Pada 2017 ini National Aeronautics and Space Administration (NASA) akan melanjutkan program eksplorasi ruang angkasa dan observasi astronomi, misalnya seperti gerhana matahari total yang langka di Amerika Serikat.

Gerhana Matahari Total di Amerika

Pada 21 Agustus 2017 mendatang, akan terjadi gerhana matahari total di seantero Amerika Serikat. Ini adalah fenomena astronomi yang dikenal “Great American Eclipse”, sebuah panorama menakjubkan yang dapat disaksikan di seluruh negeri Amerika Serikat.

Totalitas gerhana pada Agustus mendatang ini akan melintasi banyak negara-negara bagian di AS dimulai dari Oregon, Idaho, Wyoming, Nebraska, Kansas, Missouri, Kentucky, Illinois, Tennesse, dan terakhir Carolina Selatan.

Gerhana matahari total terjadi saat seluruh piringan bulan menutupi piringan matahari. Karena saat itu ukuran piringan bulan lebih besar dari ukuran piringan matahari maka seluruh piringan matahari akan tertutupi piringan bulan. Akibatnya piringan matahari yang tadinya terang seakan menghilang dan menyebabkan malam dalam siang yang sangat eksotis.

Lintasan gerhana matahari total yang diperkirakan astronom (Garis merah). NASA akan memasang instrumen observasi bintang neutron di Stasiun Luar Angkasa Internasional. (NASA Video screenshot)

Para astronom memperkirakan bahwa pemandangan langka yang menakjubkan itu tidak akan muncul lagi dalam 375 tahun ke depan, karena itu, NASA berencana melakukan observasi yang cermat terhadapnya.

Mars, Saturnus dan Jupiter

Mars, Saturnus dan Jupiter adalah planet pertama yang akan dijelajahi NASA. Laman Inverse, Jumat, (30/12/2016) lalu menyebutkan, bahwa video yang dirilis NASA pada akhir 2016 lalu menunjukkan, badan antariksa tersebut akan melanjutkan misi berawaknya ke Mars.

Ilmuwan dan insinyur NASA bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan swasta seperti SpaceX, membuat perangkat laboratorium dan pesawat ruang angkasa, menggunakan Space Launch System-SLS atau sistem peluncuran antariksa generasi baru, untuk menggantikan Saturn V yang telah memainkan peran kunci dalam program luar angkasa Apollo.

NASA akan bekerja sama dengan perusahaan swasta SpaceX dan lembaga komersial lainnya dalam proyek pesawat ruang angkasa berawak ke Mars. (NASA Video screenshot)

Para ilmuwan tengah sibuk meningkatkan Vehicle Assembly Building (VAB) NASA di Kennedy Space Center, Florida dan Launch Pad 39B.

Wahana antariksa Juno milik NASA. NASA akan meluncurkan teleskop ruang angkasa baru-TESS, untuk lebih lanjut mengamati exoplanet. (NASA Video screenshot)

Wahana antariksa Juno mungkin akan memperpanjang waktu pengamatannya hingga 2018 mendatang. Sementara wahana antariksa Cassini yang telah banyak mengirimkan gambar observasi Saturnus yang sangat berharga sejak diluncurkan pada 1997 silam itu, akan hancur secara otomatis di Saturnus setelah menyelesaikan misinya 2017 ini.

Extrasolar planet atau planet di luar tata surya

Teleskop antariksa Kepler telah menemukan ribuan planet di luar tata surya di zona layak huni yang mungkin mengandung kehidupan. Namun NASA masih akan meluncurkan teleskop ruang angkasa yang baru yakni  Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS), untuk lebih dalam mencari sekaligus meneliti lebih banyak exoplanet.

NASA akan memasang perangkat bernama The Neutron star Interior Composition Explorer (NICER) di Stasiun Antariksa Internasional, untuk mendeteksi bintang neutron yang memiliki kepadatan dan energi esktrim.

Bumi dan Iklim

Selain itu, NASA juga akan bekerja sama dengan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) untuk penelitian cuaca dan ilmu bumi, terutama mengamati secara menyeluruh berbagai dampak akibat perubahan iklim.

Kedua lembaga penelitian ini akan mempelajari lebih dalam terkait Tropical Cyclone / siklon tropis dan angin topan tahun ini, dengan harapan kelak dapat mendeteksi secara akurat terhadap cuaca-cuaca yang mengerikan ini. (Epochtimes/Lin Shi-yuan/joni/rmat)

Share

Video Popular