Oleh: Xin Xing

Pernikahan adalah pengaturan salah satu eksistensi dan gaya hidup yang diberikan Tuhan kepada umat manusia, tujuan dan maknanya dapat ditinjau dari beberapa aspek.

  1. Salah satu tujuan utamanya adalah agar manusia dimungkinkan untuk melanjutkan garis keturunan/keluarganya dan mengembang-biakkan masyarakat umat manusia.
  2. Pernikahan membentuk sebuah keluarga dan keluarga merupakan sel kecil dalam masyarakat.
  3. Melalui pengaturan pernikahan, manusia juga diberikan salah satu kesenangan untuk memuaskan kebutuhan manusia akan cinta, sehingga manusia dapat hidup dengan penuh kenikmatan.
  4. Pemenuhan takdir pertemuan, takdir (hutang) budi-dendam dan perwujudan dalam menuai imbalan akibat perbuatan baik maupun buruk di masa lalu.

Di ruang/dimensi yang berbeda dan tingkat (kehidupan) yang berbeda mungkin memiliki metode berbeda dalam menghasilkan kehidupan yang bereproduksi. Sedangkan di dunia fana, pernikahan dan kehidupan suami-istri adalah metode untuk bereproduksi.

Di zaman sekarang yang disebut “manusia beradab”, para ahli dan ilmuwan percaya bahwa konsepsi tujuan pernikahan yang meneruskan keturunan itu semakin lama semakin memudar. Ini merupakan perwujudan kemajuan peradaban manusia, perwujudan sejak dari zaman primitif hingga zaman peradaban tinggi sekarang. Pemahaman semacam ini adalah pemahaman yang bermetamorfosa, adalah manifestasi penjauhan diri dari Tuhan.

Manusia boleh memiliki kehidupan pernikahan yang (wajar dan) normal. Sedangkan hubungan seksual di luar nikah, termasuk yang disebut pasangan pria dan wanita hidup bersama tanpa nikah (kumpul kebo) adalah perbuatan dosa, bukan pengaturan dan persetujuan oleh Tuhan. Dalam hal ini manusia zaman modern sudah sangat jauh dari pengaturan Tuhan.

Manusia modern terlalu banyak penekanan pada “cinta diatas segalanya”. Pada kenyataannya, secara tegas, cinta itu tidak eksis; sebagai kelakar. Sesungguhnya Tuhan itu tidak peduli tentang cinta manusia.

Dua insan manusia dapat timbul ‘asmara’bahkan memasuki jenjang pernikahan, adalah karena kedua orang itu berjodoh (suatu takdir pertemuan) dan wujud imbalan budi-dendam, juga adalah perwujudan akibat di kehidupan sekarang atas sebab yang telah dilakukan di kehidupan masa lalu (sebelumnya).

Konsepsi metamorfosa zaman modern hanya memperkuat hawa nafsu manusia, penekanan pada “cinta diatas segalanya” dan mengabaikan atau bahkan menolak takdir pertemuan, bagi yang lemah mental dan lemah pengendalian diri, begitu terperosok ke “jalan buntu” dan tidak mampu meloloskan diri. Bahkan yang terlalu sentimental bisa melakukan bunuh diri, itu sungguh menyedihkan.

Jodoh itu ada yang dangkal dan ada pula yang mendalam. Contoh yang dangkal adalah pertemuan sekali saja dalam hidup, yang mendalam adalah selama beberapa kali reinkarnasi telah menjadi suami istri.

Hati manusia yang bersikeras mungkin dapat dibantu direalisasikan (oleh-Nya) dalam pengaturan tertentu di kehidupan yang akan datang, tetapi pengaturan tersebut tidak berlaku pada kehidupan kali ini.

Jika bersikeras memaksakan kehendak sesuai dengan keinginan dan tuntutan sendiri, maka ada kemungkinan dapat tergelincir ke dalam bahaya melakukan kejahatan, merugikan orang lain dan diri sendiri.

Manusia zaman sekarang, demi cinta nekad melakukan hal-hal buruk, bahkan melakukan pembunuhan. Maka itu hiduplah secara alami, bertindaklah sesuai dengan takdir jodoh, ini barulah kehidupan yang diinginkan Tuhan.

Berdasarkan pengertian di atas, sebagai seorang manusia, sikap terhadap perkawinan seharusnya adalah mengakui pernikahan adalah kondisi normal manusia dan dengan rasa penuh tanggung jawab di dalam membentuk keluarga.

Dari aspek emotional (perasaan), ekonomi, dalam berbagai aspek hubungan dari atas sampai ke bawah di sebuah rumah tangga, harus dapat mempertahankan hubungan keluarga dengan baik, bertanggung jawab serta peduli terhadap pasangan masing-masing.

Dalam menangani hubungan antara suami dan istri, lakukanlah secara alami, dalam menghadapi konflik, segera berintropeksi pada diri sendiri, dapat bersabar dan bertoleransi, persoalan yang sudah lalu biarlah berlalu. Hal baik maupun buruk yang dijumpai jalanilah sesuai dengan takdir, maka kedepannya diharapkan dapat hidup dengan aman dan bahagia. (hui/whs/rmat)

Share

Video Popular