Penelitian terbaru menunjukan, orang yang berolahraga sekali atau dua kali seminggu menurunkan risiko kematian dalam dasawarsa mendatang, hampir sama dengan orang yang berolahraga rutin. Bahkan orang yang kurang olahraga seperti yang direkomendasikan , memiliki risiko kematian yang lebih rendah dibandingkan dengan orang yang tidak berolahraga sama sekali.

“Jika seseorang tidak suka berolahraga, hal terbaik yang dilakukannya adalah menghirup udara segar sambil jalan-jalan,” kata Hannah Arem, seorang peneliti kesehatan di Universitas George Washington, AS. Orang yang menganggap dirinya tidak memiliki cukup waktu untuk berolahraga, hasilnya “memicu atau memotivasi” seseorang untuk berolahraga”.

Hannah Arem tidak berperan dalam penelitian tersebut, tetapi menulis sebuah komentar yang diterbitkan di JAMA Internal Medicine.

Berikut adalah beberapa hal yang perlu diketahui.

Seberapa banyak olahraga yang kita lakukan?

Pedoman dunia dan di Amerika Serikat menganjurkan 150 menit untuk olahraga intensitas sedang atau 75 menit untuk olahraga intensitas berat setiap minggu, yang dibagi rata setiap hari.

Pedoman itu berdasarkan pada banyak penelitian yang dilakukan sebelumnya yang menunjukkan sejumlah manfaat risiko kematian dini yang diukur pada penelitian tersebut.

Bagaimana penelitian dilakukan?

Peneliti di Universitas Loughborough di Inggris menggunakan survei yang dilakukan oleh pewawancara yang terlatih terhadap hampir 64.000 orang dewasa di Inggris dan Skotlandia dari tahun 1994 sampai tahun 2008. Pada tahun 2016, 8.802 orang dewasa tersebut meninggal.

Peserta penelitian dikelompokkan sesuai dengan seberapa sering olahraga yang dilakukannya pada bulan sebelumnya:

  • Peserta yang tidak aktif berolahraga (tidak ada waktu untuk berolahraga), 63 persen.
  • Peserta yang berolahraga secara teratur (sesuai dengan pedoman), 11 persen.
  • Peserta yang berolahraga pada waktu senggang (sesuai dengan pedoman mingguan namun hanya satu atau dua sesi), 4 persen.
  • Peserta yang aktif berolahraga namun tidak sesuai dengan pedoman (kurang anjuran mingguan), 22 persen.

Hasil

Risiko kematian sekitar 30 persen lebih rendah pada peserta yang berolahraga pada waktu senggang dibandingkan dengan peserta yang tidak aktif berolahraga. Berolahraga secara rutin sedikit lebih menurunkan risiko kematian dini, sebesar 35 persen.

Semua aktivitas membantu mengurangi risiko kematian penyakit jantung sekitar 40 persen, dibandingkan dengan berleha-leha di sofa.

Bahkan, ahli olahraga sendiri mengatakan. Berolahraga memiliki banyak manfaat lain seperti membantu mencegah demensia, depresi, tekanan darah tinggi, pola tidur yang tidak sehat dan diabetes, di mana semua penyakit tersebut menyebabkan kematian, kata Arem.

“Berdasarkan penelitian ini, saya tidak tahu apakah kita siap untuk mengatakan bahwa seseorang tidak harus berolahraga melebih dari waktu yang dianjurkan pedoman meskipun ia sanggup melakukannya,” kata Dr. Daniel Rader, kepala kardiologi pencegahan di Universitas Pennsylvania.

“Orang yang berolahraga lebih teratur melaporkan bahwa ia merasa memiliki kualitas hidup yang lebih baik,” lanjutnya.

Namun, hasilnya “cukup menarik dan agak mengejutkan” untuk “ukuran” berolahraga supaya bermanfaat untuk kesehatan. Rader mengatakan,” Bahkan jika Anda hanya memiliki waktu untuk melakukan sesuatu seminggu sekali, penelitian ini menyarankan berolahraga masih layak dilakukan.”

Catatan

Lebih dari 90 persen peserta penelitian adalah kulit putih, sehingga hasilnya mungkin berbeda dengan kelompok ras atau etnis lainnya. Berolahraga hanya dinilai pada awal penelitian dan dapat berubah dari waktu ke waktu.

Keterbatasan terbesar adalah bahwa penelitian observasional seperti ini hanya dapat menyarankan berolahraga dan risiko kesehatan yang mungkin terkait; peserta penelitian tidak dapat membuktikan hal itu.(AP/Vivi)

Share

Video Popular