Dunia ini penuh dengan keajaiban dan misteri. Sejak jaman dahulu kala, manusia berusaha untuk memahami alam. Mereka mencoba untuk menemukan apa makna dari hidup, dan jawaban dari berbagai fenomena yang terjadi di dunia.

Dalam sejarah, berbagai penemuan penting seringkali terinspirasi dari alam. Misalnya, dalam kebudayaan Tiongkok kuno ada sebuah kisah tentang penciptaan huruf Mandarin.

Cang Jie adalah nama tokoh legendaris pada masa Kaisar Kuning. Ia ditugaskan oleh Sang Kaisar untuk menemukan cara baru untuk menyimpan informasi. Suatu ketika, Cang Jie melakukan perjalanan di pegunungan dan menemukan seekor kura-kura.

Cang Jie memperhatikan berbagai garis pada tempurung kura-kura. Ia melihat sebuah pola dan mengungkap maknanya. Terdorong oleh kejadian ini, Cang Jie menjadi hanyut dalam kecintaannya terhadap alam, dan kehidupan yang ada di dalamnya.

Ia terus mempelajari alam secara mendalam. Dari sini terciptalah piktogram atau hiroglif beserta makna dari objek yang ditampilkan. Cang Jie kemudian memberi kata-kata pada piktogram dan ini berkembang menjadi huruf Mandarin yang ada sekarang.

Menurut penuturan orang, Cang Jie memiliki empat mata yang mampu menembus misteri alam dan mengungkap kebenaran. Sebagai budaya warisan Dewata, kebudayaan Tiongkok kuno percaya bahwa berbagai penemuan adalah diturunkan oleh Dewa demi kesejahteraan manusia.

Dari jaman ke jaman, alam terus mengungkap misterinya. Ini seringkali menjadi sebuah terobosan bagi perkembangan sejarah.

Pada tanggal 22 Maret 1996, seorang ilmuwan bernama Hans-Henrik Stølum dari Universitas Cambridge, mempublikasikan sebuah paper di Science Magazine. Melalui penelitiannya, Ia menemukan bahwa kelengkungan dari sungai-sungai di dunia berhubungan dengan bilangan Pi (3.14..). Bila benar, maka penemuan ini akan menambah panjang deretan keajaiban yang ditunjukkan oleh alam.

Dalam dunia Matematika, boleh dikatakan Pi (π) adalah “benda ajaib”. Pi adalah nilai perbandingan keliling lingkaran dengan diameter lingkaran. Ia merupakan bilangan irasional dan transendental. Jadi bila dituliskan dalam bentuk desimal, bilangan Pi akan berupa deretan angka yang tak berakhir, dan sampai saat ini belum ada yang mampu menemukan polanya.

Dengan menggunakan data empiris dan simulasi, Hans-Henrik Stølum mengamati karakter dari sinuosity (kelengkungan) sungai yang ada di Bumi. Sinuosity adalah tingkat kelengkungan dari sungai, yang diukur sebagai perbandingan antara total jarak sebuah sungai dengan jarak langsung dari sumber sungai ke ujungnya. Jadi, nilai sinuosity dari sungai yang lurus adalah satu, sedangkan sungai yang sangat lengkung akan memiliki nilai sinuosity yang besar.

Peneliti dari Departemen Ilmu Kebumian ini menemukan bahwa nilai sinuosity dari berbagai sungai yang ia amati, berada di antara 2.7 dan 3.5, dengan rata-rata sekitar 3.14. Kemudian, dengan fraktal geometri ia mengkonfirmasi hasil ini. Ini adalah hasil yang sulit dipercaya!

Banyak orang yang terobsesi dengan bilangan Pi menjadi takjub. Beberapa di antaranya ingin membuktikan kebenaran hasil ini lebih lanjut. Seperti yang dilakukan oleh James Grime, seorang Doktor di bidang Matematika yang tergila-gila dengan angka.

Meski sangat berharap sinuosity sungai adalah Pi, ia masih berpikir bahwa kelengkungan sungai akan dipengaruhi oleh geografi. Namun, apapun bisa jadi mungkin bagi alam! Jadi, ia meminta orang-orang untuk memasukkan koordinat sungai-sungai yang mereka tahu melalui website yang ia buat.

Dengan ini, ia dapat menghitung rata-rata sinuosity dari sungai yang ada di bumi. Akan sulit sekali menghitung sinuosity semua sungai di Bumi. Tetapi berdasarkan data yang masuk sejauh ini, didapat nilai rata-rata di bawah nilai Pi.

Pola-pola yang ada di alam jumlahnya mungkin tak terbatas. Alam terus menjadi inspirasi bagi manusia. Manusia juga akan tetap berusaha mengungkap pola-pola yang ada di alam. Berbagai kejadian atau fenomena alam, bisa menjadi sumber pengetahuan bagi kehidupan manusia. (erabaru.net/Dpr)

Share
Tag: Kategori: SAINS SAINS NEWS

Video Popular