel, para ksatria juga harus menaati peraturan dan kelaziman tertentu tertulis, misalnya seorang ksatria tidak boleh menyerang ksatria lawannya yang masih belum siap, namun harus menunggu pihak lawan siap sebelum bertempur. Ketika seorang ksatria menawan ksatria dari kubu lawan, maka harus memperlakukan tawanan itu laiknya tamu kehormatan dan lain sebagainya.                                                                                                                                             Sebagai seorang ksatria, selain harus menaati kelaziman dalam pertempuran, juga harus menaati ketentuan dalam agama Kristen, misalnya seperti membantu orang miskin, melindungi gereja, para wanita dan semua orang yang tidak berkemampuan menjaga diri dan lain sebagainya.

Walaupun tidak semua ksatria menaati pantangan ini namun semangat ksatria, sopan santun dan sikap yang bermartabat, hingga saat ini masih dipatuhi oleh dunia Barat pada umumnya. Hal yang mengejutkan banyak orang adalah, salah satu alasan penting pendorong sistem ksatria Eropa menjadi berjaya di abad ke-11 hingga abad ke-14 ternyata adalah sanggurdi yang diciptakan di Tiongkok.

Sebelum sanggurdi masuk ke daratan Eropa, para penunggang kuda selalu menemui kesulitan ketika hendak menaiki kuda. Saat itu gaya utama menunggang kuda adalah tangan kiri mencengkram bulu kuduk kuda lalu melompat naik ke atas punggung kuda. Cara lain adalah dengan menggunakan ujung tombak menyentuh tanah menopang tubuh lalu meloncat naik ke punggung kuda. Juga dengan cara  menginjak palang tombak yang melintang datar untuk naik ke atas kuda.

Dan ketika para penunggang berada di atas kuda, sepasang kaki mereka tidak ada tempat untuk berpijak. Jika kuda berlari kencang atau melompat, maka para ksatria harus memegang erat bulu kuduk kuda dan menjepit perut kuda dengan kuat, baru bisa terhindar dari terguncang jatuh dari atas punggung kuda.

Dalam keadaan seperti ini sangat sulit bagi seseorang untuk bertempur di atas kuda, itulah sebabnya sistem ksatria pun belum terbentuk sebelum abad ke-11, sedangkan sanggurdi yang diciptakan oleh orang Tiongkok telah mengubah situasi tersebut, sehingga pada akhirnya dapat tercipta sistem ksatria dan semangat ksatria di Eropa.

Dalam hal ini, Joseph Needham (1900-1995) ahli sejarah teknologi Tiongkok dari Inggris yang terkenal memberikan penilaian tinggi. Ia berkata, “Tentang sanggurdi pernah ada banyak diskusi hangat, analisa terbaru menunjukkan bahwa Tiongkok adalah dominan. Hingga awal abad ke-8 baru muncul sanggurdi di Barat (atau Bizantium, negeri Turki sekarang), namun dampak sosialnya  ternyata sangat khusus. Lynn White mengatakan: “Hanya sedikit penemuan seperti sanggurdi yang begitu sederhana namun berdampak katalistis begitu besar dalam sejarah.”

Benar-benar seperti apa yang ia katakan. (lin/whs/rmat)

SELESAI

Share

Video Popular