Limbah pabrik yang memproduksi antibiotik adalah sarang pertumbuhan ” superbug “, menurut sebuah laporan yang dirilis pada tanggal 19 Oktober 2016 lalu oleh Changing Markets, suatu organisasi advokasi lingkungan.

Superbug adalah bakteri yang telah kebal terhadap antibiotik. Kekebalan antimikroba ini merupakan masalah utama kesehatan secara global, naik ke tingkat HIV dan Ebola. Pada tanggal 20 September 2016, kekebalan antimikroba menjadi masalah kesehatan keempat yang pernah dibahas di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Sebuah pernyataan PBB yang dikeluarkan setelah pertemuan tersebut meringkas masalah utama: “Kasus infeksi umum dan infeksi yang mengancam jiwa seperti pneumonia, gonore, dan infeksi pasca-operasi, serta HIV, TBC, dan malaria yang tidak dapat diobati karena kekebalan antimikroba semakin meningkat”.

Dua penyebab utama kekebalan antimikroba adalah pertama konsumsi antibiotik secara berlebihan oleh manusia dan kedua penggunaan antibiotik dalam pemeliharaan ternak.

Menjelang pertemuan Majelis Umum PBB, 13 perusahaan besar farmasi-mencakup perusahaan Amerika Pfizer, Merck & Co, dan Johnson & Johnson-mengumumkan komitmen untuk bertempur melawan kekebalan antimikroba. Pada daftar teratas adalah “meninjau rantai produksi dan pasokan dari perusahaan besar farmasi menuju praktek yang baik dalam mengendalikan pengeluaran antibiotik ke lingkungan”.

Mereka berencana untuk membangun kerangka kerja umum untuk mengelola limbah antibiotik dan melaksanakannya pada tahun 2018.

Pfizer diidentifikasi oleh Changing Markets sebagai salah satu perusahaan Amerika yang dipasok oleh pabrik di India dan tiongkok, yang merupakan pelaku utama. Laporan ini juga mengidentifikasi perusahaan farmasi Amerika yaitu McKesson dan CVS Health yang dipasok juga menyebabkan kekebalan antimikroba, dan mendesak semua perusahaan Amerika dan Eropa untuk membersihkan rantai pasokannya.

Juru bicara McKesson, Jennifer Nelson mengatakan kepada Epoch Times melalui email: “McKesson memahami bahwa melindungi integritas rantai pasokan adalah sangat penting untuk kesehatan global serta bisnis kami. … Kami menyadari klaim terhadap beberapa pemasok kami dan secara aktif mengkaji masalah ini. Kami akan mengambil tindakan jika perlu.” CVS Health tidak menanggapi pertanyaan.

Sumber pemasok perusahaan McKesson dan CVS Health adalah Aurobindo Pharma, yang berpusat di Hyderabad, India, yang diidentifikasi oleh Changing Markets sebagai salah satu pelanggar terburuk. Aurobindo Pharma tumbuh pesat sekitar 800 persen dalam dekade terakhir, dengan pasar terbesar (55 persen) di Amerika Serikat, menurut laporan tersebut.

Sekitar 80 persen bahan aktif farmasi obat-obatan di Amerika Serikat bersumber dari luar negeri, terutama dari India dan Tiongkok, menurut Institute of Medicine.

Superbug tidak mengenal batas, dengan mudah menyebar dari limbah pabrik di India ke seluruh dunia. Superbug dapat menyebar melalui saluran air di negara itu, menyebar ke lahan pertanian dan air minum untuk ternak dan manusia, dan dapat dengan mudah mencari tumpangan pada manusia atau barang yang menuju luar negeri.

Laporan tersebut menyinggung kekhawatiran lain yang muncul dalam penyebaran superbug ini: produsen farmasi tiongkok membuang limbah padatnya, termasuk residu antibiotik, dengan membuatnya menjadi pupuk, sehingga antibiotik menyebar di dalam tanah secara luas.

“Sementara ahli memandang hal ini sangat bermasalah dari sisi kesehatan manusia dan lingkungan, kurangnya undang-undang atau peraturan khusus yang mencakup pupuk menyediakan celah hukum untuk perusahaan sehingga terus-menerus eksploitasi kesehatan manusia dan lingkungan”, demikian pernyataan laporan tersebut.

Dr. Mark Holmes dari Universitas Cambridge bekerja dengan Changing Markets untuk mempelajari konsentrasi antibiotik dan superbug di beberapa saluran air di India. Dari 34 situs yang diuji, 16 situs ditemukan mengandung bakteri yang kebal terhadap antibiotik. Holmes menyimpulkan, seperti dibuktikan beberapa penelitian lain dalam beberapa tahun terakhir, bahwa limbah farmasi sangat berkontribusi terhadap pengembangan superbug di perairan India.

Contoh penelitian lain dengan hasil yang sama adalah salah satu penelitian yang dilakukan oleh peneliti di Universitas Gothenburg, Swedia pada tahun 2014. Peneliti menemukan bahwa Danau Kazipally di India tercemar pembuangan limbah farmasi dan di dalamnya terdapat 81 jenis gen yang kebal “terutama untuk semua golongan utama antimikroba”, di mana 7.000 kali lebih kebal terhadap antimikroba dibandingkan dengan sebuah danau di Swedia yang diuji sebagai perbandingan.

Laporan Changing Markets tidak hanya menyoroti masalah polusi dari pabrik farmasi di Asia, namun juga menelusuri rantai pasokan terbesar dari Asia ke Amerika dan Eropa. Hal ini memerlukan transparansi yang lebih besar, namun sulit dilakukan, dan dalam banyak kasus tidak mungkin dilakukan, untuk menemukan benang merah dalam rantai yang menggunakan data yang tersedia untuk umum.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengirim pemeriksa ke pabrik farmasi di India dan Tiongkok, dan telah membuat langkah besar untuk menyelesaikan masalah, meskipun banyak masalah yang belum diselesaikan.

Pada 2015 saja, FDA mengeluarkan pemberitahuan pelanggaran manufaktur di 80 lokasi produksi di Tiongkok . Pemberitahuan tersebut biasanya berujung pada larangan impor.

Dalam email kepada Epoch Times, FDA menyatakan: “Produk obat yang disetujui untuk dipasarkan di Amerika Serikat diadakan untuk standar kualitas yang sama terlepas dari lokasi pabriknya. Aplikasi tinjauan dan fasilitas inspeksi kami dilakukan dengan ketelitian yang sama di mana pun lokasi geografis produsen.”

Pemeriksa mempertimbangkan bagaimana perusahaan menangani limbahnya, FDA mengatakan, menurut peraturan umum proses manufaktur, seperti “Masalah sampah dan sampah organik dapat ditangani dan dibuang pada waktu yang tepat dan memperhatikan sanitasi” (21 CFR 211,56).

Karena korban yang meninggal akibat kebal terhadap antimikroba semakin meningkat, Henry Waxman dan Wakil Sekretaris Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Bill Corr melakukan kampanye untuk mendorong perusahaan Amerika membersihkan rantai pasokannya. Mereka juga mendorong FDA untuk menekan penguasa di India dan Tiongkok untuk memperketat peraturan setempat.

Setiap tahun di Amerika Serikat minimal 2 juta orang menderita sakit akibat superbug, dan minimal 23.000 meninggal akibat superbug, menurut Pusat Pengendalian Penyakit di Amerika Serikat. Menurut sebuah laporan yang ditugaskan oleh Pemerintah Inggris musim semi 2016, secara global, sekitar 700.000 orang meninggal setiap tahunnya akibat superbug, dan jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat hingga 10 juta orang setiap tahunnya sampai tahun 2050. (Epochtimes/ Tara MacIsaac/Vivi)

Share

Video Popular