Oleh: Zhou Xiaohui

Pada 2005, ketika ayahnya tersangkut dalam skandal sumbangan dana politik dan mendekam selama 2 tahun dalam penjara, setiap minggu meski cuaca buruk, Kushner pasti terbang dari New York menengok ayahnya di penjara state Alabama.

Sedangkan mengenai rumah tangga kecilnya, Kushner menyatakan ia sangat beruntung, karena pemikirannya dalam hal titik berat kehidupan mereka berdua sangat kompak dengan isterinya, mereka sama-sama berpendapat, “Menikmati kesempatan hidup kami berdua dalam setiap menit dan detik, lebih penting dari segala apapun. Kami menikmati saat-saat seluruh keluarga berkumpul bersama, kami juga menaruh rasa terimakasih terhadap apa saja yang telah kami dapatkan sekarang ini.” Ia menganggap dirinya “setiap hari dapat dengan sekuat tenaga menggapai keberhasilan dalam pekerjaan dan keluarga”.

Berbicara tentang pretasi dan pemikirannya, Kushner yang lulusan universitas Harvard ketika masih di semester satu sudah ikut dalam grup elite para pejabat Washington, yaitu asosiasi politik. Juga dalam masa sekolah, ia membaca harian bisnis New York dan di luar waktu belajar ia mempraktikkan “buy buy buy” dan membeli bangunan dekat pusat kota, untuk kemudian direnovasi menjadi apartemen lalu dijual, berhasil meraih keuntungan lebih dari US$ 200 ribu (2,66 miliar rupiah).

Ketika baru lulus dari Harvard, ia meneruskan ke Universitas New York untuk meraih gelar ganda MBA dan S2 Hukum. Pada saat itulah ayahnya dijebloskan ke dalam penjara.

Demi mangatasi krisis yang terjadi dalam keluarga, Kushner terpaksa menjadi tulang punggung perusahaan keluarganya. Dibawah pengolahannya selama beberapa tahun saja, perusahaan itu berhasil bangkit. Demi perkembangan perusahaan, maka Kushner memutuskan perusahaan dipindahkan dari New Jersey ke New York.

Sejak di New York, ia mengembangkan investasi, selain di bidang real estate, juga media dan perusahaan internet, semuanya berhasil, sehingga dijuluki “Anak ajaib bisnis”. Pada 2015 Majalah Fortune AS memberinya penghargaan sebagai “40 tokoh bisnis usia di bawah 40 tahun yang paling berpengaruh.”

Sepak terjang Kushner yang mendapat apresiasi dari sang mertua, Trump, sama sekali tidaklah mengherankan. Dalam masa kampanye pilpres Trump, Kushner selain membantu menulis naskah pidato Trump, ikut serta dalam perencanaan perjalanan kunjungan Trump, juga bertanggung-jawab atas terjalinnya hubungan Trump dengan media online dan media social.

Tingkat kemampuannya membuat orang-orang menganggapnya sebagai salah satu kontributor utama dalam keberhasilan Trump dalam pilpres, sedangkan dalam banyak hal Trump selalu meminta masukan dari Kushner.

Trump pernah menilainya demikian, ”Kushner adalah seorang menantu yang sangat menonjol, hubungan kami sangat erat.”

Ia merupakan seorang pemikir yang amat lapang dada dan berani. Ketika Trump mengumumkan pengangkatan Kushner sebagai penasehat senior Gedung Putih, sekali lagi menyatakan bahwa dimasa pilpres dan peralihan kekuasaan, Kushner merupakan penasehat yang dapat dipercaya dan merupakan “aset yang unggul.” Ia merasa bangga dalam memberi Kushner peran pimpinan yang krusial dalam pemerintahan baru nanti.

Kushner pernah ditanya oleh wartawan tentang bagaimana mengambil keputusan di dalam masalah penting secara unik. Ia mengatakan, setiap kali mengambil keputusan selalu memikirkannya dari sudut pandang kemanusiaan dalam mempertimbangkan keuntungan dan kerugian.

“Terhadap pemahaman pada sesuatu hal, saya selalu beranggapan saya bukanlah orang yang memiliki otoritas mutlak, saya juga beranggapan, saya bersyukur mempunyai sahabat dan pembimbing di berbagai bidang usaha, mereka semua merupakan konsultan saya. Setelah memperkaya pemahaman saya barulah saya mengambil keputusan yang saya rasakan benar,” ujar Kushner.

Seperti itulah pribadi Kushner dan sebagai penasehat Trump, apa yang kelak dapat diberikan kepada AS, itulah senantiasa yang dinanti-nantikan oleh media dalam dan luar negeri. (tys/whs/rmat)

Share

Video Popular