Alkisah semasa Dinasti Song (960 – 1279), di sebuah desa, tinggallah seorang anak yatim piatu usia puluhan tahun yang menderita cacat kaki. Bocah ini bukan hanya tinggal seorang diri, tapi juga hidupnya sangat sengsara, bahkan sehari-hari bergantung pada sedekah dari tetangga atau mengemis untuk bertahan hidup.

Di seberang desa ada sebuah sungai, penduduk desa dan pejalan kaki yang lewat harus menyeberangi sungai ini, sungguh merepotkan dan menyusahkan terutama bagi mereka yang sudah lanjut usia. Apalagi setiap saat palung sungai itu naik, sama sekali tidak bisa lewat. Tapi tahun demi tahun terus berganti, tidak ada seorang pun yang mau mengubahnya.

Setiap hari anak tersebut mengambil batu dan menumpuk di tepi sungai. Orang-orang yang melihatnya, bertanya pada si bocah untuk apa mengambil batu dan ditumpuk di tepi sungai. Untuk membuat sebuah jembatan batu, supaya memudahkan jalan bagi penduduk desa, jawab si anak. Tapi orang-orang yang mendengarnya justru menganggap anak itu mengkhayal, dan menertawakannya.

Seiring dengan bergulirnya waktu, hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, batu yang ditumpuk pun menjadi bukit. Penduduk desa pun mulai mengubah pemikirannya, dan tersentuh oleh semangat anak itu, kemudian ikut andil dalam aksi mengumpulkan batu dan membuat jembatan.

Penduduk desa kemudian mengundang pekerja ahli, mulai membangun jembatan batu. Sementara itu, dengan penuh semangat anak yang cacad itu pun ikut terjun dalam pekerjaan membangun jembatan. Namun, sebelum jembatan itu selesai, naas bagi sang bocah sepasang matanya menjadi buta ketika mengerek batu yang mengenai sepasang matanya. Orang-orang sangat sedih melihat bocah itu, mereka menjadi kesal, menyalahkan Tuhan yang tidak berlaku adil. Ya Tuhan! Bocah yang begitu malang, yang sepenuh hati bekerja untuk semua orang, tapi kenapa mendapatkan karma seperti ini. Namun, anak itu sendiri justru tidak mengeluh atau menyalahkan siapa pun, setiap hari tetap bekerja sambil meraba-raba melakukan pekerjaan semampunya di tempat pembangunan jembatan.

Berkat upaya bersama seluruh penduduk desa akhirnya pembangunan jembatan itu pun selesai. Di tengah-tengah kebahagiaan segenap penduduk desa, pandangan mata mereka tertuju pada bocah malang yang memang sudah cacat kaki itu, sekarang harus menderita lagi dengan sepasang matanya yang buta. Meskipun sang bocah tidak bisa melihat apa-apa, tetapi raut wajahnya memancarkan senyum paling bahagia selama hidupnya.

Namun, kemalangan si bocah tampaknya belum berakhir, hujan lebat yang tak terduga dan diiringi guntur yang membahana seakan-akan hendak membersihkan jembatan batu itu. Tapi setelah guntur yang memekakkan telinga itu berlalu, orang-orang melihat bocah itu telah disambar petir, dan tewas seketika tersungkur di atas tanah. Melihat itu, semua orang tampak terperangah, kemudian mereka pun melampiaskan amarahnya yang sudah tak tertahankan, menyalahkan Tuhan tidak adil….kenapa anak ini begitu malang nasibnya.

Tepat pada saat itu, Bao Zheng atau yang dikenal sebagai Jaksa Bao yang maha adil mendapat tugas di daerah tersebut. Para penduduk desa kemudian ramai-ramai menghentikan tandu yang membawa Jaksa Bao, mereka meminta keadilan bagi anak yang malang itu. Mereka bertanya pada Jaksa Bao : Mengapa orang baik tidak mendapatkan karma baik? Bagaimana mau menjadi manusia baik kalau begitu ? Jaksa Bao yang juga makan nasi di dunia manusia itu tersentuh oleh kekesalan penduduk desa, kemudian mencatat “lebih baik berbuat jahat daripada berbuat baik”, lalu pergi.

Setelah kembali ke ibukota, Jaksa Bao melaporkan kepada raja tentang hal-hal umum yang terjadi dan perihal yang didengar dan disaksikan di sepanjang perjalanannya tapi menyembunyikan perihal kata-kata yang ditulisnya terkait sang bocah. Karena meskipun dalam benaknya benar-benar bingung dengan kasus bocah yang berbuat baik tapi tidak mendapatkan balasan baik itu, tapi setelah direnungkan olehnya ia merasa lebih baik dikesampingkan dulu laporannya terkait kata-kata “lebih baik berbuat jahat daripada berbuat baik” itu kepada raja. Tak disangka, raja bersikeras menyuruh Jaksa Bao ke istana seusai laporan dari para pejabat negara .

Ternyata beberapa hari yang lalu, raja mendapatkan lagi seorang putra mahkota. Putra mahkota sangat menggemaskan dan menyenangkan semua orang, tapi selalu menangis sepanjang hari. Karena itu, raja sengaja meminta Jaksa Bao untuk melihat-lihat putra mahkota. Jaksa Bao melihat kulit anak itu begitu putih laksana salju, dan tampak sebaris tulisan di tangan mungilnya yang putih halus. Ketika Jaksa Bao melihat lebih dekat, tampak sebaris tulisan sama seperti yang ditulisnya “lebih baik berbuat jahat dariada berbuat baik”. Muka Jaksa Bao seketika merona merah, lalu segera menghapus tulisan itu. Begitu tulisan itu dihapus oleh Jaksa Bao, tulisan di lengan sang putra mahkota seketika juga ikut lenyap tak berbekas.

Menariknya, huruf yang terukir ditangan sang putra mahkota itu berupa huruf, tapi di mata orang lain tak lebih merupakan tanda lahir. Melihat tanda lahir di tangan putra mahkota itu lenyap dihapus Jaksa Bao, dan karena khawatir berkah itu hilang, sang raja seketika memarahi Jaksa Bao. Melihat raja begitu marah, Jaksa Bao langsung berlutut sambil mengatakan “hamba pantas menerima hukuman”, kemudian Jaksa Bao menceritakan seluk beluk tentang tulisan itu kepada raja. Mendengar itu, raja merasa aneh, kemudian menyuruh Jaksa Bao mencarai tahu hal yang sebenarnya ke akhirat dengan bantal Yin Yang Jaksa Bao.

Jaksa Bao lalu ke akhirat sejenak dengan bantal Yin Yang-nya, dan akhirnya mengetahui fakta yang sebenarnya. Ternyata anak itu banyak melakukan kejahatan dan berdosa besar semasa hidupnya dahulu. Dan untuk menebus dosa pada kehidupannya itu harus ditebus dengan karma jahat selama tiga kehidupannya baru bisa lunas.

Ternyata Sang Ilahi telah mengatur perjalanan hidupnya, di kehidupan pertama, anak itu hidup seorang diri dan cacat ; di kehidupan keduanya sepasang matanya buta dalam sisa hidupnya ; dan di kehidupan ketiganya tewas mengenaskan disambar petir. Pada kehidupan pertama anak itu bereinkarnasi menjadi orang yang cacat dan melarat, tapi karena bertobat, hanya ingin berbuat baik untuk orang lain. Jadi Sang Ilahi mengizinkan satu kehidupannya untuk membayar karma selama dua kehidupannya, membuat sepasang matanya buta. Tapi anak itu tidak mengeluh dan menyalahkan orang lain, hanya secara diam-diam berbuat baik untuk orang lain. Sehingga Sang Ilahi menjadikan karma kehidupan ketiganya itu ditebus dalam satu kehidupan ini, karena itu ia tewas disambar petir.

Raja akhirat (Yama) kemudian bertanya pada Jaksa Bao, karma tiga kehidupan ditebus dalam satu kehidupan, bagaimana menurutmu ? Selama satu kehidupan menebus karma dalam tiga kehidupan, karena ia khusus melakukan hal-hal yang baik, dan hanya memikirkan orang lain, sama sekali tidak memikirkan untuk diri sendiri, dalam hal tertentu telah mencapai taraf “Berada di dalam Dharma (Tao) meski tidak berkultivasi Dharma,” juga telah banyak beramal (berbuat kebajikan), oleh karena itu segera terlahir kembali menjadi putra mahkota setelah meninggal, menikmati karma baik (berkah) sebagai putra kayangan (Raja) dunia manusia.

Berbuat baik tapi tidak ada karma balasan baik, karena ada kekurangan pada kehidupan dahulu. Berbuat jahat tapi tidak ada karma balasan buruk, karena ada sisa kebajikan pada kehidupan dahulu.

Dihimbau kepada Anda sekalian janganlah berbuat jahat, karena karma baik-buruk akan ditanggung sendiri akibatnya, dan banyak-banyaklah berbuat bajik, untuk menghilangkan karma buruk dan menambah berkah. (NTDTV/Jhn/Yant)

Share

Video Popular