Tuhan Tolonglah Saya

539
Tuhan
Ilustrasi.

Di sebuah desa, hujan turun sangat lebat, dan membanjiri seluruh desa. Melihat luapan banjir telah setinggi lutut, seorang pendeta tampak khusyu’ memanjatkan do’a memohon kepada Tuhan di sebuah gereja.

Sambil mengayuh sampannya, seorang penyelamat menghampiri pendeta itu dan berkata : “Bapa, ayo cepat naiklah ke sampan! Kalau tidak air bah ini akan menenggelamkanmu!” Tidak! Saya yakin Tuhan akan menyelamatkan saya, kau selamatkan yang lainnya saja,” jawab pendeta itu dengan yakin.

Tak lama kemudian, air sudah setinggi dada pendeta, tapi sang pendeta bersikukuh tetap berdiri di atas altar. Dan pada saat itu, seorang polisi mengendarai speedboatnya menghampiri pendeta dan berkata : “Bapa, ayo cepat naik, kalau tidak bapa akan tenggelam!” Tapi, lagi-lagi pendeta itu mengatakan : “Tidak, saya ingin menjaga gereja ini, Tuhan pasti akan menyelamatkan saya. Kau pergilah selamatkan korban lainnya.”

Beberapa saat kemudian, air bah pun mengenangi segenap gereja, sementara sang pendeta mencengkram dengan erat kayu salib di gereja. Sayup-sayup terdengar raungan helikopter terbang menuju gereja, kemudian sang pilot melontarkan tangga tali dan berteriak : “Bapa, ayo cepat naik, ini adalah kesempatan terakhir, kita tidak ingin melihat Bapa tewas tenggelam!!” Namun, sang pendeta tetap saja bersikeras dan dengan teguh mengatakan : “Tidak, Tuhan pasti akan menyelamatkan saya. Tuhan pasti akan berasama saya! Lebih baik kau selamatkan korban lainnya!”

Akhirnya, gelombang air bah pun menenggelamkan pendeta. Setelah tiba di surga, pendeta itu dengan marah bertanya pada Tuhan : “Oh, Tuhanku, akhirnya saya mempersembahkan hidup saya, dengan tulus dan jujur melayani Engkau, tapi mengapa Engkau tidak menyelamatkan saya?”

Mendengar keluhan pendeta, Tuhan pun menjawab : “Apa kau kira aku tidak menolongmu? Pertama, aku mengirim sampan untuk menyelamatkanmu, tapi kau tolak ; Kedua, aku kirimkan lagi speedboat, tapi lagi-lagi kau menolaknya ; Untuk yang kedua, aku memperlakukan kamu sebagai tamu negara, mengirim helikopter untuk menyelamatkanmu, tapi kau tetap saja menolaknya. Saya pikir, kau ingin segera kembali ke sisiku.”

Kesimpulan cerita singkat di atas : Ada kalanya, rintangan hidup itu disebabkan oleh sikap keras kepala dan kebodohan yang berlebihan. Camkan baik-baik, di saat orang lain mengulurkan tangannya / memberikan pertolongan, kau harus bersedia menjulurkan tangan, dengan begitu orang lain baru bisa memberikan bantuan! (Epochtimes / Ru Zhen /Jhn)