Oleh: Cao Changqing

Selain dalam hal merekrut anggota timnya Trump memperlihatkan keunggulannya, setelah awal pemilihan dalam Partai Republik, ia juga memperlihatkan sejumlah kelebihan yang patut diperhatikan. Kelebihan apa saja?

Pertama, ia memilik jiwa besar, tidak mendendam. Pada Rapat Besar Kongres Partai Republik, ia mengundang Cruz yang bergesekan secara verbal dengan Trump di awal pemilihan, terutama pada periode akhir pemilihan. Hal ini menunjukkan jiwa besarnya dengan tidak mempermasalahkan konflik sebelumnya. Baik dari segi prinsip maupun kebijakan, adalah hal yang sangat bijaksana, tepat dan patut didukung.

Hal yang lebih mencengangkan bagi kaum sayap kiri maupun kanan adalah, setelah terpilih, Trump bahkan mengundang Romney untuk makan malam bersama di Trump Tower, dan berbincang dalam suasana bersahabat. Untuk diketahui Romney selama masa pemilihan awal mengecam Trump secara keras tanpa sungkan. Romney  juga berupaya memboikot Trump. Ia adalah capres dari Partai Republik pada 2012.

Trump juga mengundang Fiorina satu-satunya rival wanitanya yang pernah menghujatnya dan kemudian mundur dari pencalonan lalu bergabung dengan kubu Cruz, untuk datang ke Trump Tower dan bertukar pendapat, dan mungkin akan memberinya suatu jabatan.

Pada saat yang sama ia juga merekrut gubernur wanita negara bagian South Carolina yakni Nikki Haley yang di masa awal pemilihan mendukung capres Rubio anggota senat dari Florida, dan mengangkat Haley sebagai duta AS di PBB. Ia juga merekrut mantan gubernur Texas Rick Perry yang sebelumnya pendukung kuat Crus serta sangat keras menentangnya, untuk diangkat sebagai menteri pertambangan (salah seorang calon terbaik).

Di ajang perang pemikiran politik, dibandingkan dengan persaingan dalam hal bisnis maupun olahraga, ada sejumlah kesamaan, tapi konfliknya lebih sengit, lebih keras, karena yang terkait disini bukan hanya suatu transaksi, bukan pula menang atau kalah dalam kompetisi, melainkan menyangkut hajat hidup orang banyak. Bahkan perubahan orientasi jalan hidup seseorang.

Jadi setiap persaingan dengan rival (walaupun berprinsip sama) akan terjadi konflik sengit. Di dalam proses ini kadang tak terhindarkan kata-kata kasar saling menghujat dan serangan pribadi. Mengesampingkan dendam pribadi setelah terjadi konflik di hadapan kepentingan bersama, mampu melihat kelebihan lawannya demi bekerjasama mewujudkan idealismenya. Ini tidak hanya butuh jiwa yang besar, lebih dibutuhkan lagi akal sehat.

Konflik antara Trump dengan media massa tidak seorang pun tidak tahu. Di antaranya yang paling disoroti adalah silat lidah antara Trump dengan pembawa acara wanita pada acara jam 9 stasiun TV FOX bernama Megyn Kelly.

Dalam ajang perdana debat Partai Republik, Kelly mengungkit masalah pelecehan terhadap wanita dan masalah sensitif lainnya yang dilakukan Trump, membuat Trump begitu berang, yang berujung pada kecaman kerasnya pada Kelly di akun Twitternya.

Sembilan bulan kemudian Kelly mengajukan permohonan untuk mewawancara Trump. Trump pun setuju, dan pada wawancara tersebut Trump bersikap cukup rasional, sopan, bersahabat dan gentleman, cukup memiliki kewibawaan sebagai seorang presiden.

Hubungan Trump dengan media massa sangat berbeda dengan tokoh politisi lainnya. Kebanyakan tokoh politisi membutuhkan dukungan pers, dan selalu berusaha menjalin hubungan baik dengan pers. Sedangkan Trump, karena selama beberapa dekade ini ia adalah selebriti, dan lantaran pada pilpres kali ini Trump menimbulkan berbagai hal tak lazim, maka telah berbalik menjadi media massa yang membutuhkan Trump untuk meningkatkan rating.

Kedua, ia sangat tahu berterima kasih. Setelah memenangkan pemilihan presiden, ia secara khusus mendatangi beberapa negara bagian tempat yang awalnya dia kalah, tapi kemudian menang besar, untuk berterima kasih pada warga atas dukungan mereka. Ia  juga berterima kasih pada organisasi massa daerah Partai Republik yang membantu kampanyenya.

Bersama istrinya, satu persatu ia menelepon beberapa pembawa acara stasiun TV FOX yang telah berjasa bagi kemenangannya, untuk mengucapkan terima kasih. Ini sangat berbeda dengan seorang Trump yang kita lihat di televisi sebagai seorang pengusaha yang begitu angkuh dan arogan (bahkan terkadang tidak sopan).

Kurang berterima kasih adalah penyakit seluruh umat manusia. Umumnya masyarakat sangat mudah lupa terhadap pertolongan yang telah diberikan orang lain. Sebagai seorang selebriti sekaligus taipan bisnis yang selalu dimanja dan dikelilingi banyak orang, memiliki perasaan berterima kasih kepada orang-orang yang telah membantunya, adalah lebih berharga dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki background seperti itu. (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular