Oleh: DR. Frank Tian, Xie

Menjelang 2017, di pertengahan tahun 2016 terjadi kasus Lei Yang di Tiongkok. Di tengah gejolak ketidakpuasan dan opini publik yang menggelora, kasus ini selesai dengan speed yang luar biasa cepat dan mencengangkan.

Kasus ini sangat mengejutkan, tapi juga patut direnungkan. Apalagi kasus tersebut masih jauh dari selesai. Ganti rugi untuk kasus Lei Yang sebesar RMB 12 juta (23 miliar rupiah), sangat mungkin menjadi awal atau lagu pembukaan dari ganti rugi sebesar RMB 960 trilyun (1.854.435 triliun rupiah) yang terpaksa harus dibayar oleh Partai Komunis Tiongkok/PKT. Drama yang akan memicu perubahan besar di Tiongkok sedang bergulir.

Mendadak berbalik arahnya kasus Lei Yang,  keluarga Lei Yang yang pernah menyatakan bersikukuh mempertahankan tuntutannya, tiba-tiba memutuskan berdamai dengan pihak pejabat, dan telah melepaskan haknya untuk menuntut. Lei Yang  adalah mahasiswa S-2 institut Ekologi People’s University Beijing, usia 29, anggota PKT, kasus salah tangkap yang kemudian berakhir dengan kematian di hari itu juga lantaran penganiayaan berat oleh polisi.

Segala kuasa yang dilimpahkan kepada para pengacara mereka pun dicabut, serta bungkam terhadap kasus Lei Yang. Ganti rugi dijanjikan oleh pemerintah kepada keluarga Lei Yang tidak kurang dari angka RMB 12 juta yang pernah dijanjikan sebelumnya. Di saat yang sama, polisi Beijing mengumumkan sanksi yang telah dijatuhkan kepada lima orang polisi yang terlibat kasus tersebut.

Setelah kejadian, para teman sealumni Lei Yang dari People’s University sempat empat kali menyatakan akan bertahan sampai akhir. Sebelum kasus itu berdamai, sedikitnya ada dua situs internet mengumpulkan tanda tangan petisi yang menyatakan protes terhadap keputusan pada kasus Lei Yang ini, di antaranya People’s University, Beijing University, Qing Hua University, Fu Tan University, dan lebih dari 160 perguruan tinggi lainnya.

Menurut statistik, yang terlibat dalam petisi ini mencapai lebih dari 2.400 orang. Tanda tangan para mahasiswa ditambah dengan tekanan opini dari dalam dan luar negeri sepertinya mengungkit ingatan rezim Beijing akan peristiwa Lapangan Tiananmen, ditambah lagi dengan tekanan dari atas, sehingga pemerintah setempat berusaha secepat mungkin meredam gejolak massa.

Hal yang terpicu oleh kasus Lei Yang ini, adalah kekuatan rakyat, kekuatan kebenaran, kekuatan masyarakat yang diam dan senyap, masyarakat mulai tidak tunduk, tidak lagi bungkam, kekuatan protes yang tidak bersuara inilah yang paling membuat PKT ketakutan.

Begitu takutnya pemerintah sehingga mengeluarkan dana sebesar RMB 12 juta (23 miliar rupiah) sebagai ganti rugi, mencoba menggunakan uang para wajib pajak untuk meredam suara kerabat korban, menggunakan ganti rugi dari negara untuk meredakan kemarahan massa.

Seakan warga Tiongkok seketika itu juga menjadi berharga, dulu ganti rugi pemerintah tidak pernah sebesar nilai ini. Suka tidak suka, rela tidak rela, ini adalah preseden, untuk kali pertama PKT mengalami kasus seperti ini, begitu ada pengecualian ini, ke depannya berbagai kasus ketidakadilan, kasus yang salah vonis dan lain-lain akan terus mengikuti silih berganti.

Hal yang patut dipertanyakan oleh masyarakat adalah, apakah ini merupakan “ganti rugi atas kerusakan” ataukah “kompensasi atas kerugian?”

Jika dikatakan ganti rugi atas kerusakan, maka berarti pihak yang bertanggung jawab memberikan ganti rugi telah dengan sengaja atau tanpa sengaja mengakibatkan kerusakan sehingga harus membayar ganti rugi. Jika dikatakan kompensasi atas kerugian, pihak yang bertanggung jawab membayar kompensasi tidak dengan sengaja melakukan atau mengakibatkan kerugian, namun memberikan kompensasi berlandaskan pada tanggung jawab.

Jika masyarakat tidak mengerti definisi dari “ganti rugi atas kerusakan” atau “kompensasi”, maka kita tidak akan tahu apakah pemerintah mengakui dengan sengaja mengakibatkan kerusakan atau tidak sengaja. Pihak pemerintah tidak menyatakan secara jelas, tapi di sisi lain memberi sanksi terhadap tertuduh personel polisi, yang berarti telah mengakui bahwa polisi telah dengan sengaja melukai.  (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular