Legenda Bunga Mawar

359
Bunga mawar
Ilustrasi. (Internet)

Dahulu pohon mawar hanya terdiri dari daun hijau yang lebat dan tidak berbunga. Lalu kenapa sekarang bisa berbunga dengan cantik? Ada sebuah cerita yang sangat mengharukan.

Dahulu kala, di perkampungan bunga mawar, ada sebuah gunung. Di atas gunung ada sebuah sumber air, mereka menamakannya “sumber air emas”, dan puncak gunung ini diberi nama “Gunung Air” .

Di kaki Gunung Air ini ada sebuah desa. Di desa ini hiduplah seorang pemuda dan pemudi yang hidup serba susah. Si pemuda bernama Liu Lang yang sudah yatim piatu. Saat kedua orang tuanya meninggal, mewariskan sebuah kampak. Sumber hidupnya mencari kayu di hutan.

Si pemudi bernama Chui Yin. Ketika orang tuanya meninggal mewarisinya sebuah cangkul dan sebuah bakul, mata pencahariannya adalah mencari obat-obat rumput di hutan.

Mereka berdua setiap sore pulang dari hutan. Si pemuda memikul kayu dan yang pemudi memikul obat-obat rumput. Mereka berdua selalu saling menjaga, saling memperhatikan dan saling mencintai. Tidak berapa lama kemudian mereka menjadi sepasang suami istri.

Pada suatu hari Liu Lang sedang mencari kayu di bagian barat gunung sedangkan Chui Yin mencari obat-obat rumput di sebelah timur.

Setelah memotong kayu Liu Lang merasa kelelahan dan tertidur di atas kayunya. Ia bermimpi. Dalam mimpinya tercium aroma bunga yang sangat harum. Dia lalu bangkit dan mengikuti aroma bunga itu. Setelah berjalan beberapa saat dia melihat sebuah pintu berbentuk bulan sabit.

Dia berpikir, sejak kecil saya telah mengeliling seluruh Gunung Air ini, tetapi tidak pernah melihat ada sebuah taman. Terdorong rasa penasaran dia mendorong pintu. Setelah pintu terbuka dia sangat terkejut, dibalik pintu itu adalah sebuah taman yang besar.

Di dalam taman ini ditumbuhi berbagai jenis bunga yang sangat indah, hembusan angin di sini penuh dengan aroma bunga yang wangi semerbak. Dia tidak tahu bahwa taman bunga ini adalah milik Dewi Ibunda Ratu di langit.

Setiap tahun di bulan Mei ketika seluruh bunga bermekaran, Dewi Ibunda Ratu selalu membawa peri-peri turun dari langit datang ke tempat ini bertamasya sambil menikmati panorama di taman bunga ini.

Liu Lang sepanjang jalan menikmati pemandangan ini sambil memuji, tidak terasa dia telah berada di tengah taman bunga, dia melihat ada sebuah pot bunga besar yang terbuat dari kristal.

Di dalam pot kristal ini tumbuh sejenis bunga. Kelopak bunga ini sangat cantik berwarna merah menyala sangat menarik. Bunga ini sangat mirip dengan Chui Yin ketika dia tersenyum, sayang bunga yang sangat cantik ini hanya tumbuh 1 kuntum saja,.

Liu Lang memperhatikan bunga ini dengan cermat.

“Oh…. Bukankah ini bunga mawar? Seluruh Gunung Air penuh dengan pohon mawar, tetapi tidak pernah berbunga, kenapa pohon mawar di sini dapat berbunga? Berbunga dengan sangat cantik. Oh ya saya akan memetik bunga ini membawa pulang menghadiahkannya kepada adik Chui Yin, dia pasti akan sangat senang,” ujarnya lirih.

Liu Lang memetik bunga mawar ini, ketika membalikkan badan akan meninggalkan tempat itu, dia melihat ada 2 orang prajurit dari langit yang memakai baju besi. Salah seorang yang memegang tombak menghardiknya.

”Hai… Sungguh berani manusia dari Bumi, berani memetik bunga dari surga!”

Setelah berkata demikian menangkap Liu Lang membawanya pergi.

Sedangkan di tempat yang lain, Chui Yin ketika hendak pulang tidak bertemu dengan Liu Lang. Dia lalu segera naik ke puncak gunung mencarinya, ketika sampai di puncak dia mendengar suara Liu Lang.

”Adik Chui Lin, saya berada di sini,” terdengar teriakan Liu Liang.

Ketika Chui Yin mendongakkan kepalanya melihat, terlihat kedua tangan Liu Lang terikat di belakang, di sampingnya ada dua orang prajurit sedang berdiri di tepi jurang. Melihat keadaan ini Chui Yin dengan terisak lari menuju ke tempat Liu Lang. Kedua prajurit dari langit segera menghardik.

”Dia melakukan kesalahan besar, berani memasuki taman bunga Dewi Ibunda Langit, dan memetik bunga mawar dari surga yang hanya sekuntum saja. Sekarang kami akan membawa pergi, dia akan menerima hukumannya yaitu kerja paksa seumur hidupnya,” kata prajurit itu.

Mendengar perkataan kedua prajurit, Chui Yin menjadi panik, sambil menangis dia memohon :”Saya mohon jangan bawa dia pergi, kembalikan abang Liu Lang saya.” Dengan senyum mengejek kedua prajurit ini berkata :”Ha…ha…ha.. kembalikan abang Liu Langmu, boleh saja, jika seluruh Gunung Air ini bisa dipenuhi bunga mawar yang bermekaran?” setelah berkata demikian, prajurit yang memegang tombak mengangkat tombaknya menunjuk ke jurang terlihat sebuah kilat menyambar. Chui Yin melihat hal itu jatuh pingsan.

Entah sudah berapa lama dia tidak sadar. Ketika tersadar dia memandang ke atas gunung, Liu Lang sudah tidak berada di sana. Teringat hal itu dia menangis lagi.

Chui Yin adalah seorang yang sangat pengasih dan pemberani. Berharap untuk membuat Liu Lang bisa pulang dan membuat pohon mawar di seluruh gunung ini bisa berbunga, setiap malam ketika bintang bersinar dengan gemerlap dia akan naik ke gunung mengambil seember demi seember air, di sumber air emas dan menyirami seluruh pohon mawar yang ada di gunung itu.

Sampai tengah malam dengan kecapean dia pulang ke rumahnya. Di perjalanan batu-batu tajam membuat kedua telapak kakinya terluka berdarah, duri-duri pohon mawar melukai seluruh badannya. Keringat bercucuran dan kaki berdarah, keringat bercampur darah menetesi setiap jalan di gunung ini.

Setelah 10 kali musim semi berlalu, hari ini ketika Chui Yin hendak naik ke gunung, ketika membuka pintu rumahnya hendak keluar, Wah! Terlihat seluruh gunung penuh dengan bunga merah segar yang bermekaran, seperti barisan semut, seperti nyala api. Bunga mawar seluruhnya bermekaran! Dengan gembira Chui Yin memetik sekuntum bunga mawar sambil lari ke atas gunung . Dia berteriak dengan gembira.

”Abang Liu Lang.. abang Liu Lang seluruh bunga mawar sudah bermekaran,” teriaknya.

Dia lari ke puncak gunung dan berteriak ke jurang, pada saat itu sebuah suara petir berbunyi dengan keras. Seberkas cahaya yang sangat menyilaukan mata dan terlihat sebuah bayangan orang, ketika Chui Yin membuka matanya melihat dengan jelas. Dia melihat Liu Lang yang dirindukannya siang dan malam berdiri di depannya.

Dia jatuh ke pelukan Liu Lang dengan bahagia. Liu Lang meraba seluruh badan Chui Yin yang penuh luka, hatinya sangat sakit, air mata menetes tidak berhenti bagaikan kalung mutiara yang putus talinya. Menetes jatuh ke wajah Chui Yin dan bunga mawar yang bermekaran.

Setelah itu setiap musim semi, di gunung ini bunga mawar akan bermekaran sangat indah. Untuk memperingati sepasang suami istri yang berjasa membuat bunga mawar ini bermekaran, akhirnya penduduk setempat menamakan gunung sebagai Gunung Chui Yin, dan menamakan Sumber air Emas ini sebagai Sumber Air Liu Lang, dan mendirikan sebuah menara untuk memperingati mereka berdua.

Setelah Liu Lang dan Chui Yin meninggal mereka menjelma menjadi dewa dan dewi. Di atas langit sebagai dewa yang mengurus bunga, mengurus seluruh bunga yang tumbuh di muka bumi ini. Setiap tahun ketika bunga mawar bermekaran di gunung ini mereka akan turun ke bumi menikmatinya. Di malam yang sunyi mereka berdua akan berdiri di atas menara menikmati pemadangan bunga yang indah ini. (erabaru.net/dpr)