Oleh: Zang Shan

Kepala negara RRT Xi Jinping berpidato di World Economic Forum Davos Swiss beberapa waktu lalu, banyak kaum kapitalis bersuka-cita. Termasuk seorang kapitalis Inggris yang dilaporkan oleh French Broadcasting Corporation.

Ia merasa surprise dan dengan ceria mengatakan, ini seharusnya merupakan pidato seorang Presiden Amerika Serikat. Isi pidato Xi yang membuat kaum kapitalis bergembira sebenarnya hanya satu hal yakni bersikeras mempromosikan “globalisasi”.

Selama dua dekade terakhir, RRT adalah penerima manfaat terbesar dari globalisasi yang didorong oleh AS. Orang-orang yang menghendaki RRT mendorong “globalisasi” sebenarnya kurang berwawasan.

Tertulis dengan jelas dalam konstitusi RRT bahwa terdapat empat point yang harus dipertahankan,  Marxisme. Karl Marx adalah pelopor komunisme, juga adalah pemimpin pertama Komunis Internasional. Dalam 100 tahun pasca Marx, Partai Komunis memiliki beberapa “Komunis Internasional (Komintern)”, sedangkan Partai Komunis Tiongkok (PKT) awalnya adalah Komunis Internasional ke tiga cabang Far East (Timur Jauh) yang dibentuk dan dipimpin oleh Uni Soviet.

Pada pembukaan Kongres Nasional PKT semua hadirin rutin diharuskan menyanyikan lagu internasional,  “Internasional (Komintern) harus direalisasikan”. Makna awal dari “Internasional” di lagu itu adalah singkatan dari Asosiasi Buruh Internasional.

Mao Zedong mengatakan, pertama-tama Partai Komunis harus membebaskan seluruh umat manusia, akhirnya barulah kaum proletar  itu sendiri. Demi menggalakkan internasionalisasi Partai Komunis, slogan yang diserukan oleh orang komunis pada awalnya adalah “Buruh tanpa ibu pertiwi”.

Satu-satunya poster raksasa di lapangan Tiananmen, Beijing yang muncul lebih awal dan menghilang lebih belakangan dari “Hidup Ketua Mao!” adalah “Kaum proletar seluruh dunia bersatulah!”

Itu sebabnya, sejak awal Partai Komunis sudah akan mengglobalisasi dunia, hanya saja globalisasi dari kelas proletar dan Partai Komunis. Tidak heran jika French Broadcasting Corporation yang melaporkan bahwa “Xi Jinping sangat menganjurkan globalisasi kapitalisme”, kontan menerima ejekan dari mayoritas netizens Tiongkok.

Namun laporan French Broadcasting Corporation tidak salah, sekarang yang digembar-gemborkan dan digalakkan oleh PKT bukan globalisasi Komunisme, benar-benar asli globalisasi kapitalisme, namun sesungguhnya masih berideologikan “nilai-nilai inti” Komunisme.

Dipikir secara lebih mendalam, masalah ini adalah kasus filsafat yang sangat mendalam dan bukan kasus politik. Di zaman Tiongkok kuno, kata yang bersepadanan dengan ilmu filsafat mestinya adalah ‘Tao (jalan menuju kesempurnaan).

Setiap hal memiliki ‘Tao’. Intelektual dalam membahas masalah metafisik disebut ‘berdiskusi Tao’, bahkan penyamun Song Jiang (dalam Novel klasik Tiongkok kuno: “Batas Air”) menyebutkan perampokan yang ia dan kelompoknya lakukan adalah ‘mewakili Langit dalam melaksanakan Tao’, menempelkan label ilmu filsafat bagi dirinya sendiri.

Semua ilmu pengetahuan di Tiongkok kuno adalah ilmu tentang keseimbangan, ada keseimbangan dari dwi faktor yakni Yin dan Yang dari Taichi. Ada keseimbangan dari panca faktor yakni: Metal, kayu, air, api dan tanah, ada pula keseimbangan dari heksa faktor yakni Patkwa (bagua) dan I Ching (yijing).

PKT berawal dari bertindak “ala Robin Hood”, memperjuangkan hak-hak sipil, menghendaki demokrasi, anti-tradisi dan revolusi besar. Pada akhirnya setelah 60 -70 tahun, berjalan kembali ke ‘perjalanan kapitalisme’ yang menyebabkan kesenjangan besar antara kaya dan miskin. Konflik sosial meruncing dan pejabat korup merajalela. Boleh dikatakan tepat menggambarkan suatu lingkaran raksasa. Mereka mengatakan, sebutan dari lingkaran itu adalah “Impian Tiongkok”.

Dulu Partai Komunis mendidik rakyat Tiongkok dengan mengatakan bahwa di dunia ini rakyat di bawah pemerintahan PKT akan hidup bahagia. Namun di dunia ini masih ada 70% manusia yang berada dalam kesengsaraan, maka dari itu mereka harus ‘dibebaskan’.

Masalahnya terletak pada, berbagai liku-liku (gerakan politik) silih berganti sebentar kiri sebentar kanan, menyebabkan masyarakat di daratan Tiongkok telah mencampakkan ideologi komunisme dan tidak lagi mempercayai PKT, karena di 6 dekade yang telah berlalu, janji-janji mereka tidak ada satupun yang ditepati.

Jika masih terus memeluk komunisme demi berglobalisasi, jangankan 60 tahun, diperkirakan 5 – 6 tahun ke depan, 70% masyarakat dunia akan tersadarkan. Sebuah globalisasi yang dikemas dengan komunisme akan sulit untuk bergerak walau hanya selangkah.  (lin/whs/rmat)

Share

Video Popular