Kapan kita membutuhkan kearifan ? Ketika menemui masalah. Jika hidup ini tidak ada masalah , maka kita tak ubahnya seperti binatang. Binatang tidak ada masalah, mereka hanya tahunya makan dan tidur, jika kita tidak ada tantangan apa pun, sepanjang hari tahunya hanya makan dan tidur, maka kita akan kehilangan potensi aktivitas dan semangat untuk maju, menjadi semakin lamban .

Orang-orang kerap mengeluh, “Mengapa ada begitu banyak masalah dan kesulitan yang menghimpit saya? Jawabannya adalah, Anda tidak melihat sesuatu dari perspektif yang tepat. Ya, Anda memang bermasalah, tetapi Anda melihatnya menjadi sesuatu yang buruk, sehingga inilah yang membuat Anda menjadi tersiksa.

Harap dipahami, segala ssuatu yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari itu untuk meningkatkan Anda. Apa pun kesulitan yang Anda alami atau cobaan yang Anda jalani, semua itu adalah untuk tujuan ini- Meningkatkan kemampuan dan kecerdasan Anda. Hanya saja tidak dipahami oleh orang-orang pada umummnya.

Hal-hal yang baik banyak “cobaannya” (rintangan)

Berikut mari kita simak bersama cerita ini :

Seorang mahasiswa jurusan seni musik menuju ke ruang latihan musik. Di atas piano, ada sebuah partitur terbaru yang super sulit.

Tiga bulan berlalu! Sejak bimbingan baru dengan profesor, ia merasa percaya dirinya dalam bermain piano sepertinya mencapai titik terendah, dan merasa sudah berupaya semaksimalnya.

Profesor pembimbing adalah seorang pianis yang sangat terkenal. Pada hari pertama kuliah, sang profesor memberikan sebuah partitur baru. “Cobalah!” Ujarnya. Tingkat kesulitan dalam membaca notasi balok benar-benar tinggi, sang siswa tampak kaku memainkan tuts-tuts piano, selalu salah dan salah. “Masih belum lancar, pulang nanti latihan lagi!” pesan profesor padanya saat usai kuliah.

Seminggu sudah sang siswa berlatih piano, dan ketika siap ditest profesor pada minggu kedua saat kuliah, ia tak menyangka sang profesor kembali memberinya sebuah partitur yang lebih tinggi tingkat kesulitannya, “Cobalah!” Sementara mata kuliah minggu lalu, sang profesor tidak menyinggungnya sama sekali. Mendapat partitur yang baru, lagi-lagi membuat sang siswa berkeluh kesah dengan memainkan piano yang lebih sulit lagi tingkatannya.

Minggu ketiga, sang siswa kembali menerima partitur yang lebih sulit lagi, dan terus berlanjut. Sang siswa selalu dikalahkan oleh partitur yang baru setiap kali kuliah, kemudian membawanya pulang untuk latihan, baru kembali lagi ke ruang kuliah. Kembali dihadapkan dengan partitur yang dua kali lebih sulit dari sebelumnya, tapi selalu gagal mencapai kemajuan, sedikitpun tidak merasakan kematangan/kemahiran bermain piano dari latihannya minggu lalu, sang siswa pun semakin gelisah, kecewa dan putus asa.

Saat profesor masuk ke ruang latihan. Sang siswa yang sudah tidak tahan lagi, kemudian mempertanyakan kepada profesor mengapa selama tiga bulan ini selalu menyiksa dengan keraguannya sendiri.

Profesor hanya diam seribu bahasa sambil mengeluarkan sebuah partitur pertamanya yang paling awal, dan diserahkan kepada siswa. “Mainkanlah!” dengan pandangan yang pasti sambil menatap siswa itu.

Hasilnya sungguh menakjubkan, bahkan siswanya sendiri juga sangat terkejut, ia tak menyangka mampu memainkan musik piano itu dengan begitu indah, begitu memukau ! Setelah itu, sang profesor menyuruh siswa itu mencoba not balok selanjutnya, dan sang siswa ternyata masih mampu memainkannya dengan standar yang tinggi. Usai memainkan instrumen musiknya, siswa itu terpana sambil menatap gurunya tanpa mampu mengucapkan sepatah kata.

“Jika saya tidak memberikan tekanan dan ujian padamu, mungkin kamu masih berlatih not balok yang paling awal, dan mustahil bisa mencapai taraf sedemikian rupa seperti sekarang,” kata profesor dengan nada lembut.

Kesulitan bukan kegagalan dalam perjalanan hidup manusia, tapi tabungan hidup.

Coba pikirkan, apa yang menentukan jarak dari batu yang dilepaskan dari ketapel itu ? Jawabannya : Tergantung seberapa jauh karet yang kamu tarik dari ketapelmu itu, bukankah begitu ?

Saya juga sering ditanya sama teman-teman : “Mengapa memberikan saya begitu banyak mata kuliah ? Mengapa harus saya yang melakukan tugas itu ?” Jawaban saya sederhana : “Karena kamu adalah pemetik/penerima manfaat dari hasil pelajaran-pelajaran (latihan) dan tugas itu.”

Mengutip kata-kata Marcus Aurelius (Kaisar Romawi yang memerintah pada 161 -180 Masehi) : “Ketika Anda menanggung beban yang berat, Anda harus tahu bahwa ini adalah sesuatu yang baik bagimu. Anda seharusnya lebih menghargai cobaan dari beban yang berat itu untuk mendapatkan nutrisi (hikmah ) dari cobaan itu, ibarat perut yang menyerap nutrisi dari makanan yang dibutuhkan untuk menguatkan otot, atau menambahkan kayu bakar ke dalam tumpukan api, yang akan membuat api itu semakin membara.”

Anda tidak akan menemui masalah yang tidak akan sanggup Anda tangani, setiap masalah yang Anda hadapi adalah supaya Anda bisa menyadari dengan kemampuan yang Anda miliki, dan menyadari kemungkinan yang lebih besar dalam perjalanan hidup Anda, dengan demikian Anda baru bisa mengembangkan bakat dan potensi yang lebih besar. Demikianlah sumber pengalaman yang Anda dapatkan.

Sudah pahamkah ? Yang dimaksud dengan hal-hal baik itu banyak ujiannya (rintangan).”

Tidak ada kesulitan atau penderitaan yang dijalani dengan sia-sia di dunia.

Jika nasib Anda ditakdirkan tersakiti, hal itu supaya Anda menjadi kuat/tegar/tabah ;

Jika nasib Anda ditakdirkan tertipu, itu adalah supaya Anda menjadi lebih pintar ;

Jika nasib Anda ditakdirkan bertemu dengan musuh, hal itu supaya Anda bisa melampaui dirimu sendiri ;

Jika Anda ditakdirkan jatuh, hal itu supaya Anda mampu bangkit berdiri lagi dengan lebih stabil ;

Jika Anda ditakdirkan tersesat, hal itu supaya Anda bisa menemukan jalan yang baru ;

Jika Anda menggunakan perspektif atau sudut pandang yang lebih luas, Anda akan mengerti apa yang terjadi pada Anda sekarang adalah untuk meningkatkan kecerdasan Anda, adalah persiapan untuk mencapai kesuksesan yang lebih besar. Jika bukan karena terjadi hal-hal yang terjadi di masa lalu itu, maka nasib Anda tidak akan seperti ini sekarang. (Epochtimes / He Quan-feng/Jhn)

Share

Video Popular