Fajar dan Harapan di Tengah Perubahan Besar 2017 (2)

235
Belum genap 9 bulan setelah pertemuan pentolan G-5 pada 25 April 2016 di Hannover Jerman, dari kiri ke kanan: David Cameron (Inggris) sudah lengser, Barack Obama (AS) menghitung hari, tinggal Merkel (Jerman) seorang yang masih menjabat, Hollande (Prancis) dan Matteo Renzi (Italia) akan lengser. (Guido Bergmann/Getty Images)

Pemerintahan Baru AS Kembali ke Tradisi

“Orang baru politik” Trump terpilih sebagai presiden AS, telah membuat keajaiban. Selama pilpres media massa arus utama AS secara berat sebelah melakukan pemberitaan yang menimbulkan antipasti masyarakat terhadapnya.

Tapi, kini, Trump kian dapat diterima dan diakui semakin banyak warga AS. Sebenarnya, Trump sendiri tidak berubah, selain situasi di luar yang berubah, juga serangkaian tindakan Trump membuat masyarakat melihat harapan masa depan Amerika.

Keluarga Trump berikut perjalanan hidupnya relatif tradisional. Sebagai seorang pengusaha sukses, kemampuan pengendalian diri Trump membuatnya jauh dari alkohol maupun rokok, dan selalu menerapkan strategi cermat di meja perundingan.

Karena pengaruhnya, didikan di dalam keluarga Trump terhadap anak-anaknya juga cenderung konservatif, anak-anaknya di dunia bisnis pada meraih keberhasilan dan nyaris tidak pernah terjerat rumor atau gosip seperti generasi penerus para konglomerat pada umumnya.

Yang lebih penting lagi adalah, pemerintahan baru yang akan dijalankan oleh Trump akan membuat Amerika secara menyeluruh kembali ke tradisi.

Trump pernah mengajukan sebuah daftar nama yang terdiri dari 11 orang calon hakim dari kaum konservatif. Daftar nama ini jelas menunjukkan konsep politik konservatif yang berprinsip konstitusi yang didukung Trump, membuat Amerika kembali menjadi negara yang memisahkan trilogi kekuasaan yang sebenarnya, yakni negara demokrasi yang berpusat pada Tuhan seperti yang diprakarsai oleh para leluhur pendahulu.

Trump menjamin, begitu menjabat dirinya akan menghapus “Johansen Amendment”, yang membatasi seorang pendeta berkhotbah dan terlibat politik yang mulai diberlakukan sejak 1954 yang secara fundamental membebaskan pengaruh agama Kristen pada pentas politik AS. Jelas ini akan membantu Amerika benar-benar kembali pada prinsip “In God We Trust”.

Trump akan menghapus banyak perintah administratif yang ditandatangani Obama, terutama “toilet order (kaum LGBT diberi kebebasan untuk memilih bilik WC umum sesuai jenis kelamin yang mereka yakini) ” yang paling kontroversial, bekerjasama dengan Dewan Kongres akan menghapus “asuransi kesehatan Obama (Obamacare)” dan melakukan mekanisme kompetisi untuk menekan biaya pengobatan.

Bangkitnya Kekuatan Tradisional Eropa

Referendum Inggris 2016 telah menghasilkan Brexit dan membuka lembaran baru bangkitnya kekuatan tradisional di Eropa. Seiring dengan pemilu yang akan digelar di banyak negara Eropa pada 2017, kekuatan tradisional Eropa akan menjadi pemeran utama di pentas politik, tren kebalikan dari globalisasi di Eropa akan semakin cepat.

Calon PM Jerman terpilih yang mungkin akan mengalami perubahan dan akan mengguncang pondasi politik proses integrasi satu Eropa. Dan jika Nona Le Pen terpilih sebagai Presiden Prancis, maka Prancis mungkin juga akan keluar dari Zona Euro dan juga NATO.

Referendum Italia akan menguntungkan bagi “Gerakan Lima Bintang” yang digelar oleh partai akar rumput Movimento 5 Stelle yang anti-Euro dan anti Establishment. Pilpres Austria mungkin akan menjadi kemenangan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi kaum sayap kanan penganut paham populisme Uni Eropa.

Pendek kata, bangkitnya kekuatan tradisional Eropa akan meredakan krisis pengungsi dan ekonomi jangka panjang di Eropa secara menyeluruh. Pada  saat yang sama juga mengisyaratkan, ideology komunisme dan model ekonominya yang telah diterapkan lebih dari seratus tahun sedang berakhir di Eropa. Masyarakat melihat pada 2017, Eropa akan menapak jalan kembali ke tradisi lama.

Nilai Tradisi Bergulir Abadi

Tradisi adalah sejarah umat manusia yang mewarisi pemikiran, moralitas, adat, seni, sistem dan lain-lain. Sejak zaman dulu kala, kelanjutan sistem politik ekonomi apa pun dibutuhkan tradisi dan kekuatan moral dari dalam untuk menopangnya. Tradisi dan budaya tidak terpisahkan.

Di dalam sistem budaya umat manusia, norma tertinggi bersumber dari eksisnya sebuah kekuatan tertinggi yang melampaui keduniawian. Di tengah masyarakat kuno, yang mengemban peran ini adalah sang Pencipta, pada masyarakat modern, ini adalah tanggung jawab bersama Tuhan dan hukum.

Kebudayaan tradisional Tionghoa adalah kebudayaan warisan dewata. Budaya ini dibangun di atas pondasi keyakinan terhadap Konfusius, Buddha dan Taoisme, dengan agama kepercayaan sebagai hal pokok dan moralitas sebagai kehormatan, yang telah membangun suatu sistem moral yang sangat stabil bagi masyarakat Tiongkok, yang merupakan pondasi bagi eksistensi, ketentraman dan keharmonisan masyarakat. Kebudayaan tradisional yang tercermin pada setiap kehidupan individu di masyarakat, adalah meyakini kebajikan, kebenaran, tata susila, kebijaksanaan, keterandalan, kelembutan, hati nurani, respek, cermat, toleransi, serta mempercayai langit dan manusia adalah satu, setiap kebaikan dan kejahatan ada balasannya.

Arus utama pada kebudayaan konvensional Barat dibangun di atas pondasi kepercayaan terhadap Tuhan. Di dalam hukum Barat terdapat unsur kebebasan, demokrasi, rule of law, kesetaraan, HAM, pemisahan kekuasaan dan lain-lain yang bersumber dari Alkitab. Tradisi Barat mengutamakan moralitas dan etika manusia, penuh kasih dan pengampunan, kerendahan hati dan lain-lain.

Namun, memasuki masyarakat modern ini, terutama pasca PD-II di abad ke-20, mulai dari Timur ke Barat, dari Tiongkok hingga AS dan Eropa, seluruh dunia telah meninggalkan kebudayaan tradisional dan akhlak, kekacauan kerap terjadi dimana-mana. Umat manusia sedang berpacu di atas jalan menuju kepunahannya sendiri. (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG