Penderita fibrilasi atrium yang melakukan yoga meningkatkan kualitas hidupnya dan mengalami penurunan denyut jantung dan tekanan darah, sebuah penelitian menemukan.

Perawat dan kandidat doktor Maria Wahlström mengatakan, “Banyak penderita fibrilasi atrium paroksismal tidak dapat menjalani kehidupan seperti yang diinginkannya-penderita menolak makan malam dengan teman-teman, nonton konser, dan jalan-jalan- karena khawatir akan terjadi serangan fibrilasi atrium.”

Fibrilasi atrium adalah jenis aritmia yang paling sering terjadi, di mana ada masalah irama detak jantung, yang disebabkan oleh aktivitas listrik yang tidak teratur di dalam jantung. Serangan fibrilasi atrium dapat disertai dengan dispnea (sesak napas), nyeri dada, dan pusing.

“Gejala fibrilasi atrium tidak menyenangkan, dan penderita merasa cemas, khawatir, dan stres akan terjadi serangan,” kata Wahlström. Banyak penderita menggunakan terapi komplementer (di luar terapi medis konvensional), sehingga perlu untuk mengetahui apakah penderita tersebut benar-benar terbantu.”

Fibrilasi atrium adalah kondisi jantung yang sangat umum, dan meskipun belum ada obatnya, ada berbagai cara pengengendalian untuk mengurangi gejala dan komplikasinya.

Penelitian, yang diterbitkan dalam European Journal of Nursing Kardiovaskular, termasuk 80 peserta yang secara acak dimasukkan ke dalam kelompok yoga atau kelompok kontrol yang tidak melakukan yoga. Kedua kelompok mendapat pengobatan standar dan perawatan medis lain yang dibutuhkan.

Peserta penelitian kelompok yoga disuruh melakukan yoga satu jam setiap minggu selama 12 minggu. Tekanan darah, denyut jantung, dan kualitas hidup semua peserta diukur.

Setelah 12 minggu, penderita yang melakukan yoga ditemukan memiliki denyut jantung yang lebih rendah, tekanan darah yang lebih rendah, dan kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan penderita yang tidak melakukan yoga, kata Wahlström.

“Pernapasan dalam menyeimbangkan sistem saraf parasimpatis dan sistem saraf simpatis, yang menyebabkan denyut jantung kurang variasi. Pernapasan dan gerakan yoga memberi efek menguntungkan terhadap tekanan darah,” katanya

Wahlström percaya yoga membantu penderita dengan memberi kemampuan kontrol diri atas gejala fibrilasi atrium, membantu penderita untuk mengatasi perasaan putus asa karena telah banyak kali mengalami serangan. “Penderita fibrilasi atrium dalam kelompok yoga mengatakan yoga adalah baik dalam melepaskan kekhawatirannya dan merasa berada di dalam dirinya untuk sementara waktu,” katanya.

Peneliti telah mulai melakukan penelitian yang lebih besar pada 140 penderita fibrilasi atrium. Penelitian ini juga akan mencakup kelompok yang mengambil bagian dalam relaksasi musik untuk membantu membedakan apakah relaksasi musik atau gerakan lembut dan pernapasan dalam yoga yang bermanfaat untuk penderita.

“Saya banyak bertemu dengan penderita fibrilasi atrium paroksismal yang sangat stres, ” kata Maria Wahlström.” Yoga harus ditawarkan sebagai terapi komplementer untuk membantu penderita supaya menjadi rileks. Hal ini juga dapat mengurangi kunjungan ke rumah sakit dengan cara menurunkan kecemasannya sampai serangan berhenti.” (Epochtimes/ Mohan Garikiparithi/Vivi)

Share

Video Popular