JAKARTA – Kabar hoax atau bohong akhir-akhir ini terus merebak di sejumlah jaringan aplikasi media sosial di Indonesia dengan mengangkat berbagai isu. Hoax yang beredar tak hanya menyerang individu, tapi negara bahkan dikhawatirkan memecahkan persatuan.

Sebenarnya, selama bertahun-tahun sejak 1999 silam hingga sekarang secara gencar menjadi korban hoax adalah Falun Gong atau Falun Dafa. Kabar hoax yang menerpa terhadap metode olah jiwa dan raga ini tak hanya berkembang pesat di Tiongkok, namun turut menyebar di Indonesia bahkan pada seluruh dunia. Kabar hoax ini ditenggarai dipercayai begitu saja oleh sejumlah kalangan.

Berbeda dari hoax-hoax yang berseliweran umumnya di linimasa, kasus hoax yang menimpa terhadap Falun Gong lebih menyeramkan efeknya untuk menghasut kebencian. Hoax yang menyerang terhadap praktisi Falun Gong beragam seperti tuduhan aliran sesat, anti pemerintah Tiongkok, anti sosial dan HAM, berpolitik dan terlibat aksi bunuh diri dengan bakar diri serta sebagainya.

Aktor utama isu ini yakni mantan Sekjen Partai Komunis Tiongkok (PKT) Jiang Zemin. Pada mulanya Jiang Zemin mengeluarkan tiga perintah terkait Falun Gong yakni Cemarkan Reputasinya, Bangkrutkan Secara Finansial dan Hancurkan Secara Fisik. Bahkan Jiang Zemin dengan kroninya memanfaatkan Kedubes RRT di seluruh dunia termasuk di Indonesia untuk melakukan intervensi kepada pemerintah setempat turut mengekang aktivitas Falun Dafa dengan berbagai hoax, fitnah dan propoganda.

Namun demikian, para praktisi Falun Gong di seluruh dunia termasuk di Indonesia yang mengikuti latihan ini terus menyuarakan bantahan hoax-hoax yang beredar secara massif. Mereka terus menerus menjelaskan sanggahan fitnahan selama bertahun-tahun kepada setiap individu, lembaga pemerintah termasuk kepolisian, tokoh masyarakat dan LSM.

Ketua Himpunan Falun Dafa Indonesia (HFDI) Gatot Machali menegaskan sebenarnya apa yang dijelaskan oleh praktisi Falun Gong hingga ke seluruh dunia yakni tentang adanya pengambilan organ tubuh secara ilegal adalah sebuah fakta yang sebenarnya. Menurut Gatot, kasus pengambilan organ tubuh menimpa ribuan praktisi Falun Gong bukan sebuah kabar bombastis atau rekayasa.

Lebih rinci Gatot menjelaskan justru praktisi Falun Gong adalah korban dari penyebaran hoax secara massif ini ke seluruh penjuru dunia.  Hoax yang berseliweran tersebut, kata Gatot, termasuk tuduhan bakar diri sehingga seolah-olah fitnahan tersebut dibenturkan terhadap Falung Gong.

“Ini jelas memfitnah Falun Gong, itu hoax dan banyak masyarakat teracuni, kami berusaha menjelaskan ke masyarakat luas dan ke dunia fakta sebenarnya,” katanya ketika dihubungi, Senin (9/1/2017) malam.

Tak hanya itu, aktor utama penindasan ini yakni Jiang Zemin secara beramai-ramai kini dituntut oleh masyarakat Tiongkok untuk dibawa ke Pengadilan.  Oleh karena itu, kata Gatot, tuduhan yang dialami Falun Gong adalah rekayasa sebenarnya yang bisa dibuktikan secara jelas tentang kebohongan dan fitnahan pada hoax-hoax yang beredar.

Gatot menegaskan sesungguhnya hoax-hoax yang beredar menimpa Falun Gong adalah isu yang dibuat dengan unsur kesengajaan. Gatot yakin masyarakat luas bisa melihat keganjilan-keganjilan fitnahan yang beredar.  Gatot juga yakin akan terkuak fakta sebenarnya dan kasus kejahatan terhadap Falun Gong tak bisa lagi disembunyikan.

“Kita berusaha menjelaskan dengan  fakta sebenarnya, semuanya akan terkuak dan tak bisa lagi ditutupi kebenarannya,” pungkasnya.

Apa yang disebut aksi bakar diri palsu terjadi pada 23 Januari 2001 silam. Pada kasus ini lima orang yang diberitakan oleh negara tersebut sebagai praktisi Falun Gong yang telah melakukan bakar diri di Lapangan Tiananmen Beijing.

Para penindas Falun Gong menggunakan insiden tersebut untuk membenarkan penganiayaan mereka dalam situasi yang berbeda secara terselubung diluncurkan dua tahun sebelumnya. Kejadian ini disiarkan media di Tiongkok saat itu dan turut disebarkan ke seluruh dunia.

Insiden bakar diri ini telah dibantah seperti penyelidikan Washington Post menunjukkan meragukan individu tersebut adalah praktisi Falun Gong, dan sebuah dokumenter pemenang penghargaan, False Fire, menunjukkan beberapa anomali dalam video tersebut.

Rekayasa ini seperti rekaman di mana seorang polisi terlihat memukul salah satu “immolator” (orang yang menawarkan diri sebagai bentuk pengorbanan dalam suatu tujuan khusus) di bagian kepala dengan tongkat pemukul karena asap berputar di sekitarnya. Lihat secara lengkap di False Fire. (asr)

Share

Video Popular