Oleh: DR. Frank Tian, Xie

Sebenarnya PKT kerap terpojok pada posisi “kalah”, hanya saja berkat sensor, rakyat tidak tahu menahu atau tidak mengerti. RRT mengimpor jet tempur jenis SU-35 dari Rusia, tadinya berniat menjadi “pemenang terbesar” mengambil keuntungan darinya, tapi akhirnya malah kalah telak!

Tujuan RRT mengimpor adalah untuk menirunya, tapi Rusia yang lebih licik, mesin pendorong yang paling krusial dilas dan tidak bisa dilepas, maka rencana meniru itu pun gagal total bahkan telah kehilangan banyak uang. AS juga tidak membiarkan teknologi mesin pendorongnya ditiru, tapi caranya lebih terpuji. RRT diberitahu untuk tidak boleh meniru, mesin pendorong tidak boleh dilepas, hal itu telah diberitahu sebelumnya, di dalam kontrak juga tertulis jelas, maka ini bukan masalah.

Jika ada yang jadi pemenang, pasti ada yang jadi pecundang. Hanya ingin menang mengambil keuntungan, terus menerus seperti itu tidak ada lagi orang berani berbisnis dengannya, maka tinggallah seorang diri. Sebenarnya PKT memang seorang diri di dunia ini. Jangan dilihat negara bebas lain hormat terhadap RRT, banyak pula politikus Barat yang tidak tahu malu sering membantu PKT, tapi PKT sebenarnya tidak mempunyai teman.

Baru-baru ini teman lamanya yakni Korut, Vietnam, Kuba, juga perlahan meninggalkannya. Terpilihnya Trump akan menyesuaikan kembali kebijakan perdagangan dengan RRT, karena PKT selalu mau menang sendiri dalam hal perdagangan dan nilai tukar mata uang tanpa peduli kepentingan negara lain. Pada akhirnya, semua keuntungan tidak diperoleh.

RRT tidak seharusnya terlalu peduli apakah menjadi pemenang atau menjadi nomor satu dunia. Kesejahteraan, kebebasan, dan kebahagiaan rakyat adalah yang terpenting, negara bisa menjadi pemenang atau tidak, itu bukan hal penting.

Mengaku kalah adalah pendorong dalam bersaing, adalah orientasi upaya, dunia pada dasarnya juga berkembang maju  secara gelombang demi gelombang, silih berganti. Komputer super hari ini menjadi nomor 1 di dunia, tapi besok sudah bukan lagi. Kereta api cepat belajar dari Jepang, Jerman dan Prancis, namun kualitasnya masih tidak memenuhi syarat, tidak perlu buru-buru dibanggakan.

Ketika kalah, beritahukan kepada rakyat agar rakyat pun tahu ketinggalannya dan mengejarnya. Masalah di RRT adalah muncul begitu banyak “melampaui”, “memimpin dunia”, “AS terkejut”, tapi ketika dipaksakan bisa menyamakan posisi dengan negara maju, bahkan dipaksakan mencapai standard negara maju puluhan tahun silam, masyarakat baru menyadari betapa sebelum itu RRT sangat terbelakang.

Dan banyak hal yang dikatakan telah mengejar, melampaui, memimpin di depan, setelah diteliti lebih seksama, ternyata semua itu hanya omong kosong belaka!

Mengapa PKT begitu peduli, begitu ingin menjadi “pemenang terbesar?”

Pada dasarnya adalah karena PKT tidak bisa menerima kekalahan. Karena tidak bisa menerima kekalahan maka harus selalu bisa menjadi “pemenang terbesar”, entah bisa atau tidak, PKT sangat menginginkannya.

Sebenarnya terlalu dipikirkan maka itu adalah keterikatan, terlalu muluk, terlalu berkhayal, ini tidak baik. Pada akhirnya, daripada terus menerus mengimpikan menjadi “pemenang terbesar,” benar-benar tidak bisa, tidak mampu, terpaksa berbohong, mengatakan dirinya adalah “pemenang terbesar.”

Teori ilmu permainan awalnya meneliti tentang Zero-Sum Games, jika salah satu pihak dalam permainan mendapat keuntungan, maka pihak lain pasti mendapat kerugian. Namun dalam hubungan antar negara di masa sekarang ini, sudah tidak lagi mengejar akhir seperti pada Zero-Sum Games, melainkan berupaya mewujudkan situasi sama-sama menang (win-win). Kedua belah pihak akan mengalami kerugian, selain mendapat keuntungan yang realistis, juga harus berkorban demi kepentingan di masa mendatang.

Jujur saja, situasi win-win memang tidak selalu bisa terwujud, di dalam hubungan antar negara, akan ada satu negara mendapatkan agak banyak, sedangkan negara lain mendapatkan agak sedikit.

Ada masa di mana pemerintah tak berdaya, di tengah masyarakat normal, inilah waktunya bagi pemerintah yang tak berdaya untuk mundur. Warga di hampir semua negara di dunia sama-sama berhak untuk mengganti pemerintah yang tidak mampu, dan digantikan (melalui pemilu) dengan pemerintah baru yang mampu.

Sayangnya, bagi rakyat Tiongkok, selama kelompok kekerasan PKT yang begitu mau menang sendiri dan tidak bisa menerima kekalahan ini masih berkuasa, maka selamanya tidak akan pernah ada “kemewahan” ini. (sud/whs/rmat)

SELESAI

Share

Video Popular