Banda Aceh – Kementerian Luar Negeri Belanda  berkolaborasi dengan International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan  WWF Belanda memberikan dukungan dana untuk program konservasi hutan alam dan mangrove di tiga kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) terbesar di Aceh yakni Peusangan, Jambo Aye, dan Tamiang (PJT).

Peresmian program Share Resources Joint Solutions (SRJS) dilakukan di Banda Aceh, Rabu (18/1/2017) oleh Sekda Aceh yang diwakili oleh Staf Ahli Gubernur Anwar dihadiri oleh institusi pemerintahan, anggota dewan perwakilan rakyat, LSM, dan tokoh masyarakat dari wilayah Peusangan, Jambo Aye dan Tamiang.

Program yang bernama SRJS ini secara jangka panjang bertujuan untuk memastikan fungsi ekosistem tetap terjaga demi menjamin ketersediaan air bersih, ketahanan pangan, ketahanan iklim dan kelestarian keanekaragaman hayati.

“Di seluruh Pulau Sumatera, hanya Aceh yang masih lengkap memiliki spesies payung yang dilindungi, seperti Harimau, Badak, Gajah dan Orangutan,” kata Anwar Purwoto, Direktur Sumatera dan Kalimatan WWF-Indonesia, Jumat (20/1/2017).

Lanjut Anwar, “Oleh karena itu program ini sangat penting untuk menjaga kelangsungan hidup satwa tersebut dan akhirnya akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat setempat, dengan tersedianya air bersih dan udara bersih, juga mendukung ketahanan pangan.”

Selain Aceh, program SRJS dilaksanakan juga di Lansekap Bulungan di Kalimantan Utara dan Yapen Waropen di Papua. Program ini akan berjalan selama empat tahun. Dilaksanakan oleh WWF-Indonesia berkolaborasi dengan Forum DAS Krueng Peusangan dan Balai Syura Ureueng Inong Aceh.

Lansekap DAS Peusangan, Jambo Aye dan Tamiang (PJT) dipilih sebagai lokasi program karena wilayah padat penduduk (sebanyak 2,3 juta warga Aceh tinggal di lanskap  yang luasnya mencapai 1,6 juta hektar) dan sangat cepat pertumbuhannya. Daerah ini merupakan pusat investasi, pengembangan pertanian, perkebunan dan infrastruktur.

“Sebagai pusat pertumbuhan di Aceh yang rentan dieksploitasi sumber daya alamnya,  sangat  penting untuk memastikan fungsi ekosistem tetap terlindungi dan terjaga sehingga ketersediaan air, keamanan pangan, ketahanan iklim dan kelestarian keanekaragaman hayati tetap terjaga dalam jangka panjang,” kata Program Manager WWF-Indonesia Program Sumatera Bagian Utara, Dede Suhendra dalam siaran pers WWF Indonesia.

Lansekap PJT kaya akan keanekaragaman hayati dan potensi sumber daya alam yang melimpah. Disini terdapat hutan mangrove terluas di Sumatera mencapai 23 ribu hektar. Juga ada Danau Laut Tawar yang merupakan danau terluas di Aceh.

Kawasan ini merupakan rumah bagi satwa-satwa langka yang saat ini  terancam punah seperti Gajah Sumatera (Elephas maximus), Harimau Sumatera (Panthera tigris), Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) dan Orangutan (Pongo abelii).

Program SRJS selama empat tahun akan melakukan penguatan kepada LSM lokal dan organisasi masyarakat sipil agar mereka bisa mengambil peran untuk advokasi pemerintah dan sektor bisnis untuk melakukan praktik-praktik yang memperhatikan kelestarian lingkungan. Program ini juga mendorong pengelolaan hutan secara kolaboratif dan berkelanjutan dengan mengedepankan kearifan lokal, partisipasi publik, dan kesetaraan gender.

“Program SRJS di Aceh memberikan perhatian khusus pada pelibatan laki-laki dan perempuan secara seimbang.  Program ini juga melibatkan kelompok rentan yakni warga yang terpinggirkan secara ekonomi,” kata Dede Suhendra. (asr)

Share

Video Popular