Dalam sejarah revolusi berdarah oleh partai komunis selama hampir seratus tahun, tidak hanya tokoh oposisi telah dihabisi, bahkan ketika melakukan penertiban di dalam internal partai, skala maupun cara pembunuhannya sangat mengejutkan.

Bagaimana Partai Komunis Tiongkok/PKT membunuh para anggotanya sendiri dalam gerakan “Penertiban Kelompok AB”?

Kelompok AB atau tepatnya “AB Anti-Red Group”, adalah organisasi “Anti-Bolshevik” yang didirikan oleh kaum anti komunis dari Partai Nasionalis (Kuo Min Tang) di masa perang Ekspedisi Utara pada 1926. Namun organisasi tersebut telah dibubarkan pada 1927.

Pada 1930, ketika PKT melakukan perebutan kekuasaan di provinsi Jiangxi, organisasi tersebut justru dijadikan alasan untuk membersihkan orang-orang yang tidak sepaham.

Oktober 1930, Mao Zedong yang kala itu menjabat sebagai Komisaris Politik Umum Red Army sekaligus Sekjend Komisi Umum, mengatasnamakan “penertiban Kelompok AB” memimpin Red Army yang dipimpinnya untuk melancarkan serangan pemusnahan fisik terhadap lawannya yakni Li Wenlin dan kawan-kawan yang merupakan pasukan Red Army (Tentara Merah) yang waktu itu berada di Jiangxi Barat.

Dalam waktu kurang dari sebulan, dari Red Army yang berjumlah lebih dari 40.000 personil itu sebanyak lebih dari 4.400 orang komplotan Kelompok AB berhasil dibersihkan.

Pada Desember, pembersihan tersebut merambah hingga pemerintahan pusat PKT di Futian, Jiangxi, dimulailah penangkapan terhadap kelompok AB pada Komisi Administratif Provinsi, pemerintah provinsi dan pasukan Red Army 20.

Menurut catatan pada laporan pekerjaan Komisi Provinsi Jiangxi PKT pada Mei 1932, “Dari setiap orang yang ditangkap, sedikitnya disiksa sekali, jika tidak mengaku, digunakan cara interogasi dengan siksaan. Jika masih tidak mengaku, siksaan tidak akan berhenti.”

Laporan menjelaskan, pada dasarnya metode penyiksaan adalah sebagai berikut, “Kedua tangan diikat dan digantung, tubuh tawanan tergantung di udara lalu dicambuk dengan tongkat bambu berujung ekor sapi, jika tidak mengaku tubuhnya disulut dengan dupa atau minyak tanah panas, tangannya dipaku di meja, sembilu ditusukkan ke dalam kuku, bagian bawah tubuh dibakar, diiris silet dan lain-lain, siksaan yang dilakukan di berbagai tempat sangat beraneka ragam, bahkan ada juga yang menyiksa dengan membelah perut mengiris liver.”

Menurut keterangan pada buku “AB Group and Futian Incident Whole Story”, tubuh korban yang disiksa tidak utuh lagi, “jari tangan patah, luka bakar di sekujur tubuh, suara jeritan menggetarkan langit dan terus mengiang telinga.”

Banyak tawanan yang disebut sebagai anggota kelompok AB menjadi korban akibat “diperiksa” dengan siksaan seperti itu yang akhirnya mengaku walau sebenarnya tidak terlibat.

Dan siapa pun yang tidak kejam dalam menyiksa para anggota AB, maka salah-salah akan dianggap terkait dengan AB.

Seketika itu juga setiap orang merasa terancam, yang kemudian memicu terjadinya pemberontakan Red Army 20 yang disebut Pemberontakan Futian – personel Red Army 20 yang tidak puas dengan penertiban tersebut melakukan perlawanan bersenjata dan meninggalkan Futian.

Akan tetapi, Red Army 20 dengan cepat sudah terkepung oleh pasukan Red Army pusat dan dihabisi, sebanyak lebih dari 700 orang perwira dengan pangkat wakil pemimpin pleton ke atas semua dibunuh, hanya beberapa orang yang beruntung lolos.

Setelah peristiwa Futian itu, gerakan pembersihan meluas hingga ke wilayah Soviet (wilayah yang diduduki oleh pasukan PKT) di berbagai penjuru.

April 1931, PKT mengutus Zhang Guodao ke wilayah Soviet di  basis revolusi di wilayah gunung Dabie PKT untuk menjabat sebagai Sekjend Cabang Sentral PKT merangkap sebagai Ketua Komisi Militer.

Di masa jabatannya Zhang Guotao menangkap semua orang yang menentangnya dan memvonis mereka terlibat kejahatan anti-revolusi. Lalu diam-diam pemimpin Red Army di wilayah gunung Dabie yang juga merupakan tokoh pendiri Red Army yakni Xu Jishen ditangkap oleh Zhang Guodao,

Sejarawan PKT di video resmi pemerintah Sohu, “Mereka mengikat Xu Jishen pada seekor kuda dan diseret, setelah beberapa kilometer, kuda itu terus dipecuti, Xu Jishen terus diseret di tanah, begitulah Xu disiksa sampai mati.”

Waktu itu istri Xu Jishen yang sedang hamil juga dibunuh diam-diam. Zhang Guodao juga memerintahkan Biro Pengawal Politik Pusat untuk menculik Cheng Xunxuan yang baru berusia 20 tahun, istri Komandan Pasukan Red Army ke-4 yakni Xu Xiangqian, Cheng disiksa dan dipaksa untuk menjebak suaminya sendiri.

Menurut Sohu, “Setelah disekap cukup lama, istri Xu disiksa dengan kejam, karena tidak berhasil mendapatkan informasi yang berguna dari istri Xu, Zhang Guodao tidak berani membebaskannya, maka diam-diam istri Xu pun dibunuh bersama dengan para perwira dan staf Red Army lainnya di sungai dekat kediaman kami.”

Di tengah suasana pembersihan yang begitu kejam itu, Xu Xiangqian sama sekali tidak berani menanyakan alasan ditangkapnya istrinya, bahkan tidak tahu menahu kalau istrinya telah dibunuh. Beberapa tahun kemudian setelah tiba di Yanan, Xu Xiangqian baru mengetahui bahwa istrinya telah tewas dengan mengenaskan.

Dalam bukunya “Historical Review” Xu Xiangqian menjelaskan bahwa dalam gerakan pembersihan selama hampir 3 bulan itu, sebanyak hampir 3.000 dari total 15.000 personel pasukan Red Army ke-4 menjadi korban di bawah golok rekannya sendiri.

April 1932, Sekjend Cabang Sentral PKT di provinsi Hunan dan Hebei Barat yang bernama Xia Xi, juga mengatasnamakan pemberantasan kaum reorganisasi, membersihkan pasukan partai di Hunan dan Hubei Barat, jenis siksaan yang digunakan adalah “bebek bermain air”, “memanggul keranjang api” dan lebih dari 20 jenis siksaan lainnya. Setelah empat kali pembersihan, anggota pasukan sebanyak lebih dari 50.000 personel itu hanya tinggal sekitar 4.000 personel saja.

Menurut catatan pada “Sejarah Partai Komunis Tiongkok” yang diterbitkan oleh Pusat Riset Sejarah Pusat PKT  hanya dalam waktu singkat 2-3 tahun aksi pembersihan itu, sebanyak lebih dari 70.000 orang pasukan dari Tentara Merah dicap sebagai anggota AB, lebih dari 20.000 orang dicap sebagai “kaum reorganisasi”, dan 6.200 orang lain dicap sebagai anggota “partai demokrasi sosial” telah dieksekusi mati.

Sekretaris Mao Zedong bernama Li Rui dalam prolog buku “The Whole Story of Wang Shiwei” juga mengatakan, sejak “peristiwa Futian” memberantas kelompok AB, sekitar 100.000 orang anggota partai komunis tewas di tangan rekannya sendiri. (NTDTV/sud/whs/rmat

Share

Video Popular