Para orang tuan di Eropa dan Amerika Serikat umumnya menghormati pemikiran atau pandangan anak-anaknya, mereka membiarkan anak-anaknya memilih jalan hidup mereka sendiri. Sementara orang tua di negara-negara Asia umumnya terlalu banyak campur tangan terhadap pandangan/pilihan anak-anaknya. Bisa dikata mereka selalu cemas dan khawatir terhadap studi, jenjang pendidikan, pekerjaan, pernikahan dan sebagainya.

Semasa kanak-kanak dulu saya sangat iri melihat anak-anak Eropa atau Amerika, bagaimana tidak, orang tua mereka membiarkan anak-anaknya mempertimbangkan, menentukan sendiri keinginannya, memberi semangat pada anak-anaknya untuk mewujudkan mimpi (cita-cita) mereka, bukan memaksakan kehendak pada orang lain.

Saya putri tunggal, kasih sayang maupun campur tangan yang berlebihan dari orang tua terkadang membuat saya tidak tahan, hingga akhirnya tidak punya pilihan lain, saya terpaksa menikah di negeri orang untuk menghindari “belenggu kasih sayang” orang tua.

Baru-baru ini seorang teman dari Taiwan yang sekarang tinggal di Jepang bercerita, beberapa tahun lalu, saat putrinya masuk perguruan tinggi, tidak ingin tinggal bersama dengan orang tuanya, mahasiswi itu kerap tinggal di rumah teman sekampusnya. Teman saya marah lalu memutuskan mengurus pengunduran kuliah putrinya, sehingga sang putri yang bersemangat kuliah itu menjadi kesal dan marah, dan tak disangka baru pulang ke rumah setelah lebih dari setahun berkelana di luar. Saat menceritakan hal-hal di masa lalu itu, teman saya masih merasa putrinya sangat tidak berperasaan, selalu lupa setiap tiba Hari Ibu, katanya.

Saya berkata padanya : Sebenarnya tidak ada salahnya “Anak-anak suka hidup sendiri, kerja mencari uang sendiri. Tentu saja, sebagai orang tua juga tidak salah, mengkhawatirkan anak tinggal sendiri dan menderita di luar. Tetapi, anak-anak pasti akan berontak jika dipaksa seperti itu, terutama anak-anak yang memasuki periode perlawanan. Meskipun anak, tetapi juga perlu dipahami dan dihormati. Teman saya seketika tersadar mendengar kata-kata saya, lalu secara inisiatif meminta maaf pada putrinya, akhirnya kontradiksi dan kebencian yang sudah berlangsung bertahun-tahun itu pun sirna.

Terkadang, saat orang tua menyelesaikan kontradiksinya dengan anak-anak, tidak diatasi dengan cara komunikasi, tapi dengan cara marah, sehingga menyebabkan konfliknya semakin dalam. Terlebih lagi terhadap anak-anak yang masih kecil. Orang tua yang mengatasi masalah secara tidak rasional dapat menyebabkan anak-anak menjadi kesal dan benc, bahkan lari dari rumah sebagai bentuk protes. Perhatian atau kasih sayang orang tua terhadap Anak-anak dibangun atas dasar penghormatan, pemahaman terhadap mereka, dengan demikian baru bisa diterima mereka.

Saya pribadi lebih menekankan pada pendidikan moral anak-anak, dan memberikan ruang yang bebas kepada anak-anak.

Orang tua saya bertanya pada saya : “Anak kamu mengapa bisa begitu menurut ? Alangkah bagusnya kalau saja kamu seperti ini waktu kecil dulu.” Sambil tertawa saya jawab : “Saya kan menggunakan cara ayah/ibu mendidik saya, sekarang saya terapkan dalam mendidik : Tidak memanjakannya, membiarkan mereka mengecap pahit getirnya kehidupan, menghormati dan berusaha memahami dengan pandangan mereka.” Mendengar penjelasan saya, ayah seketika paham dengan maksud saya, sedangkan ibu masih tidak mengerti maksudnya.

Orang tua di Jepang sangat menekankan studi anak-anak, rata-rata anak-anak usai sekolah akan belajar di tempat privat. Tapi saya hanya membiarkan anak-anak belajar sesuai dengan minat mereka masin-masing, tidak perlu belajar di sekolah privat yang selalu diawasi.

Selain itu, saya juga menghormati pandangan anak-anak, ketika anak-anak bersekolah di SD, mereka merasa tidak ada artinya sekolah di perguruan tinggi, hanya menghabiskan waktu, dan saya mendukung pandangan mereka .Setelah anak-anak duduk di bangku SMP, mereka merasa orang yang tidak sekolah di perguruan tinggi itu adalah sosok orang yang tidak berpendidikan, dan tetap saja saya dukung pendangan mereka.

Kadang-kadang anak-anak sengaja memancing saya marah : “Kami mendapatkan nol dalam ujian, dengan begitu ayah atau ibu akan merasa malu ketika pergi ke sekolah.” “Ya sudah, kalau kalian suka nilai nol, kalian dapat nilai nol saja setiap kali ujian. Tapi ingat, kalian belajar untuk diri kalian sendiri, bukan belajar untuk ayah atau ibu ,” kata saya mengingatkan mereka.

Anak-anak di Jepang umumnya mulai mencari uang saku sendiri sejak SMU, dan saya juga mendorong anak-anak untuk mandiri. Putra bungsu saya tidak suka belajar, saya mendorongnya untuk belajar seni, ia pun memilih sekolah seni, dan sekarang ia sudah bisa hidup mandiri.

Putaa sulung saya  sangat bersemangat melanjutkan ke perguruan tinggi, tapi tidak suka belajar.  Saya hanya mengatakan kepadanya bahwa ia tidak akan mendapatkan apa pun kalau tidak berjuang, lalu ia memutuskan kuliah dengan uangnya sendiri. Sedangkan putri saya suka belajar, prestasinya luar biasa, dan saya katakan kepadanya untuk menentukan atau memilih masa depan sendiri, jangan bergantung pada orang lain. (Epochtimes/ Xin Yi/Jhn)

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular