Melampiaskan amarah pada anak-anak, akan berdampak buruk pada sanubari anak, membuatnya semakin bodoh dan jauh dari kebahagiaan batin, selain itu juga rentan membuatnya menderita sakit kepala dan berbagai penyakit lainnya. Orang tua dihimbau sebaiknya jangan melampiaskan amarah pada anak. Jangan mendidik anak-anak dengan emosi. Emosi itu akan seketika beralih kepada anak Anda, yang berdampak buruk pada batinnya.

Bimbinglah karakter anak-anak ke arah yang baik, harus sering-sering menemukan kelebihan anak dan pastikan sisi cemerlangnya (bakat yang dimiliki), selain itu harus selalu memberikan dorongan semangat kepadanya. Saat memberikan pujian sekaligus juga menasihati dan membimbingnya memperbaiki kebiasaan buruk.

Jengkel dan emosi adalah semacam virus negatif, selain merugikan orang lain juga diri sendiri. Terutama antar kalangan keluarga, tidak menghargai satu sama lain, saling tidak peduli. Semakin Anda jengkel dan emosi, akan semakin meluki pihak lain. Rasio tersakiti karena emosi antar keluarga yang bernaung dalam satu atap itu sangat tinggi, dan emosi jiwa yang terakumulasi secara bertahap ini akhirnya menyebabkan terjadinya penyakit, dari yang tadinya semu akhirnya menjadi nyata, dari gejala (penyakit) ringan menjadi parah.

Berkeluh kesah akan berdampak buruk pada limpa ; Rasa benci berdampak buruk pada jantung ; Jengkel atau gusar berdampak buruk pada paru-paru ; Amarah berdampak buruk pada hati ; Kesal/dongkol berdampak buruk pada ginjal. Sebaiknya kita waspada, jangan anggap remeh rasa jengkel, dongkol atau amarah yang tidak berarti sehari-hari. Tanggul sejauh ribuan mil sekalipun juga akan roboh karena lubang kecil yang tidak berarti (hal sekecil apa pun akan berakibat fatal kalau tidak ditangani secara hati-hati). Seseorang kalau sudah memasuki usia parobaya umumnya dalam kondisi “Sub-healthy”( kondisi di mana seseorang berada di antara kondisi sehat dan sakit), hal ini sebagian besar faktor utamanya disebabkan emosi jiwa yang tidak sehat.

1. Jika si anak suka mengecam orang lain, itu karena biasanya kita terlalu sering mengkritiknya.

2. Jika si anak selalu berkeluh kesah terhadap setiap hal, itu karena kita selalu kritis terhadap dirinya.

3. Jika si anak suka melawan, itu karena kita memperlakukannya sebagai musuh dan selalu memaksanya.

4. Jika si anak tidak cukup baik, itu karena kita adalah sosok orang yang kurang berempati.

5. Jika si anak penakut, pemalu, itu karena ia kerap diejek, dihina.

6. Jika si anak tidak membedakan benar dan salah, itu karena kita otoriter, tidak memberikan kesempatan kepadanya untuk berpikir dan menentukan sikap.

7. Jika si anak merasa rendah diri, itu karena kita selalu merasa kecewa terhadapnya, tidak bisa dengan sabar membangkitkan semangatnya.

8. Jika si anak iri, sensitif, takut terluka, itu karena tidak ada toleransi dan kehangatan dalam keluarga kita.

9. Jika si anak merasa benci pada dirinya sendiri, itu karena kita kurang bisa menerima, mengakui dan menghargainya.

10. Jika si anak tidak termotivasi, tidak berupaya keras, itu karena tuntutan kita terlalu tinggi yang tidak mampu diwujudkannya.

11. Jika si anak egois, itu karena kita terlalu memanjakannya, selalu memberikan apa pun yang dimintanya.

12. Jika si anak tidak tahu dengan jerih payah orang tua, itu karena kita tidak mengajarkannya bagaimana memahami orang lain.

13. Jika si anak malas dan selalu bergantung pada orang lain, itu karena kita terlalu banyak menggantikannya mengerjakan dan memustuskan segala sesuatu yang seharusnya bisa dilakukannya.

Dihimbau kepada para orang tua bisa belajar tanpa syarat dimulai dengan mencintai diri sendiri, berkomunikasi dengan anak-anak dengan derajad yang setara dan menghormati, menemani mereka tumbuh sehat dan ceria ! (NTDTV/Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular