JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan memulai awal tahun 2017 pada Januari-Februari adalah puncak musim hujan disertai longsor dan puting beliung. Selanjutnya kebakaran hutan dan lahan diprediksi akan mulai mengancam karena lebih awal memasuki musim kering.

“Januari-Februari adalah puncak musim penghujan dan hujan pada musim ini akan lebih basah, tantangan banjir dan longsor serta puting beliung,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di kantor BNPB, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Rabu (1/2/2017).

Berdasarkan catatan BNPB, hingga Januari 2017 telah terdata sebanyak 262 kejadian bencana yang menyebabkan 19 korban meninggal dunia, 93 orang luka-luka, 162.185 jiwa mengungsi dan menderita di beberapa wilayah Indonesia.

Bencana sepanjang awal Tahun ini juga menyebabkan sebanyak 2.056 unit rumah rusak pada sejumlah daerah. Walaupun demikian, Banjir masih terjadi pada sejumlah daerah seperti  di Bima, sejumlah daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan.

Menurut Sutopo, sebanyak 262 bencana yang terdata menunjukan bahwa puting beliung adalah bencana paling dominan sebanyak 98 kali. Atas kejadian ini maka dampak perubahan iklim sangat nyata telah merubah pola musim iklim yang menyebabkan curah hujan ekstrim semakin meningkat. Musim penghujan kali ini, kata Sutopo, didikuti oleh angin kencang sehingga menyebabkan puting beliung meningkat.

Pada prinsipnya, lanjut Sutopo, bencana puting beliung tak mengenal tempat mulai kawasan pesisir, pegunungan, perkotaan maupun pedesaan juga terancam dari puting beliung. Hingga saat ini masih belum ada sistem peringatan dini tentang puting beliung.

Sedangkan banjir tetap menjadi bencana paling banyak menimbulkan korban jiwa pada awal tahun ini dengan jumlah 13 orang meninggal dunia. Maka jika kemudian bandingkan Januari 2017 terjadi peningkatan 25 persen kejadian banjir pada Januari 2015.

Kebakaran Hutan dan Lahan

Ancaman kebakaran hutan dan lahan masih terus berpeluang terjadi dengan adanya lahhan yang kering. Ditambah dengan terjadinya kebakaran pada sejumlah lahan yang jauh dari akses air hingga lebih sulit untuk dipadamkan segera. Hal demikian terjadi dikarenakan kondisi musim hujan lebih normal pada tahun ini.

“2017 adalah kondisi musim normal maka otomatis ancamana kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan akan lebih besar dibandingkan 2016, tetapi lebih kecil dari 2015 berdampak dari Elnino,” jelas Sutopo.

Menurut Sutopo,  kondisi normal ancaman kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan berebeda pola masing-masing. Pantauan BNPB,  kebakaran hutan dan lahan di Sumatera khususnya Riau terdapat dua periode musim kemarau yakni pertama pada bulan Februari- Maret adalah kemarau fase pertama.

Pada kemarau kemarau fase petama ini, kata Sutopo, situasi tak kering tetapi menyebabkan sering kali memicu lahan kering dan mudah dibakar. Selanjutnya pada Maret dan Juni, wilayah Riau akan masuk fase musim hujan, kemudian selanjutnya pada Juli-Oktober akan kembali kemarau dan memasuki musim kering.

Oleh karena itu sebagai langkah antisipasi, Provinsi Riau sejak 24 Januari 2017 telah menetapkan siaga darurat karhutla. Langkah pemprov Riau ini dilakukan karena Dumai dan Kabupaten Rohil telah menetapkan status siaga darurat. Tak hanya Riau, provinsi Sumatera Selatan juga menetapkan siaga karhutla.

“Kondisi siaga darurat maka BNPB akan mengerahkan bantuan kepada Riau dan Sumsel, termasuk pengerahan helikopter water bombing maupun dana siap pakai,” kata Sutopo. (asr)

 

Share

Video Popular