Barat Merangkul Budaya Tionghoa (1)

343
Beberapa tahun terakhir, pemikiran Lao Zi juga telah beredar sampai ke masyarakat Barat, meskipun lebih sulit dipahami, tapi banyak warga Barat yang mencoba mengaplikasikan sejumlah filsafat Tiongkok kuno untuk meningkatkan kualitas diri. Lukisan Zhang Lu dari Dinasti Ming “Lukisan Lao Zi Menunggang Kerbau”. (internet)

Oleh: Zhang Ting

Kebudayaan Tiongkok adalah suatu sistem ideologi dan budaya yang berfilsafat sangat luas dan mendalam. Kebudayaan tradisional yang berlandaskan pada ajaran Konfusius (Khonghucu), Buddha, dan Taoisme itu tidak hanya berpengaruh sangat dalam terhadap kehidupan masyarakat Tiongkok kuno, juga memiliki manfaat luar biasa bagi masyarakat modern.

Beberapa tahun terakhir kebudayaan Tiongkok tersebar kian luas ke luar negeri, bahkan menjadi pedoman bagi masyarakat asing dalam kehidupan dan pekerjaan mereka.

Aplikasi Konsep “Hampa Niat” Oleh Masyarakat Barat

Menurut pemberitaan di situs “Quartz”, seorang penulis sekaligus pengacara AS bernama Ephrat Livni acap kali menggunakan konsep “Wu Wei, 無為, hampa niat, “melakukan tanpa melakukan.”

Menghasilkan suatu pencapaian namun meraihnya bagaikan air mengalir, tanpa kengototan, filsuf Lao Zi (dibaca: Lao Tse) yang tercatat di dalam kitabnya yang berjudul “Tao Te Ching” (The Morality Bible, Red.) untuk menyelesaikan masalah pelik dalam pekerjaannya.

Pemikiran “Wu Wei” menekankan mengikuti siklus alam semesta untuk mencapai taraf “hampa niat menjadi hampa tidak berniat.” Pemahaman Livni adalah manusia tidak seharusnya “memaksakan tindakan,” setelah mencapai kondisi “hampa niat”, jika ditambah dengan tindakan, maka tindakan itu adalah alami dan penuh energi, justru malah dapat membuat seseorang meraih hasil yang diinginkan.

Livni menggunakan pengalaman pribadinya sendiri, menjelaskan bagaimana dia merelakan tidak memaksakan, setelah kondisi pikirannya mencapai “Wu Wei” itu, dirasakan segala sesuatu di sekelilingnya mulai berubah.

Menurut Livni, di luar negeri tidak ada terjemahan bahasa Inggris yang tepat untuk kata “Wu Wei” ini. Namun filsuf Alan Watts yakin, konsep “Wu Wei” sangat penting bagi manusia untuk bisa hidup dengan baik. namun di tengah budaya masyarakat modern yang berorientasi “tindakan”, konsep “Wu Wei” ini terdengar seolah sangat bodoh.

Livni mengatakan, dirinya sendiri sempat menentang konsep “Wu Wei” ini. Dia berkata, “Meskipun ‘ketelatenan’ adalah sifat yang baik, tapi itu jelas bukan kemahiran saya. Saya lebih suka berusaha meraih prestasi.”

Tapi beberapa tahun terakhir Livni mulai menyadari, gaya hidupnya itu sepertinya tidak meningkatkan kualitas hidupnya. Pada  2012 Livni adalah seorang pengacara tanpa profesi, di pagi hari dia bekerja serabutan, di malam hari dia bermain seni jalanan.

Dia khawatir akan masa depannya, bahkan dirinya sempat mempertimbangkan untuk mengambil kuliah kedokteran. Namun karena hutang sebelumnya ketika kuliah di fakultas hukum, ditambah lagi dirinya tidak tahan melihat darah, dia memilih tidak melanjutkan studi.

Kemudian Livni berhenti memaksa diri, dan percaya bahwa segala sesuatunya akan berubah. Dengan konsep di dalam “Tao Te Ching” dia berusaha untuk tidak memikirkan masa depan. Dia berkata, “Saya mulai menyadari ‘hampa niat / Wu Wei’ mungkin adalah suatu pendorong yang sangat kuat. Mempertahankan ‘diam’ membutuhkan keberanian dan keyakinan, dan harus percaya bahwa di alam semesta ini yakin ada suatu tempat yang merupakan porsi bagi diri kita.”

Dengan konsep ‘Wu Wei’ ini, Livni berkata, “Saya telah mengumpulkan energi, tahu bahwa segala sesuatu akan berubah. Begitu berubah, speednya akan sangat cepat.”

Livni menyatakan, dia dengan segera direkrut oleh perusahaan Google sebagai pengacara. Selain itu, dia juga berbagi pengalamannya beberapa kali menggunakan konsep “Wu Wei” untuk menyelesaikan masalah.

Pemahaman Livni adalah  yang ditampilkan konsep ‘Wu Wei’ itu kepada kita adalah, ketika kita berhenti memaksakan diri bertindak, dan belajar mengamati dengan tenang, kita akan bisa melihat energi dari luar secara lebih jelas, kemudian bisa mengambil tindakan yang lebih bijak.

Jika bertindak terburu-buru, maka setiap langkah pasti berpotensi menimbulkan kesalahan, karena yang membuat keputusan adalah perasaan dan ego, dan bukan akal sehat yang mendorong kita. (Epoch Times/sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG