Pertama di Dunia, Lapor dan Pantau Banjir Lewat Platform PetaBencana

151
Suasana saat BNPB dan MIT Urban Risk luncurkan platform PetaBencana.id untuk antisipasi banjir secara realtime dari media sosial dan digital di Gedung BNPB, Jakarta, Rabu 1 Februari 2017 (Foto : M.Asari/Erabaru.net)

JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Massachusetts Information Technology (MIT) Urban Risk Lab meluncurkan platform PetaBencana.id. Platform ini memuat peta kebencanaan yang gratis dan open source serta pertama kali di dunia.

“PetaBencana dikembangkan bekerjasama dengan MIT, kita kembangkan adalah platform pertama di dunia, di mana pemantauan bencana digunakan di medsos secara realtime,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di kantor BNPB, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Rabu (1/2/2017).

Menurut Sutopo, platform ini sudah pernah diterapkan di DKI Jakarta PetaJakarta.org dan sukses besar. Pada hasil yang memuaskan di Jakarta, warga melaporkan secar langsung dengan menggunakan Media Sosial, sehingga BPBD DKI Jakarta dan BNPB bisa menyampaikan ke publik secara cepat.

Lebih rinci Sutopo memaparkan saat diterapkan di Jakarta diketahui secara cepat daerah dilanda genangan air, jumlah ketinggian dan pengungsi. Hingga selanjutnya cara kerja pelaporan dan pemnatauan bencana di Jakarta dikembangkan ke daerah sekitar Jakarta. Ini dikarenakan banjir yang terjadi di Jakarta diketahui berasal dari Luar Kota Jakarta.

Selanjutnya penggunaan paltform ini di Jabodetabek diargetkan berjumlah 31 juta jiwa,  kemudian akan dikembangkan di Kota Bandung dan Kota Surabaya.  Hal ini dikarenakan ketiga kota ini akan mulai mengaktikan program Smart City, sehingga total ditargetkan pengguna platfrom PetaBencana.id sekitar 50 juta jiwa.

Beberapa waktu mendatang,  platform ini terus dikembangkan untuk pemantaun bencana- bencana lainnya, seperti erupsi gunung api dan gempa bumi. Pastinya, tak semua informasi diloloskan tanpa verifikasi, hingga kemudian jika laporannya hoax atau menipu, maka tim PetaBencana bisa menghapusnya dari ruang kontrol BNPB.

PetaBencana.id tidak hanya mengumpulkan laporan hasil crowdsourcing dari media digital tetapi juga informasi terkait infrastruktur bencana. Peta dapat juga menampilkan tinggi muka air di pintu air dan lokasi pompa terdekat sebagai layer, sebagai gambaran lebih menyeluruh tentang situasi banjir.

“PetaBencana adalah satu-satunya platform yang dapat mengintegrasikan berbagai kanal media sosial yang populer,” kata Dr. Etienne Turpin, Co-Director PetaBencana.id dan Peneliti MIT Urban Risk Lab.

Menurut Etienne, pengguna dapat melapor seperti biasa melalui aplikasi pilihan mereka dan informasi tersebut dapat langsung diintegrasikan ke dalam peta. Platform ini gratis dan open source sehingga semua bisa mengakses melalui berbagai media termasuk HP selama bisa mengakses browser dan mendapat sambungan internet. Oleh karena itu, diharapkan partisipasi masyarakat luas dan pemerintah daerah sebagai langkah awal pelaporan bencana.

Pengguna dapat mengunjungi http://www.petabencana.id/ untuk mengakses informasi banjir terkini di wilayah Jabodetabek, Surabaya dan Bandung. Pengguna Twitter cukup mengirim tweet ke [email protected]* dengan *#banjir* dan *BencanaBot* akan otomatis memandu pengguna untuk mengisi laporan.

Pengguna Telegram juga dengan mudah untuk melaporkan banjir dengan mengirim pesan “*/banjir*” ke [email protected]*, yang akan membantu pengguna membuat laporan. Pengguna dapat menambahkan deskripsi, foto, tinggi banjir dan detail lokasi dalam laporan. (asr)