JAKARTA – Aleta Baun yang akrab dikenal dengan panggilan ‘Mama Aleta’ dan sosok pejuang humanis Tanah Mollo, Nusa Tenggara Timur dinobatkan sebagai peraih Yap Thiam Hien Award 2016.

Pejuang HAM ini memiliki landasan prinsip yakni istilah ‘Oei Fani On Na, Nasi Fani On Nafus, Afu Fani On Nesa, Fatu Fani On Nuif’ artinya air merupakan darah, pepohonan atau hutan adalah pembuluh darah dan rambut, tanah merupakan daging dan batu merupakan tulang.

Salah satu Dewan Juri Yap Thiam Hien Award 2016, Yosep Adi Prasetyo, mengatakan menghadapi Negara yang masih jauh dari harapan untuk pemenuhan HAM, beberapa pegiat HAM masih konsisten berada di samping warga yang membutuhkan.

Untuk itu, kata Adi, Yap Thiam Hien Award didedikasikan bagi individu atau kelompok atau lembaga yang bekerja bertahun-tahun dengan dedikasi, berani dan konsisten di bidang pembelaan hak asasi manusia. Terutama bagi mereka yang berhasil mempengaruhi dan mentransformasikan lingkungannya ke arah kebebasan dengan memberikan manfaat pemenuhan hak-hak korban.

“Dewan Juri menetapkan Mama Aleta dari Mollo, karena kegigihannya terbukti mampu mentransformasikan dirinya menjadi pejuang lingkungan yang tak pernah takut dan sangat damai dalam penolakan terhadap pertambangan di NTT,” kata Yosep Adi, saat penganugerahan Yap Thiam Hien Award di Museum Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (25/1/2017) malam.

Dewan Juri Yap Thiam Hien Award 2016 terdiri atas Ketua Yayasan Yap Thiam Hien, Prof.Dr.Todung Mulya Lubis, Mantan Wakil Tetap RI untuk PBB di Jenewa, Dr. Makarim Wibisono, Direktur The Asian Foundation, Dr.Sandra Hamid, Aktivis Perempuan dan Anak, Zumrotin K.Susilo dan Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo.

Menurut Dewan Juri, Mama Aleta merupakan sosok yang cerdas menggunakan pendekatan non-kekerasan untuk membangkitkan kesadaran warga terhadap kelestarian alamnya. Ia mengajak puluhan kaum ibu di tiga suku untuk melakukan aksi protes dengan menenun di celah gunung batu yang akan ditambang.

Segala jerih payah pendekatan non-kekerasan ternyata membuahkan hasi, dua perusahaan tambang yakni PT Soe Indah Marmer dan PT Karya Ast Alam akhirnya angkat kaki  dari bumi Mollo. Apa yang dilakukan Mama Aleta tak hanya hitungan seminggu atau sebulan, pendekatan konsisten ini terus dilakukan selama 17 tahun dan capaian melampaui kandidat lainnya.

Ketua Yayasan Yap Thiam Hien, Todung Mulya Lubis mengatakan sosok Mama Aleta adalah pejuang hak asasi manusia sejati, berjuang gigih melawan segala bentuk penindasan penguasa dan pengusaha. Namun, kata Todung, Mama Aleta tak pernah menyerah karena tak ada kata menyerah dalam kamus hidup milik Aleta.

Menurut Todung, perlawanan yang dilakukan oleh Mama Aleta adalah perlawanan yang bersumber kepada kearifan lokal. Sosok Aleta Baun adalah perempuan yang melakukan perlawanannya secara damai dan tak pernah berhenti sampai mereka berhasil mempertahankan kembali hak-hak mereka.

“Saya berharap anugerah ini akan membuat Aleta Baun terus berada di baris paling depan untuk mempertahankan lingkungan hidup kita semua, perjuanganmu tak sia-sia dan inspirasi bagi banyak orang,” kata Todung.

Penerima Yap Thiam Award 2015 diberikan kepada Handoko Wibowo yang dikenal sekitar lingkungannya adalah aktivis dan pendamping petani dari Batang, Jawa Tengah. Sedangkan Penghargaan Yap Thiam Hien Award 2014 diberikan kepada Anis Hidayah yang dikenal mengabdikan hidupnya untuk memperjuangkan nasib buruh migran Indonesia.

Yap Thiam Hien Award merupakan penghargaan yang dinobatkan kepada pegiat HAM pada setiap tahunnya. Penghargaan ini dinisbatkan kepada pejuang HAM dan pengacara kondang pada zamannya, Yap Thiam Hien keturunan Tionghoa dan advokat kelahiran 25 Mei 1913 ini dikenal sebagai advokat berhati baja serta berjuang menegakkan prinsip-prinsip hukum berkeadilan dan HAM. (asr)

Share

Video Popular