Inflasi, Sang Primadona “Ekonomi” yang Sulit Ditaklukkan (2)

270
Ilustrasi inflasi (Shutterstock)

Oleh: Pipin Kesumariani*

Berbicara tentang bagaimana menekan laju inflasi, maka yang perlu diketahui lebih dalam adalah penyebab dari laju inflasi itu sendiri. Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara menyatakan bahwa penyebab inflasi yang akan datang akibat gejolak harga pangan sebagai akibat dari perubahan iklim, berarti penyebab inflasi saat ini berada pada sisi permintaan. Diramalkan bahwa akan ada output gap atas ketersediaan barang yang diminta dan pada akhirnya menyebabkan harga melambung tinggi.

Berangkat dari sini pula harus kita lihat bahwa peranan pangan amat sangat penting dalam mengendalikan inflasi, meski tak bisa dipungkiri jika ada faktor lain yang ikut mendorong laju inflasi seperti harga minyak dunia ataupun ekspektasi inflasi oleh pelaku ekonomi.

Kita harus sadar betul bahwa sektor pangan akan mampu menjadi penopang perekonomiaan sebab mencetak uang baru saat terjadi inflasi adalah langkah yang sia-sia. Memastikan ketersedian pangan setidaknya lebih masuk akal. Komoditas beras, cabai merah, bawang merah, bawang putih, daging ayam ras, dan daging sapi yang diklaim sebagai penyumbang laju inflasi harus sesegera mungkin dipastikan ketersediannya.

Pemerintah harus benar-benar serius mengatasi masalah sektor “inti” di bawah naungan negara yang dikenal dengan sebutan negara maritim nan subur ini.

Demi sebuah produksi yang lancar, pemberiaan subsidi pupuk, bibit unggul agar hasil  maksimal, perbaikan sistem pengairan, pemberian informasi yang memadai dan penyuluhan dirasa mampu menghadirkan rasa peduli kepada sektor pangan. Bukan tanpa alasan, hal ini bertujuan agar meminimalisir kekurangan stok pangan yang akan memicu inflasi yang lebih meresahkan.

Pemerintah pun harus menjamin kelancaran distribusi pangan sebab salah satu hal yang menyebabkan harga barang melonjak tinggi adalah cost push inflation atau dorongan biaya. Pendistribusian bahan pangan akan lancar tanpa hambatan jika kondisi jalan juga memadai sebab saat pendistribusian tidak lancar maka langsung berdampak pada gejolak harga itu sendiri.

Sadari satu hal, masalah ini langsung menyentuh bagaimana proyek Pemerintah dalam hal infrasruktur berlangsung, alangkah lebih bijaksannya jika Pemerintah pandai “memilih” dan membenahi infrastruktur yang lebih bermanfaat dibandingkan dengan proyek yang hanya bisa menggelontorkan dana.

Untungnya kabar baik datang dari petinggi Bank Indonesia yang secara tegas menyatakan bahwa BI akan mengembangkan klaster komoditas pangan di seluruh Indoensia sebagai langkah mendukung peningkatan produksi pangan. Dalam hal ini, petani dan peternak akan diberikan pelatihan dan bantuan modal.

Harapan juga datang dari usaha pembentukan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang bertugas memantau pergerakan inflasi sehingga mampu merumuskan kebijakan yang mendekati tepat.

TPID ini berpedoman kepada prinsip ketersedian pasokan, kelancaran distribusi, keterjangkauan harga dan komunikasi strategis dalam mengelola ekspektasi masyarakat. Tak hanya itu, Bank Indoesia pun telah memiliki aplikasi pusat informasi harga pangan yan strategis yang juga telah dipasang di sejumlah pasar induk, sebuah terobosan bijaksana untuk menekan permainan harga pangan oleh para pedagang sehingga harga mampu dikontrol dengan baik.

Melihat rencana yang akan ditempuh, tercermin jelas bahwa sektor pangan sangatlah penting dalam hal menekan inflasi. Namun, sebagus apapun rencana yang telah dimantapkan para pejabat negeri ini tak akan bisa berjalan lancar jika tak ada timbal balik dari masyarakat.

Perlu diketahui bahwa mencuatnya tingkat inflasi juga disebabkan oleh ekspektasi. Jika masyarakat percaya dengan kebijakan yang telah diambil pemerintah maka ekspektasi perlahan akan turun namun jika masyarakat tidak percaya dengan kebijakan pemerintah dengan segala ekspektasinya maka inflasi tetap akan naik.

Tentu, hal ini akan dicapai jika kebijakan pemerintah yang dimaksud kredibel sebab jika tidak bersiap-siaplah dengan laju inflasi yang akan terus naik. Sekali lagi, masyarakat tak harus selalu percaya dengan ekspektasinya sebab Robert Solow, sang ekonom terpopuler berkata bahwa kita mengalami inflasi karena kita mengharapkan inflasi, dan kita mengharapkan inflasi karena kita mengalaminya. (pipin/rmat)

SELESAI

*Penulis Kandidat Master Sains Ilmu Ekonomi Pertanian IPB