Oleh: Chen Pokong

Pada 22 Desember 2016 lalu, Penerbit Perniagaan Jepang menerbitkan buku baru penulis, judul buku dalam bahasa Jepang: 常識ではあり得ない中國の裡側. Artinya adalah: Seluk-beluk Tiongkok yang tidak bisa sekedar dibaca dari wawasan internasional, atau, tidak bisa menggunakan prinsip umum global dalam menjelaskan situasi Tiongkok.

Ditilik dari isi buku, maka judul itu adalah, “Penjelasan tuntas Tiongkok yang disalah-pahami”, judul buku demikian ini dalam bahasa mandarin, mungkin lebih tepat.

Sampai sejauh mana dunia menyalah-pahami Republik Rakyat Tiongkok (RRT)?

Mengambil contoh krisis nuklir Korut. Dunia luar mengira, walaupun RRT dan Korut pernah beraliansi, namun Beijing tidak setuju dengan program nuklir Pyongyang, dan Beijing pun bergabung dalam barisan internasional dalam memberikan sanksi terhadap Korea Utara.

Situasi sebenarnya adalah, senjata nuklir Korea Utara, justru berasal dari Tiongkok. Beijing selain mengakui dengan diam, malah juga sangat mendukung pengembangan senjata nuklir Korea Utara tersebut. Perusahaan Hongxiang Tiongkok yang terungkap hanyalah salah satu perusahaan Tiongkok yang menopang program nuklir Korea Utara, mereka menyediakan secara langsung teknologi dan material nuklir untuk Pyongyang, tidak pernah terhenti.

Keahlian sempurna PKT adalah, diam-diam mendorong Korea Utara untuk menantang Amerika Serikat dan Korea Selatan, agar PKT bisa bertindak sebagai broker-sided, mendapat keuntungan dari sana sini. Jika tetap berharap Beijing mampu menyelesaikan krisis nuklir Korea Utara, itu sama saja dengan melakukan sesuatu yang mustahil.

Rezim komunis Tiongkok, mengibarkan bendera “Rakyat” dan telah mempesona banyak negara, terutama negara-negara Dunia Ketiga. Kata “Rakyat” disalahgunakan secara ektrim oleh PKT.

Nama Negara seperti Republik Rakyat Tiongkok, Pemerintahan Rakyat, Pelayan Rakyat, Tentara Rakyat, Pengadilan Rakyat, Kejaksaan Rakyat, Polisi Rakyat, Guru Rakyat, Komune Rakyat, Bank Rakyat, RMB, semuanya serba rakyat.

Papan nama “Rakyat” berada dimana-mana. Namun Rezim Beijing selalu mencari kesalahan rakyat bahkan ironisnya, selalu bermusuhan dengan rakyatnya sendiri.

Misalnya, di RRT, pejabat membunuh rakyat tidak dihukum mati, rakyat membunuh pejabat pasti dihukum mati. Hal ini sudah menjadi suatu dalil, dalil yang melampaui hukum. Sebelumnya ada Gu Kailai istri mantan anggota politbiro Bo Xilai yang terbukti membunuh pebisnis Inggris, tapi dia bebas dari hukuman mati.

Sebaliknya, Xia Junfeng seorang pedagang asongan telah membunuh satpol PP. Dia pun diganjar hukuman mati. Kasus terbaru, 5 orang polisi menganiaya dan membunuh Lei Yang, seorang warga berpendidikan tinggi, tapi mereka terbebas dari tuntutan. Petani Jia Jinglong membunuh pejabat desa korup dan dihukum mati.

Sebetulnya ini adalah pernyataan terbuka berulang kali oleh pemerintahan PKT bahwa “Kami, kelompok penguasa PKT, adalah kelompok korup, adalah kelompok kepentingan, adalah gangster, kami pasti menjaga dan melindungi kepentingan kami, tanpa sungkan. Hukum yang kami buat dan tetapkan adalah untuk melindungi para penguasa, dan menindas rakyat.”

Modernisasi Tiongkok yang cepat telah mempesona masyarakat dunia, gedung-gedung pencakar langit, jalan-jalan tol, kereta api berkecepatan tinggi, bandara mewah……… hingga tiba suatu saat, kabut debu polutan datang menyerbu, menutupi langit dan mentari,  gelombang demi gelombang kian parah, ini barulah kesaksian bahwa dibalik kebangkitan dan kekayaan RRT, betapa berat harga yang harus dibayar!

Namun PKT yang bangkit bak orang yang kaya mendadak, mengandalkan kekayaannya untuk bersuara lantang, menambah biaya dan persenjataan militer secara drastis, berekspansi di dua posisi Laut Tiongkok Selatan dan Laut Timur. Secara terbuka memamerkan kekuatan besar militernya, mengancam dan menekan Negara tetangga. Dengan sengaja menantang tatanan internasional dan mengancam dengan serius perdamaian dunia.

Pada 22 Desember 2016, Presiden Rusia Putin dan Presiden terpilih AS Trump berturut-turut mengeluarkan pernyataan, akan memperkuat strategi kekuatan nuklir masing-masing. Beberapa orang berpikir bahwa diantara Rusia dan Amerika Serikat akan memulai babak baru perlombaan senjata nuklir. Sebenarnya, ini adalah jawaban langsung dua negara Rusia dan Amerika Serikat terhadap gembar-gembor senjata nuklir PKT dua pekan sebelumnya.

Trump mengusulkan perdagangan yang adil dan menuntut RRT agar menaati peraturan serta menghentikan pemerasan terhadap AS. Namun PKT yang sudah terbiasa mengambil keuntungan atas kerugian Amerika Serikat ini, diluar dugaan memberi tanggapan dengan “Strategi memperluas senjata nuklir secara signifikan.”

Hasil dari gembar-gembor PKT adalah deklarasi nuklir Rusia dan Amerika. Deklarasi Rusia dan AS itu hanya berbeda beberapa jam saja, hal ini menunjukkan pemahaman bersama Rusia-AS dan ujung tombak diarahkan ke Beijing.

Putin mengatakan dengan gambling, “Kekuatan nuklir Rusia, lebih kuat daripada agresor potensial manapun.”

Agresor potensial yang disebutkan disini mutlak bukan mengacu pada Amerika atau Eropa, melainkan mengacu pada Tiongkok. Karena dalam tiga dekade terakhir, bersamaan dengan pengurangan dan pembekuan senjata nuklir dua negara Rusia dan Amerika, PKT tidak pernah berhenti mengembangkan dan meningkatkan kekuatan nuklirnya, serta diam-diam membantu Pakistan dan Korea Utara mengembangkan senjata nuklir mereka. Deklarasi Rusia dan Amerika ini menandakan kesabaran mereka terhadap PKT sudah sampai pada batas akhir.

Mulai dari geopolitik Asia-Pasifik yang memburuk, perlombaan senjata regional, perlombaan senjata nuklir, pecahnya perang dagang dan menyurutnya globalisasi, menarik kembali dunia pada situasi perang dingin atau bahkan mendorong dunia menuju PD ke III, ini semua adalah bencana akibat ulah Beijing.

Itu sebabnya, penulis mencoba untuk menjelaskan tentang seluk-beluk dan fakta tentang Tiongkok. Buku tersebut adalah salah satu usaha seperti ini. Buku ini mencakup aspek sejarah dan realita, meliputi sosial, budaya dan politik, melihat tembus mentalitas nasional dan penguasa. Misalnya, mengapa PKT dapat mempertahankan kediktatoran satu partai?

Itu adalah hasil mengakumulasi inti sari siasat bebal nan hitam dari para penguasa tiran Tiongkok selama ribuan tahun. Mengapa orang Tiongkok sekarang hanya menyembah uang, itu dikarenakan selain uang, mereka sudah tidak memiliki apa-apa lagi. (lin/whs/rmat)

Share

Video Popular