Ketika Anda menderita infeksi, tubuh merespons dengan menyebabkan kemerahan, pembengkakan, dan nyeri pada tubuh. Ini disebut peradangan. Inilah cara sistem kekebalan tubuh mengenyahkan kuman penyakit.

Respons ini adalah bagian penting dari proses penyembuhan. Tetapi peradangan juga dapat bekerja melawan tubuh-bila ada yang salah, peradangan dapat menjadi pendorong utama timbulnya penyakit.

Bagaimana sesuatu yang menyembuhkan juga dapat menimbulkan penyakit? Hal ini tergantung pada seberapa lama peradangan terjadi.

Stres memicu peradangan. Jika stres adalah infeksi, maka sistem kekebalan tubuh mulai merespons peradangan sampai serangan kuman penyakit digagalkan, dan tubuh kembali normal. Tetapi jika stres terjadi terus-menerus maka sistem kekebalan tubuh tidak dapat membunuh kuman penyakit, peradangan tidak pernah berakhir, dan proses yang seharusnya bersifat sementara menjadi menetap.

Peradangan diatur oleh zat yang disebut sitokin, yang merupakan protein yang dihasilkan oleh sel kekebalan tubuh untuk berkomunikasi satu sama lain. Bahan kimia peradangan ini diproduksi dalam menanggapi pilek atau flu, dan kita merasa pegal dan lelah selama beberapa hari sampai sistem kekebalan tubuh menang terhadap penyakit.

Namun, ketika sitokin dipicu dalam menanggapi kecemasan atau depresi, sitokin tidak membawa bantuan, malah membuat tubuh terluka. Itu sebabnya orang dengan peradangan kronis selalu merasa pegal dan lelah.

Tetapi peradangan kronis lebih dari sekedar ketidaknyamanan. Dalam beberapa dekade terakhir, peneliti menemukan bahwa tetesan sitokin yang stabil ini mendasari sejumlah penyakit seperti Alzheimer, arthritis reumatoid, asma, kanker tertentu, diabetes, penyakit jantung, obesitas, dan osteoporosis, serta gangguan kejiwaan seperti kecemasan, gangguan bipolar, depresi, skizofrenia, dan gangguan stres pasca-trauma.

Pemahaman baru peradangan ini adalah salah satu penemuan terpenting dalam penelitian kesehatan dalam beberapa tahun terakhir, menurut Dr. George M. Slavich, direktur di Laboratorium Pengkajian dan Penelitian Stres di Universitas of California-Los Angeles (UCLA).

“Semua mengatakan, peradangan terlibat minimal dalam delapan dari 10 penyebab utama kematian di Amerika Serikat saat ini. Memahami bagaimana peradangan memperburuk kesehatan, serta bagaimana dan kapan kita dapat melakukan intervensi untuk mengurangi risiko penyakit yang terkait dengan peradangan, seharusnya menjadi prioritas utama ilmiah dan publik”, tulis Slavich pada bulan Maret 2015 dalam sebuah artikel di jurnal Immunity Brain Behavior.

Stres terus-menerus, mempercepat penuaan

Beberapa peneliti menunjukkan stres tiada hentinya pada kehidupan modern sebagai penyebab utama timbulnya peradangan kronis. Salah satu peneliti tersebut adalah Dr. William Malarkey, profesor emeritus penyakit dalam dan direktur penelitian klinis di Pusat Klinis dan Ilmiah Translasional (TTB) di Ohio State University Wexner Medical Center.

Ketika kita terpaksa menanggung stres yang terus-menerus, sistem endokrin dipacu bekerja keras, sama seperti tubuh yang siap siaga saat bertemu beruang di sudut sana, Malarkey mengatakan.

Selama periode stres yang berkepanjangan, orang tampak lebih tua dari usia sebenarnya: presiden ketika mengakhiri masa jabatannya, pasangan yang berjuang melalui sebuah perceraian, atau seseorang yang menderita akibat kematian orang yang dicintainya.

Kita adalah makhluk tangguh, sehingga tubuh kita dapat pulih setelah melalui periode yang berat. Namun jika stres tidak berakhir, dan kemampuan kita untuk pulih berkurang, maka peradangan pada akhirnya menyebabkan penyakit.

“Serangan jantung terjadi tidak hanya hari ini, karena proses peradangannya sudah dimulai 20 tahun atau 30 tahun yang lalu,” kata Malarkey.

Membangun kekebalan

Stres adalah kenyataan hidup, tetapi mengapa beberapa orang menangani masa sulitnya jauh lebih baik daripada orang lain? Dalam mempelajari respons stres, Malarkey telah mengidentifikasi lima domain yang bertindak sebagai penyaring kesulitan. Dia menyebutnya sebagai model REMAP.

  • R adalah untuk relational engagement (keterlibatan relasi): Hubungan dengan anggota keluarga dan teman.
  • E adalah untuk emotional sensibility (kepekaan emosi): Kehidupan emosi yang sehat.
  • M adalah untuk meaningful engagement (keterlibatan yang berarti): Kepuasan dan makna dalam berbagai aspek kehidupan.
  • A adalah untuk awareness of self and others (kesadaran diri dan orang lain): Persepsi dan refleksi yang mempengaruhi bagaimana kita merasa mengenai diri sendiri dan bagaimana kita berhubungan dengan orang lain.
  • P adalah untuk physical health behaviors (perilaku kesehatan fisik): Mendapatkan nutrisi yang baik, olahraga teratur, dan tidur yang berkualitas baik, dan pantang merokok dan pantang menggunakan zat berbahaya lainnya.

Semakin kita kuat dalam melestarikan domain ini, maka semakin baik ketahanan kita terhadap stres, kata Malarkey. Jika kita gagal dalam domain ini, maka sistem kekebalan tubuh kita akan diaktifkan.

Kabar baiknya adalah bahwa perubahan adalah mungkin. Penelitian menunjukkan bahwa ketika pasien bekerja meningkatkan lima domain ini, ia dapat mencegah efek dari stres kronis.

“Hanya dengan berpikir dengan tepat, Anda dapat menghilangkan sitokin dari dalam sistem kekebalan tubuh, dan peradangan mulai reda. Kami mampu menurunkan faktor risiko penyakit jantung pada penanda inflamasi hanya dengan beberapa hari melakukan meditasi kesadaran,” Malarkey. .( Epochtimes/ Conan Milner/Vivi)
Bersambung

Share

Video Popular