Oleh: Zeng Yulian

Ketika banyak film berupaya menjelaskan budaya kultivasi Timur, umumnya hanya menekankan wujud permukaannya saja berupa “ilmu bela diri / kungfu” atau “ilmu pengobatan tradisional Tiongkok.”

Akan tetapi film “Doctor Strange” telah mengubah pemahaman dangkal dalam bisnis perfilman ini, serta menerapkan konsep “melepaskan ego” dan dipenuhi dengan “moralitas dan kebajikan” di dalamnya. Menampilkan proses kultivasi yang sesungguhnya dari manusia biasa menuju ke supernatural.

Beberapa tahun terakhir, elemen budaya kultivasi Timur kian diminati oleh dunia perfilman Barat, contoh tipikal adalah sejak demam film “Kungfu Panda” melanda dunia, di dalam film “Batman-Shadow of the Mystery” juga ada sepenggal kisah kultivasi Timur. Munculnya film “Doctor Strange”, intisari dari elemen kultivasi ini kembali ditampilkan di layar perak negara Barat.

Pengenalan Film

Film “Doctor Strange” dibuat berdasarkan gubahan dari salah satu komik pahlawan super dari serangkaian yang dimiliki oleh Marvel. Film ini mengisahkan seorang dokter bedah syaraf yang angkuh, arogan dan keras kepala (diperankan oleh Benedict Cumberbatch) yang mengalami cedera kedua lengannya akibat kecelakaan lalu lintas parah, sehingga ia harus kehilangan pekerjaan yang dibanggakannya.

Agar bisa diobati, ia pergi jauh ke negeri Timur yang misterius, dan berguru pada penyihir ekstrim bernama Ancient One (diperankan oleh Tilda Swinton). Lewat kultivasi penuh derita, ia mengubah sifat lamanya yang arogan dan egois, bersama kakak seperguruannya Baron Mordo (diperankan oleh Chiwetel Ejiofor) mereka mengusir raja iblis Dormammu yang berniat menghancurkan dunia.

“Film” Ungkapkan Bahasa Baru

Akupunktur, kungfu, meditasi, semedi/merenung, hilangkan keterikatan, hukum sebab akibat adalah istilah-istilah yang sarat akan nuansa budaya kultivasi Timur ini ditampilkan sepenuhnya pada film pahlawan super dari Barat. Ini membuat seluruh dunia memahami makna dari kultivasi yang berasal dari Timur secara lebih mendalam.

Pada saat memaparkan budaya kultivasi Timur banyak film umumnya hanya mementingkan sisi permukaannya saja seperti “ilmu kungfu” atau “ilmu pengobatan tradisional Tiongkok”, dan merasa penampilan teknik khusus itu sudah merupakan keseluruhan dari kebudayaan Timur.

Padahal sebenarnya intisari dari “moralitas kungfu” dan “moralitas medis” adalah yang paling penting. Berhasilnya “Doctor Strange” adalah karena mampu “melepaskan ego” dan “moralitas” mengakar kuat di dalam film ini, menampilkan proses kultivasi seseorang manusia biasa dan berubah menjadi supernatural.

Skenario di awal film telah menampilkan kepribadian Stephen Strange dengan sangat sempurna, ditambah lagi dengan pemahaman Benedict terhadap sosok Stephen Strange, yang berhasil memindahkan seorang “profesor” yang luar biasa angkuh itu dari dalam komik ke layar lebar.

Lepaskan “Nama”, Perubahan pada Stephen Strange

Stephen Strange bisa disebut sebagai seseorang dari kalangan atas yang tinggal di rumah mewah, mengendarai mobil terkenal, dan mengoleksi arloji ternama. Ia yang bergelar “profesor” menguasai ilmu pengetahuan yang sangat luas, merasa dirinya menguasai teknik pengobatan bedah otak yang mumpuni.

Ia merasa memiliki status berbeda dengan orang awam, dan menjadikannya meremehkan orang lain. Berprofesi sebagai dokter, ia selalu memilih ketat pasien yang akan ditolongnya, pasien hanya menjadi alat baginya untuk menjadi terkenal.

Akan tetapi kecelakaan lalu lintas yang menimpa dirinya telah menghancurkan masa depan Stephen Strange, kedua tangan yang dibanggakannya, kini menjadi simbol aib bagi dirinya. Ia yang tak lagi mampu memegang pisau bedah, membabi buta hendak mengembalikan kedua lengannya, mendambakan mengembalikan ketenaran yang dulu pernah diraihnya.

Setelah melanglang buana akhirnya ia bertemu seorang guru, Ancient One yang mampu mengobati kedua tangannya. Ancient One menekankan, penyembuhan diri berawal dari perubahan jiwa, “meletakkan” adalah “mendapatkan” yang sebenarnya, ia diminta untuk meninggalkan segala bentuk konsep masa lalu agar dapat mendapatkan penyelamatan yang sesungguhnya.

Stephen Strange yang baru pertama kali tiba di negeri Timur yang misterius dengan pengetahuannya di dunia fisika, masih saja meremehkan, dan meragukan konsep akan “kultivasi” dan “spiritual” yang dikatakan oleh Ancient One. Sehingga Ancient One membawa Stephen Strange mengarungi alam dimensi lain untuk merasakan kondisi tersebut.

Lewat suatu alur cerita dalam film dimana arwah meninggalkan tubuh fisik serta teknik IMAX 3D yang semakin memperkuat efek visual ini. Penonton ibarat bisa merasakan seperti yang dirasakan Stephen Strange akan betapa kerdilnya dirinya di tengah perjalanan menembus Kehampaan yang maha luas itu. Ia yang tadinya atheis pun mulai merenungkan kembali masa lalunya.

Dalam perjalanan kultivasi yang panjang, perlahan Stephen Strange melalui berbagai bentuk ujian terhadap tekadnya berkultivasi dari gurunya Ancient One, seperti tidak diijinkan masuk, menderita dingin di gunung es, setelah terluka meminta pertolongan mantan pacarnya dan berbagai ujian lainnya yang membuat harga dirinya tercoreng.

Ini benar-benar adalah proses dimana ia melepaskan keterikatannya akan “ketenaran”, membuatnya mengenali kembali dunia yang selama ini dipikirnya telah dikuasainya.

Di dalam film ada sebuah alur cerita yang sangat menarik dimana waktu diputar untuk terulang kembali, tidak hanya mengingatkan penonton pada “Kotak Mustika Sinar Rembulan” milik Raja Kera (Sun Go Kong) yang diperankan oleh Stephen Chow yang bisa memutar ulang waktu, berupaya menyelamatkan kekasihnya Bai Jing Jing yang bunuh diri.

Ketika Stephen Strange bertempur melawan raja iblis Dormammu, dengan memutar ulang waktu Stephen Strange memilih sebuah dimensi waktu untuk mengubah kepribadian masa lalunya yang penuh kesombongan yang telah menyebabkan penderitaannya, menampilkan terobosan perubahan fundamental kepribadiannya.

Sebenarnya, Dormammu beserta para pengikutnya melambangkan ego dan kesombongan di dalam sifat manusia. Pertempuran Stephen Strange dengan raja iblis, adalah proses bagi dirinya untuk mengalahkan “iblis di hatinya”, dan akhirnya menjadi pahlawan super, merampungkan perjalanan penyelamatan dirinya sendiri. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular