Pernapasan. Kita bernapas sepanjang waktu, namun kita tidak memperhatikannya? Ketika mengalami stres atau kesal, kita menyadari perubahan pernapasan kita, menjadi lebih cepat, menjadi lebih dangkal? Mengapa pernapasan menjadi begitu penting?

Bagaimana jika kita menghabiskan beberapa menit setiap hari secara sadar fokus pada pernapasan, apa yang membuatnya berbeda? Bagaimana jika kita belajar untuk bernapas dengan benar? Stres, kecemasan, nyeri, kemarahan menjadi lebih mudah dikelola dan bahkan mencair.

Kedengarannya mudah? “Hal tersulit adalah mengingatkannya. Dan itulah alasanya mengapa penting untuk berlatih kesadaran bernapas,” kata Dr. Danny Penman, ahli kesadaran terkemuka di Inggris dan penulis The Art of Breathing.

Penman mengatakan bahwa ketika Anda tahu seberapa besar manfaat kesadaran bernapas, maka hal itu akan muncul di benak Anda saat Anda membutuhkannya. Saksi hidup yaitu, Dr. Danny Penman sendiri mengatakan kesadaran bernapas telah menyelamatkan hidupnya – secara harfiah – setelah kecelakaan paralayang.

Dalam buku The Art of Breathing, Penman telah memberi intisari pesan kunci kesadaran menjadi pesan paling sederhana yang dapat dibaca dan dicerna.

Dengan fokus pada pernapasan, Penman mengatakan efeknya dapat menjadi mendalam dan cepat. Dalam hitungan beberapa kali kesadaran bernapas, beliau menjamin bahwa siapa pun dapat menjadi lebih tenang dan lebih mengendalikan keadaan emosionalnya.

Ketika saya membaca petunjuk sederhana yang diilustrasikan dengan indah di dalam buku berukuran kertas A5 tersebut, secara alami mengundang saya menemukan diri saya sambil menarik napas … dan membuang napas … dan, ya, saya menjadi lebih santai. Bahkan sampul buku bertekstur lembut ini membuat kita menjadi tetap tenang.

Seni yang hilang

Jadi, mengapa orang kehilangan seni kesadaran bernapas?

Dalam kebudayaan Tiongkok kuno, pelajar duduk bermeditasi, fokus dan mengatur pernapasan sebelum belajar. Pelajar tersebut merasakan hubungan antara tubuhya dengan Bumi. Kembali ke waktu 100 tahun yang lalu, sebagian besar orang di seluruh dunia bekerja dengan menggunakan tangan – di ladang atau membuat kerajinan – dan melakukan kontak dengan dunia secara fisik. Kemudian, karena pekerjaan menjadi lebih tergantung pada teknologi – di pabrik dan di kantor – orang menjadi lebih terpisah dari tubuh dan terpisah dari napasnya.

Namun, kita berpikir dengan tubuh kita sama banyaknya dengan otak kita, kata Penman.

Kini dunia menjadi serba cepat, kita akhirnya hidup dalam pikiran kita dan mengejar ekor kita sebagai konsekuensinya. Kita tidak lagi memerhatikan pernapasan sehingga menyebabkan kecemasan, stres, dan depresi.

Sebagian besar hidup kita dihabiskan dengan duduk sehingga memperburuk pernapasan dan berdampak buruk bagi kesehatan, sama halnya seperti merokok, menurut penelitian.

Berdiri. Fokus pada pernapasan. Seketika otot-otot di leher, bahu, dan dada menjadi rileks, dan sekarang dalam posisi untuk kembali ke posisi optimal. Kita mulai bernapas secara lebih alami, kata Penman.

Sebuah penelitian ilmiah sekarang ini mendukung manfaat hidup dengan penuh kesadaran. Kesadaran sama baiknya seperti obat atau konseling untuk mengobati bentuk depresi yang terburuk. Dewan Penelitian Medis dan NICE (The National Institute for Clinical Excellence) menganjurkan terapi kognitif berdasarkan kesadaran untuk terapi klinis depresi.

Sedikit pengetahuan

Bagaimana cara kerjanya?

Pertama, mari kita lihat mekanisme otak. Penman kagum bagaimana otak selalu beradaptasi dengan lingkungan.

“Jika Anda berada dalam lingkungan stres, otak akan melawan asasnya sendiri yaitu di mana seharusnya terjadi perubahan hubungan di antara sel saraf. Dengan tidak terjadi perubahan hubungan di antara sel saraf maka secara efektif akan menyebabkan Anda makin merasa stres: ‘Ini adalah apa yang Anda inginkan, jadi saya akan membantu Anda melakukannya!”

Hal yang sama terjadi pada nyeri fisik.

Kesadaran membalikkan proses tersebut. Itulah alasannya mengapa kesadaran itu sangat penting, kata Penman. Dengan melatih kesadaran selama 10-20 menit berulang kali dalam sehari lima kali seminggu, otak membalikkan proses tersebut dengan sendirinya supaya menjadi lebih tenang, lebih terkendali, pandangan yang lebih jelas, kurang cemas dan kurang stres. Dengan mengulang latihan kesadaran setiap hari selama berbulan-bulan, dan akhirnya kita akan menghabiskan sebagian besar waktu kita dengan lebih terkendali dan merasa lebih bahagia.

Menghirup udara segar

Dalam bukunya yang terdahulu yang laris terjual di seluruh dunia berjudul “Mindfulness: A practical guide to finding peace in a hectic world ” ditujukan untuk penderita masalah kesehatan mental – kecemasan, stres, dan depresi – dan dampaknya membuat banyak orang yang melakukan meditasi.

The Art of Breathing adalah untuk kelompok orang yang berbeda yang tidak pernah mempertimbangkan meditasi. Latihan sederhana dikombinasikan dengan observasi ringkas mengenai hubungan pikiran dengan tubuh digambarkan dengan menggunakan ruang dan grafis yang indah secara kreatif, mengundang pembaca untuk menerima hidup apa adanya dengan kasih sayang, rasa ingin tahu dan menyenangkan.

Cara meditasi pernapasan selama 10 menit

  • Duduk tegak dengan jarak 2-3 cm dari sandaran kursi yang tegak.
  • Letakkan tangan secara santai di pangkuan.
  • Tutup pejamkan mata.
  • Perhatikan suara di sekitar Anda, tanpa berusaha untuk mengubah apa pun.
  • Perhatikan perasaan dalam tubuh Anda. Rasakan kursi yang mendukung berat badan Anda, lantai di bawah kaki Anda, pakaian yang Anda kenakan.
  • Alihkan perhatian kepada pernapasan di mana sensasi pernapasan adalah yang terkuat, tidak mencoba untuk mengubah apa pun, hanya mengikuti irama alam.
  • Perhatikan otot dada dan bahu kontraksi dan relaksasi pada saat menarik napas dan membuang napas. Menyadari sesak atau nyeri, dan bagaimana perubahan tersebut seiringan dengan irama napas.
  • Menyadari kualitas napas – cepat atau lambat, dingin atau hangat, halus atau dangkal, dan lain-lain. Perhatikan saat Anda menarik napas dan jeda singkat sebelum Anda membuang napas.
  • Ikuti pernapasan, menarik napas dan membuang napas.
  • Ketika Anda memperhatikan bahwa pikiran Anda berkelana, memperhatikan pikiran atau perasaan, biarkan berlangsung apa adanya. Pahami pikiran Anda. Menyadari bahwa pikiran Anda berkelana adalah meditasi.
  • Alihkan perhatian kembali kepada pernapasan.
  • Ketika Anda siap mengakhiri meditasi ini, kembali sadar akan suara dan ruang di sekitar Anda.
  • Perlahan buka mata Anda.
  • Lakukan gerakan dan peregangan.
  • Perhatikan apa yang Anda rasakan.(Epochtimes/Rosemary Byfield/Vivi)

Share

Video Popular