Banyak manfaat untuk mengerti lebih dari satu bahasa. Sebagai contoh, telah terbukti bahwa orang usia lanjut yang berbicara lebih dari satu bahasa kurang cenderung menderita demensia.

Selain itu, otak yang paham dua bahasa menyaring gangguan lebih baik, dan belajar beberapa bahasa meningkatkan kreativitas. Bukti juga menunjukkan bahwa belajar bahasa asing yang kedua lebih mudah daripada saat belajar bahasa asing yang pertama.

Mengapa belajar bahasa asing adalah penting saat di jenjang universitas?

Sebagai ahli bahasa terapan, saya belajar bahwa belajar beberapa bahasa memiliki manfaat kognitif dan emosional. Salah satu manfaat yang belum jelas adalah bahwa pembelajaran bahasa meningkatkan toleransi.

Hal ini terjadi dalam dua cara penting.

Pertama adalah bahwa belajar bahasa asing membuka mata seseorang untuk melakukan sesuatu dengan cara berbeda dari yang biasa dilakukannya, yang disebut “kompetensi budaya”.

Kedua berkaitan dengan tingkat kenyamanan seseorang ketika berhadapan dengan situasi yang tidak biasa, atau “toleransi ambiguitas”.

Memahami lintas budaya

Kompetensi budaya adalah kunci untuk berkembang di dunia yang semakin global. Mengapa belajar bahasa asing secara khusus meningkatkan kompetensi budaya? Jawabannya dapat dimengerti dengan meneliti berbagai jenis kecerdasan.

Psikolog Robert Sternberg peneliti tentang kecerdasan menjelaskan berbagai jenis kecerdasan dan bagaimana kecerdasan berkaitan dengan pembelajaran bahasa orang dewasa. Dia menyebutnya sebagai “kecerdasan praktis” yang mirip dengan kecerdasan sosial yang membantu seseorang belajar informasi yang terselubung dari lingkungannya, termasuk gerakan bermakna atau isyarat sosial lainnya.

Belajar bahasa asing pasti mempelajari budaya yang berbeda. Siswa memperoleh pengetahuan budaya baik di kelas bahasa maupun melalui pengalaman.

Peneliti Hanh Thi Nguyen dan Guy Kellogg telah menunjukkan bahwa ketika siswa belajar bahasa asing, ia mengembangkan cara baru untuk memahami budaya melalui analisis stereotip budaya. Kedua peneliti tersebut menjelaskan bahwa “belajar bahasa asing kedua mengambil alih bentuk bahasa serta cara berpikir dan berperilaku”.

Dengan bantuan instruktur, siswa secara kritis berpikir tentang stereotip budaya yang berbeda yang berkaitan dengan makanan, penampilan dan gaya percakapan.

Cara kedua di mana orang dewasa belajar bahasa asing akan meningkatkan toleransi belajar yang berhubungan dengan kenyamanannya ketika berhadapan dengan “toleransi ambiguita”.

Seseorang dengan toleransi ambiguitas yang tinggi menemukan situasi asing itu menarik, bukannya menakutkan. Penelitian saya terhadap motivasi, kecemasan dan keyakinan menunjukkan bahwa belajar bahasa asing meningkatkan toleransi seseorang terhadap ambiguitas, terutama ketika mempelajari lebih dari satu bahasa asing.

Percakapan dalam bahasa asing pasti akan melibatkan kata-kata yang tidak dikenal. Percakapan terganggu jika salah satu pembicara terus-menerus mengatakan, “Tunggu — Saya tidak tahu kata itu. Mari saya mencarinya di kamus.” Seseorang dengan toleransi ambiguitas yang tinggi dengan nyaman mempertahankan percakapan meskipun ada kata-kata asing yang tidak dimengertinya.

Ahli bahasa terapan Jean-Marc Dewaele dan Li Wei juga mempelajari toleransi ambiguitas dan menunjukkan bahwa seseorang yang berpengalaman belajar lebih dari satu bahasa asing secara benar lebih memiliki toleransi ambiguitas.

Toleransi ambiguitas yang tinggi membawa banyak keuntungan, di mana membantu siswa menjadi kurang cemas dalam interaksi sosial dan dalam pengalaman belajar bahasa asing yang berikutnya. Tidak mengherankan, semakin banyak pengalaman belajar bahasa asing, maka semakin nyaman seseorang mengalami ambiguitas.

Dan tidak hanya sampai di situ.

Seseorang dengan tingkat toleransi ambiguitas yang lebih tinggi juga terbukti lebih berjiwa kewirausahaan (yaitu, lebih optimis, inovatif dan tidak keberatan mengambil risiko).

Adalah penting untuk memahami bahasa asing guna menjadi penduduk dunia.( Universitas South Florida/ Amy Thompson/Vivi)

Share

Video Popular