“Saya sangat marah ketika kekasih saya mengatakan akan menelpon saya namun kenyataannya tidak,” kata Ellen mengenai kekasihnya. Teman Ellen yang berempati padanya menanggapi: “Ya, saya dapat mengerti apa yang membuat kamu marah. Saya pikir kamu merasa sakit hati.”

Tidak masalah apakah Ellen setuju atau tidak dengan perkataan temannya, namun yang penting adalah telah terjadi komunikasi di antara mereka, sehingga Ellen belajar sesuatu yang berguna mengenai emosinya, dan teman juga belajar sesuatu mengenai Ellen.

Empati adalah kemampuan hubungan antara dua orang atau lebih yang dapat dilihat sebagai bagian dari kecerdasan emosional. Psikoterapis Carl Rogers menulis bahwa empati dapat meningkatkan hubungan dan dianjurkan untuk orang biasa dan terapis.

Penelitian mendukung pentingnya berempati. Profesional kesehatan yang menunjukkan empati yang tinggi cenderung melakukan pengobatan yang lebih baik untuk pasiennya dan hasil pengobatan yang lebih baik. Dan di luar segi kesehatan, empati dikaitkan dengan hubungan pribadi yang lebih baik dan perilaku sosial yang lebih sukses.

Dalam bentuk empati yang paling lengkap, empati membuat kita memahami emosi orang lain, turut merasakannya dan menanggapinya dengan tepat.

Ketiga aspek empati tersebut terdiri dari kognisi empatik, emosi dan perilaku.

Beberapa orang pandai memahami emosi orang lain namun tidak pandai turut merasakannya atau tidak pandai memberi tanggapan yang tepat. Jadi dapatkah kita mengajarkan orang lain mengenai aspek empati yang tidak dimilikinya?

Belajar empati secara alami

Orang yang memiliki kepribadian antisosial atau narsis cenderung memiliki gangguan empati. Seperti pada penderita autisme atau schizophrenia. Banyak anak-anak dan beberapa orang dewasa tanpa diagnosis jiwa yang memiliki empati yang rendah.

Beberapa orang secara genetik cenderung menjadi sangat empatik atau tidak empatik. Tetapi, secara umum, kita mengembangkan empati pada masa kanak-kanak, terutama dengan cara mengamati bagaimana orang lain menunjukkan empatinya.

Kita menerima ekspresi empati dan menilai empati yang kita terima tersebut apakah bermanfaat untuk segi emosional kita. Kemudian kita menunjukkan empati kepada orang lain dan menerima respons positif, seperti pujian atau senyum, yang memperkuat tindakan kita.

Beberapa anak lebih beruntung daripada anak yang lain karena telah mengamati sejumlah episode empati dan menanggapi empati yang diterimanya.

Mengajar empati secara aktif kepada anak-anak, orang tua dapat menjelaskan emosinya pada saat acara yang bermakna. Orang tua juga dapat mendiskusikan emosi anak serta orang lain. Orang tua dapat menunjukkan hubungan antara peristiwa dan emosi.

Misalnya: “Ketika saya tahu bahwa Poppy menderita kanker, saya merasa terkejut pada awalnya, kemudian takut dan sedih.”

Orang tua dapat menunjukkan empatinya ketika anak mengalami emosi yang kuat, apakah rasa takut, terkejut atau sesuatu yang lain.

Orang tua dapat mengetahui empati si anak dengan mengajukan pertanyaan seperti ini kepadanya, “Menurut kamu bagaimana perasaan saudaramu saat kamu melempar mainannya dan pecah?” Orangtua juga dapat memuji anak karena ia telah menunjukkan empatinya.(University of New England/John Malouff/Vivi)

Bersambung

 

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular