Fajar dan Harapan di Tengah Perubahan Besar 2017 (1)

337
Menatap 2017, dunia masih akan diliputi kekacauan yang berkelanjutan dari 2016 silam dan masih akan terjadi banyak perubahan besar. Yang menggembirakan adalah perubahan di AS, Tiongkok dan Eropa serta keajaiban yang didatangkan oleh Shenyun selama belasan tahun bagi pentas seni dunia semuanya menunjukkan satu trend yang sama, yakni kembali ke tradisi. (internet)

Menatap 2017, dunia masih akan diliputi kekacauan yang berkelanjutan dari 2016 silam dan masih akan terjadi banyak perubahan besar. Yang menggembirakan adalah perubahan di AS, Tiongkok dan Eropa serta keajaiban yang didatangkan oleh Shenyun selama belasan tahun bagi pentas seni dunia semuanya menunjukkan satu trend yang sama, yakni kembali ke tradisi.

Mengkilas balik tahun 2016 yang berada di tengah pergolakan dan kekacauan situasi dunia, ada tiga hal penting pada pentas politik internasional yang paling menarik perhatian.

Pertama, terpilihnya Trump sebagai presiden AS. Kedua, Xi Jinping menjadi inti poros kepemimpinan. Ketiga, keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Situasi perkembangan di Amerika Serikat, RRT, dan Eropa, akan menimbulkan efek dominan terhadap situasi dunia di masa mendatang.

Warga pemilih AS menggunakan hak suaranya untuk memilih Trump yang lebih memiliki norma tradisional untuk menjadi presiden. Pada pemilihan presiden dan parpol di banyak negara Eropa juga bermunculan tren kembali pada tradisi.

Hal ini mengisyaratkan, memasuki 2017,negara, parpol dan orang yang mempertahankan nilai tradisi dan moral, akan lebih mendapat berkat dan perhatian dari Yang Maha Kuasa. Para pemimpin maupun parpol yang memilih untuk mempertahankan konsepsi modern yang terdistorsi akan perlahan ditinggalkan oleh warga.

Devine Performing Arts/ DPA Shen Yun AS adalah sebuah sanggar seni pertunjukan yang dibentuk di Kota New York. Menampilkan seni tari klasik Tionghoa, serta seni tari etnik dan tari rakyat Tionghoa, tarian ditampilkan berkisah, dengan diiringi orkestra klasik serta penampilan solo.

DPA selama belasan tahun ini bermisi membangkitkan kembali kebudayaan tradisional Tiongkok akan memulai pertunjukan keliling dunianya pada 2017 ini. Sejak show perdananya pada 22 Desember lalu di AS, di setiap kali pertunjukannya selalu disambut hangat dan seluruh karcis terjual habis.

Menatap 2017, dunia masih akan diliputi kekacauan yang berkelanjutan dari 2016 silam, dan masih akan terjadi banyak perubahan besar. Hal yang menggembirakan adalah, perubahan di Amerika, Tiongkok dan Eropa serta keajaiban yang didatangkan oleh DPA Shenyun selama belasan tahun bagi pentas seni dunia semuanya menunjukkan satu trend yang sama, yakni kembali ke tradisi.

Xi Jinping Mendorong Kebudayaan Tradisional

Kebudayaan tradisional Tionghoa yang mengandung unsur kepercayaan Konfusius, Buddha dan juga Taoisme mencakup segala kandungan makna penghormatan terhadap Tuhan, menyayangi setiap mahluk hidup, bermoral berperilaku baik.

Inilah makna dan kekuatan kebudayaan yang memberikan kebesaran dalam makna sebenarnya bagi Tiongkok, sehingga urat nadi bangsa Tiongkok bertahan hingga lima ribu tahun.

Dalam sejarah Tiongkok, meskipun berkali-kali mengalami serangan dari suku/bangsa lain, tapi bangsa Tionghoa dan negeri Tiongkok tidak musnah. Sebaliknya, para penyusup justru berasimilasi dengan kebudayaan Tionghoa. Menilik kembali sejarah Barat, kekuatan militer dan ekonomi dari Alexander Agung, imperium Caesar sampai kekuatan NAZI Jerman pernah mencapai masa keemasan, namun kekaisaran mereka justru runtuh satu persatu dan tercerai berai.

Setelah rezim PKT menyusup ke Tiongkok, yang dipuja sebagai leluhurnya justru Marx dan Lenin. Anggota partai komunis itu beranggapan, setelah meninggal dunia mereka “akan bertemu dengan Marx”, dan bukan bertemu dengan “para leluhur” Tiongkok.

Aksi “de-tradisi-isasi” yang gencar dilakukan saat Revolusi Kebudayaan telah menyebabkan pengrusakan terparah sepanjang sejarah Tiongkok. Mulai dari peninggalan bersejarah, situs sejarah sampai kitab dan buku budaya kuno, begitu berambisinya PKT dalam membakar habis dan memusnahkan kebudayaan tradisional Tiongkok.

Dan setelah Xi Jinping menjabat, pada banyak kesempatan Xi menyatakan “tidak akan meninggalkan tradisi dan kebudayaan tradisional bangsa Tiongkok yang brilian”.

Wakil ketua Asosiasi Reformasi Sistem Administratif Tiongkok bernama Wang Yukai pernah mengatakan, dalam kebudayaan tradisional Tiongkok terutama dalam pemikiran filsuf Konfusius, Xi Jinping terus menemukan elemen kebajikan, kebenaran, tata susila, kecerdasan, dan keterandalan, sehingga meningkatkan kemampuannya dalam hal menangani negeri Tiongkok.

Xi Jinping sendiri pernah menyatakan, sejak kecil ia sangat menyanjung tokoh pahlawan seperti Yue Fei, Qi Jiguang dan Feng Zicai.

Yue Fei  adalah Jendral terkenal dari Dinasti Song. Ia adalah jendral utama dalam pengembalian daerah yang direbut Dinasti Jin dibawah Kaisar Song Gaozong.

Qi Jiguang adalah Jendral dan pahlawan nasional Tiongkok semasa Dinasti Ming. Dia terkenal karena kepahlawanannya melawan bajak laut Jepang di pesisir timur Tiongkok, juga karena jasanya memperkuat pertahanan Tembok Besar.

Feng Zicai (1818-1903) adalah Jendral dinasti Qing ikut berjasa dalam penumpasan pemberontakan Taiping dan memimpin pengusiran tentara agresor prancis dari wilayah Vietnam utara dan provinsi Guangxi.

Setelah Xi Jinping berhasil menjadi inti poros kekuatan pada 2016 lalu, bisa diperkirakan pada 2017 ini kebudayaan tradisional akan menimbulkan pengaruh yang semakin besar terhadap pemerintahan Xi.

Tapi perlu digarisbawahi, rezim Partai Komunis Tiongkok/PKT berikut ideologinya yang atheis, sama sekali sangat berseberangan dengan kebudayaan tradisional Tiongkok. Oleh karena itu, di bawah sistem pemerintahan PKT ini pada akhirnya tidak akan bisa sepenuhnya kembali pada kebudayaan tradisional. Dengan situasi seperti ini, realita inilah yang bakal dihadapi pemerintahan Xi Jinping selama setahun ke depan. (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG