Pria dengan sindrom metabolik berisiko lebih tinggi untuk menderita pembesaran prostat dan kanker prostat.

Data baru berasal dari sebuah penelitian selama lima tahun diterbitkan dalam jurnal “Urologi” pada bulan Oktober 2016 lalu, yang meneliti 1.088 pria dewasa yang berusia di atas 40 tahun. Peneliti menemukan bahwa pria obesitas dan pria yang baru saja didiagnosis menderita sindrom metabolik memiliki prostat yang tumbuh lebih cepat dari biasanya.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya mengenai masalah ini dan memperjelas masalah daripada penelitian sebelumnya, bahwa pria dengan profil berat badan yang tidak ideal atau menderita sindrom metabolik berisiko lebih tinggi untuk menderita pembesaran prostat.

Pembesaran prostat, juga dikenal sebagai hiperplasia prostat jinak, adalah sangat sering terjadi pada pria yang berusia lebih tua. Hal ini terjadi ketika kelenjar prostat tumbuh terlalu besar dan menekan uretra, yang merupakan tabung yang melalui pusat kelenjar prostat yang membawa urin dan air mani keluar. Seiringan dengan waktu, prostat membesar sehingga menghambat aliran urin.

Hiperplasia prostat jinak tidak menyebabkan kanker prostat, tetapi dua kondisi ini dapat hidup berdampingan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa obesitas serta sindrom metabolik terkait dengan peradangan. Pembesaran prostat juga dirangsang oleh peradangan dan stres oksidatif, serta kadar gula darah yang tinggi. Peradangan juga telah terlibat sebagai stimulus utama untuk kanker prostat.

Temuan penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya. Penelitian Longitudinal Penuaan Baltimore, yang merupakan penelitian ilmiah penuaan manusia yang terpanjang di Amerika Serikat, telah menunjukkan hasil yang sama, menemukan bahwa pria dengan lingkar pinggang yang besar lebih cenderung menderita hiperplasia prostat jinak. Penelitian lain dari tahun 1998, juga menunjukkan bahwa pria penderita sindrom metabolik memiliki kecepatan pembesaran prostat yang lebih cepat dibandingkan dengan pria bukan penderita sindrom metabolik.

Pesan yang disampaikan oleh penelitian ini adalah bahwa semua pria perlu dididik dan diberi informasi untuk melakukan perubahan sehingga menerapkan gaya hidup sehat. Diperlukan bantuan untuk pria seperti ini untuk makan makanan yang lebih sehat dan lebih banyak latihan fisik untuk mengurangi berat badannya, mengurangi lingkar pinggangnya, dan mengurangi risiko menderita sindrom metabolik. Walaupun langkah ini tidak akan menghilangkan hiperplasia prostat jinak secara tuntas, namun sudah pasti merupakan langkah yang benar untuk mengurangi insiden hiperplasia prostat jinak.

Pria yang dipilih untuk ikutserta dalam penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam “Urologi” rata-rata berusia 54 tahun dan menghadiri pemeriksaan kesehatan dan pusat promosi di Pusat Medis Asia minimal dua kali setahun untuk memeriksa kesehatan rutin antara bulan Januari 2006 sampai bulan Desember 2013. Skrining kesehatan tersebut mencakup pengukuran antropometri tinggi badan, berat badan, dan lingkar pinggang, disertai uji darah, elektrokardiografi, pemeriksaan klinis yang rinci, dan ultrasonografi transrektal (TRUS) dilakukan oleh ahli urologi berpengalaman.(Epochtimes/ David B. Samadi/Vivi)

Dr David Samadi adalah ketua departemen urologi dan kepala bedah robotik di rumah sakit Lenox Hill, AS.

Share

Video Popular