Oleh Qin Yufei

Dengan meningkatnya kabut udara di wilayah utara, jutaan warga Tiongkok terpaksa harus belajar hidup dalam kondisi sulit bernapas.

“Dari segi fisik, jika saya keluar rumah dengan tanpa menggunakan masker, saya akan merasa pusing, sulit bernapas,” tutur seorang mahasiswa berusia 23 tahun bernama Jiang Yuwei kepada koresponden NBC.

“Dengan menggunakan masker saja saya masih marasakan tersendatnya napas. Dan pada hari-hari berkabut, suasana hati saya jadi memburuk, tidak ingin keluar rumah dan pergi bekerja,” tambahnya.

Dalam pekan ini, 32 kota di Tiongkok dinyatakan masuk siaga merah, peringatan paling tinggi karena buruknya kualitas udara. Sementara itu, 27 kota lainnya termasuk Beijing sudah masuk siaga oranye yang berada diantara warna kuning dengan merah.

AQI (Air Quality Index) digunakan untuk mengevaluasi 6 jenis polutan termasuk sulfur dioksida, karbon monoksida dan ozon yang terkandung dalam udara, dinilai dengan menggunakan angka dari 0 – 500.

Begitu kualitas udara AQI 200 berlangsung selama 3 hari, maka siaga oranye dikeluarkan. Begitu pula jika AQI 300 sudah berlangsung selama 2 hari atau AQI 500 sudah berlangsung selama 24 jam, maka peringatan tertinggi, yakni siaga merah dikeluarkan pihak berwenang.

US EPA (United States Environmental Protection Agency) berpendapat bahwa AQI 0 – 50 adalah yang terbaik. Sejak 31 Desember 2016, kualitas udara Beijing terus berada di sekitar angka 300, namun melejit ke angka 700 pada 3 Januari 2017 lalu.

Pejabat dari Kedutaan Besar AS untuk Tiongkok pada 6 Januari melakukan tes kualitas udara Beijing menemukan angka berada di 298. Ini masuk kriteria “kualitas udara buruk untuk kesehatan”. Namun pada hari yang sama, kualitas udara di New York menunjukkan AQI 43 yang masuk kriteria “baik untuk kesehatan.

Bagi kota-kota yang masuk siaga merah, mereka harus melakukan upaya untuk meredam memburuknya keadaan dengan misalnya, membatasi jumlah kendaraan yang berjalan, menghentikan pekerjaan pembangunan konstruksi dan produksi pabrik-pabrik. Pelajaran sekolah dihentikan. Warga diminta untuk bertahan dalam rumah dan menghindari olahraga di udara terbuka.

Dituturkan oleh seorang ibu bernama Li Maiji yang membawa anaknya berusia 5 tahun.

“Setiap pagi sejak awal 2017 ini saya menghadapi masalah bagaimana menghantar anak ke sekolah dengan aman?”

Kepada koresponden NBC ia mengatakan, “Tidak ada pilihan lain kecuali mengenakan masker, tetapi anak saya merasa frustasi karena hampir tidak bisa bernapas.”

Li mengeluh karena situasi polusi udara dari tahun ke tahun makin memburuk.

“Saya sudah tinggal selama 40 tahun di Beijing, jadi tidak mudah untuk begitu saja meninggalkan kota ini. meskipun saya sangat mendambakan langit biru yang mewarnai masa kanak-kanak saya kembali muncul. Anak saya ini hampir tidak pernah melihat langit yang berwarna biru.”

Warga Beijing bernama Xu Huiren kepada koresponden NBC mengatakan, “Saya pikir, kita terpaksa membersihkan udara dengan menggunakan paru-paru kita atau menunggu sampai angin bertiup, tragis bukan? Kabut polusi itu sudah berada di sini sejak Oktober tahun lalu, dan belum ada perbaikan yang nyata. Saya merasakan sepertinya tidak ada pejabat yang bertanggungjawab terhadap kondisi lingkungan hidup di negeri ini.”

Media corong pemerintah pun sampai berkomentar, “Kredibilitas pemerintah sedang digerogoti oleh kabut polusi yang terjadi semakin parah.”

Meskipun pemerintah Tiongkok sejak 3 tahun lalu sudah menggerakkan aksi menanggulangi kabut polusi, tetapi laporan Departemen Perlindungan Lingkungan Hidup Tiongkok menunjukkan bahwa masih ada 62 % kota di seluruh Tiongkok yang berada dalam penyeliputan kabut polusi.

Menghadapi kecemasan dan kemarahan warga, pemerintahan kota Beijing pada 6 Januari mengeluarkan pengumuman, akan mulai mengeluarkan dana buat semua sekolahan dari TK sampai Menengah Atas untuk memasang perangkat pembersih udara dalam setiap kelas. Padahal banyak warga yang sudah menginvestasi sampai ribuan Dollar AS untuk memasang alat tersebut dalam rumah mereka.

Jiang Yuwei mengatakan bahwa ia tidak bermaksud untuk meninggalkan Beijing karena pertimbangan pekerjaan, tetapi bila kondisi tidak membaik dan sudah memiliki anak, maka mau tak mau harus berpikir untuk pindah ke kota lain. (Sinatra/rmat)

Share

Video Popular