JAKARTA – Kekerasan berawal dari faktor senioritas kembali terjadi di sekolah kedinasan milik pemerintah. Kekerasan dan pemukulan kali ini terjadi di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) di Marunda, Jakarta Utara.  Sejumlah anggota Komisi V DPR RI langsung mengunjungi sekolah di bawah naungan Badan Diklat, Kementerian Perhubungan, Kamis (12/1/2017).

Ketua Komisi V DPR RI, Fary Djemy Francis mengatakan merekomendasikan tiga langkah kepada STIP pasca terulangnya siswa tewas karena dianiaya. Tiga rekomendasi dari Komisi V DPR RI adalah Pertama, sekolah ditutup karena kekerasan terus terulang apalagi DPR sudah memberikan peringatan kepada pihak sekolah sejak 2014 lalu.

Rekomendasi  kedua, kata Djemy, sekolah ditutup sementara para taruna dititipkan ke sekolah taruna terdekat. Ketiga, sekolah masih dibolehkan untuk beroperasi namun kekerasan diminta untuk tak terulang kembali.

“Yang ketiga boleh tetap dioperasikan dengan catatan pengawasan dan pembinaan dilakukan dengan ketat,” katanya.

Siswa STIP Amirullah Adityas Putra (18) tewas dianiaya oleh senior Selasa (10/1/2017) malam. Korban telah diautopsi di RS Polri, Jakarta Timur. Keterangan Kapolres Jakarta Utara, Kombes Awal Chairuddin mengatakan bahwa bibir sebelah dalam bagian bawah korban terdapat luka lecet.

Kondisi lainnya yang didapatkan hasil autopsi kepolisian adalah  ditemukan organ dalam korban tanda-tanda mati lemas. Autopsi polisi juga menunjukkan bahwa terdapat bintik darah dan resapan darah pada paru-paru, jantung, dan kelenjar liur perut korban.

Berbagai sumber merekam jejak kekerasan di sekolah kedinasan terutama di STIP Marunda bukan pertama kalinya. Kejadian pada 6 April 2015, seorang Taruna Tingkat II, Daniel Roberto Tampubulon dianiaya senior dan dipaksa makan sambal. Korban mengalami nyeri ulu hati dan luka lebam.

Kekerasan pada 25 April 2014 terjadi terhadap Dimas Dikita Handoko hingga tewas di rumah kost. Kekerasan terhadap Dimas dan bersama sejumlah rekannya dikarenakan korban dinilai tak menghormati terhadap senior.

Peristiwa pada 12 Mei 2008, seorang Taruna, Agung Bastian Gultom meninggal secara tak wajar. Walaupun sudah dimakamkan, keluarga juga curiga. Selanjutnya, autopsi polisi menunjukkan adanya bekas penganiayaan terhadap korban. (asr)

Share

Video Popular