JAKARTA – Komisi Yudisial (KY) mengajak seluruh masyarakat untuk melihat arah reformasi peradailan atas tertangkapnya Hakim Konstitusi Patrialis Akbar. Kasus yang menjerat hakim konstitusi ini merupakan keduakalinya setelah Ketua MK Akil Mochtar juga ditangkap KPK atas kasus suap.

Hakim Konstitusi Patrilias Akbar ditangkap oleh KPK dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) perkara suap diduga untuk mempengaruhi putusan terkait permohonan Uji Materiil Perkara tentang Perubahan atas UU Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan terhadap UUD Republik Indonesia 1945 di Mahkamah Konstitusi.

“Komisi Yudisial mengajak kepada seluruh pihak untuk kembali melihat arah reformasi peradilan kita, dengan merujuk pada seluruh peristiwa yang belakangan terjadi,” kata Juru Bicara KY, Farid Wajdi dalam rilisnya dikutip Jumat (27/1/2017).

Selain mengajak seluruh masyarakat untuk melihat proses peradilan, KY menegaskan bahwa tidak kah ada sesuatu yang patut dikoreksi? Tidak untuk tujuan apapun, kecuali demi peradilan yang lebih bersih.

Atas kasus Hakim Patrialis, Komisi Yudisial menyatakan merasa prihatin dan sangat menyayangkan karena di tengah usaha banyak pihak dalam membenahi dunia peradilan. Apalagi dalam kasus ini,  integritas profesi hakim kembali tercoreng akibat perbuatan yang tidak patut dilakukan segelintir oknum.

Komisi Yudisial menegaskan  peristiwa ini harus menjadi pelajaran dan masukan evaluasi bagi semuanya, mengingat kejadian ini bukan yang pertama.  Menurut KY, terdapat hal mendasar yang harus diperbaiki dalam praktik penyelenggaraan peradilan, di mana kekuasaan yang tanpa kontrol berpotensi untuk menjadi penyelewengan, tidak terkecuali pada ranah yudikatif.

Atas kasus Patrialis, KY menyerukan kepada seluruh pihak untuk kembali mendengarkan suara publik dan apa yang disuarakan oleh masyarakat. KY menegaskan reformasi yang sebenarnya adalah perbaikan yang telah menyentuh masalah dasar, yaitu integritas.

“Selain integritas merupakan kewajiban, pada dasarnya pengawasan tidak tidur dan terus berjalan dalam berbagai bentuk,” kata Farid Wajdi. (asr)

Share

Video Popular