Dalam film 2004, ‘The Day After Tomorrow’, arus laut yang mengelilingi dunia berhenti sebagai akibat dari pemanasan global, menyebabkan bencana badai yang menghapus kota-kota besar di seluruh dunia. Dan para ahli percaya bahwa plot menakutkan ini bisa segera menjadi kenyataan.

Sebuah studi baru menunjukkan bahwa pola sirkulasi laut bisa menjadi berantakan dalam waktu dekat, merubah dengan cepat belahan bumi utara ke zaman es.

Studi sebelumnya telah memperkirakan bahwa tingkat karbon dioksida akan meningkat dua kali lipat menjadi 700 ppm pada tahun 2100. Jika hal ini terjadi, arus laut bisa buyar pada tahun 2400.

Para peneliti dari Scripps Institution of Oceanography di University of California San Diego telah menunjukkan bahwa model iklim mungkin mengabaikan kemungkinan sirkulasi laut runtuh secara mendadak.

Mereka menemukan bahwa bias dalam kebanyakan model iklim melampaui stabilitas pola tersebut, yang disebut Atlantic Meridonial Overturning Circulation (AMOC), pembalikan sirkulasi samudera Atlantik.

Ketika para peneliti menghapus bias ini, mereka memperkirakan bahwa sirkulasi bisa runtuh di masa depan, menyebabkan pendinginan skala besar di Atlantik Utara.

Keruntuhan tersebut akan menghentikan AMOC, yang mengirimkan air hangat menuju Greenland kemudian tenggelam karena ia mendingin dan mengalir kembali menuju khatulistiwa.

pembalikan sirkulasi samudera atlantik
Grafis ini menunjukkan sirkulasi laut Atlantik. Merah, aliran permukaan yang relatif hangat, warna biru aliran air dalam yang dingin. Aliran permukaan dari utara dan aliran dalam dari selatan mengalir bersama-sama membentuk pembalikan sirkulasi samudera Atlantik, yang dikenal Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC).

Wei Liu, yang memimpin penelitian, mengatakan, “Pentingnya penelitian kami adalah untuk menunjukkan bias sistematis dalam model iklim saat ini yang menghambat proyeksi iklim yang benar.”

Sebuah model untuk koreksi bias menempatkan AMOC dalam tata pengaturan stabilitas realistis dan memprediksi jatuhnya AMOC masa depan dengan pendinginan yang mencolok di atas area Atlantik Utara dan sekitar. Menurut mereka penelitian tersebut memiliki implikasi besar untuk perubahan iklim regional dan global.

Untuk membuat prediksi mereka, para peneliti menggunakan dua kali lipat konsentrasi karbon dioksida di atmosfer sebagai skenario perubahan iklim yang sederhana, dan mengurangi ketegangan asumsi stabilitas AMOC.

Prediksi tersebut menunjukkan bahwa sirkulasi itu runtuh 300 tahun setelah menggandakan konsentrasi karbon dioksida.

Kadar tingkat tinggi karbon dioksida tersebut akan menyebabkan es Arktik dan Greenland mencair, meningkatkan jumlah air tawar mengalir ke laut. Kenaikan air tawar ini akan mengacaukan AMOC, yang bergantung pada keseimbangan antara air tawar dan air garam.

Dan dalam 300 tahun, arus bisa berhenti sama sekali, dengan konsekuensi bencana. Samudra Atlantik Utara secara dramatis akan dingin, menyebarkan es laut Kutub Utara.

Suhu permukaan Samudra Atlantik Utara akan turun 2,4°C (4.3°F) dan suhu udara permukaan di atas laut Eropa barat laut bisa turun sejauh 7°C (12.6°F).

“Ini ide yang sangat provokatif. Bagi saya, itu adalah berubah 180 derajat karena saya sudah berpikir seperti orang lain,” ungkap Zhengyu Liu, rekan penulis.

Apakah AMOC ?

Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC), pembalikan sirkulasi samudera Atlantik, merupakan komponen penting dari sistem iklim bumi.

Pola tersebut membawa air asin hangat di lapisan atas Atlantik utara, dan air tawar dingin di kedalaman Atlantik selatan.

Sistem sirkulasi laut ini mengangkut sejumlah besar panas dari belahan bumi selatan dan tropis menuju Atlantik Utara, dimana panas ditransfer ke atmosfer.

Kadar tingkat tinggi karbon dioksida akan menyebabkan es Arktik dan Greenland mencair, meningkatkan jumlah air tawar menuju ke laut. Dan kenaikan air tawar ini akan mengacaukan AMOC, yang bergantung pada keseimbangan antara air tawar dan air garam. (ran)

Share

Video Popular