Beberapa tahun yang lalu sebuah perusahaan obat yang besar menyatakan bahwa minum vitamin yang diproduksinya membantu menghilangkan stres akibat “komplikasi kehidupan sehari-hari” dan memberi nama produknya “StressTabs”. Jaksa Agung New York memaksa perusahaan obat tersebut menghentikan iklan yang menipu, tetapi banyak orang yang masih ingat dan percaya akan iklan tersebut.

Tidak ada bukti bahwa stres meningkatkan kebutuhan akan vitamin atau minum vitamin akan meredakan stres. Vitamin dalam bentuk pil atau yang terkandung di dalam makanan akan masuk ke dalam peredaran darah dan kemudian masuk ke dalam sel. Vitamin akan berfungsi jika bergabung dengan apoenzim yang terdapat di dalam sel, untuk membentuk enzim yang sempurna untuk bereaksi di dalam tubuh. Semua reaksi kimia di dalam tubuh membutuhkan enzim, dan itulah sebabnya mengapa vitamin menjadi penting. Misalnya, semua vitamin B membentuk enzim yang mengubah makanan menjadi energi. Tetapi enzim hanya berfungsi untuk memulai reaksi kimia dan tidak digunakan selama reaksi tersebut, enzim dapat digunakan secara berulang-ulang dan hanya dalam jumlah yang sangat kecil yang diperlukan dari makanan.

Pada tahun 1930-an, Hans Selye dari Universitas McGill di Montreal, Kanada, melaporkan bahwa kelenjar adrenal mengandung konsentrasi vitamin C tertinggi di dalam tubuh. Kelenjar adrenal membuat kortisol dari vitamin C. Ketika seseorang menderita stres, kelenjar adrenal membuat kortisol dalam jumlah besar dan kadar vitamin C meningkat. Namun, para ilmuwan telah mengetahui selama lebih dari empat puluh tahun bahwa kadar vitamin C di dalam kelenjar adrenal masih cukup tinggi untuk terus memproduksi kortisol dan pemberian vitamin C tambahan tidak akan meningkatkan produksi kortisol. Jadi mitos bahwa vitamin mengobati stres berdasarkan pada salah tafsir dari satu penelitian terhadap suatu vitamin, dan penelitian tersebut tidak menunjukkan bahwa minum vitamin tambahan akan mencegah atau mengobati stres.(Epochtimes/ Gabe Mirkin/Vivi)

Share

Video Popular