Asteroid Keempat Melintasi Bumi Januari 2017, Menargetkan Bumi?

671
Melihat bumi dari Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).(NASA)

Sebuah asteroid seukuran bus melintasi bumi dalam jarak sangat dekat antara (jarak) Bumi-Bulan, pada Kamis (2/2/2017).

Tercatat hanya dalam satu bulan terakhir, sudah empat kali umat manusia menghadapi risiko asteroid menghantam bumi, tapi untungnya tidak membahayakan bumi.

Asteroid berukuran 11 – 25 meter (36-82 kaki) ini dinamakan 2017 BS32, terdeteksi 30 Januari 2017 lalu dari teleskop Pan-STARRS pada jam 20:23 UTC atau 31 Januari 2017 jam 3:23 pagi.

Asteoid ini akan melintasi bumi dengan kecepatan 40,250 kilometer per jam, bahkan jaraknya dua kali lebih dekat ketimbang jarak bumi dan bulan. Tepatnya sekitar 161,000 kilometer dari bumi.

Ini merupakan salah satu asteroid yang tidak terpantau oleh para astronom di bumi. Bahkan kecanggihan alat-alat pendeteksi asteroid yang ada pun baru bisa melihat kehadiran 2017 BS32 pada 30 Januari lalu.

Diketahui, 2017 BS32 merupakan asteroid keempat yang terlihat melintasi bumi pada awal tahun ini. Sebelumnya sudah ada tiga asteroid yang sempat berpapasan dengan bumi sejak Januari lalu.

Pada 29 Januari 2017 lalu, salah satu asteroid 2017 BH30 seukuran 5.8 meter (19 kaki), terdeteksi melintasi bumi pada jarak 51,842 kilometer. Hanya beberapa jam saat terdeteksi melintasi bumi.

Sementara dua asteroid lainnya masing-masing adalah asteroid berukuran 13 meter (43 kaki) berjarak sekitar 2,09 juta kilometer (1,3 juta mil). Dan asteroid berukuran 15 meter (49 kaki, berjarak sekitar 4.02 juta kilometer (2,5 juta mil) dari bumi.

Ilustrasi asteroid melintasi Bumi(NASA)

Program penelitian NEO dari NASA memperkirakan, hampir 40 asteroid dengan ukuran yang sama telah melintasi bumi dalam jarak sangat dekat sejak awal Januari 2017 lalu.

Banyak asteroid (titik hijau) di tata surya kita. (NEO-Video screenshot)

NASA mengakui, meskipun telah dibentuk Planetary Defense Coordination Office-PDCO, dengan harapan dapat mendeteksi dan memprediksi benda langit yang berpotensi mengancam kehidupan di bumi, namun, lebih dari 90% risikonya tidak dapat diprediksi. (Epochtimes/ Ming Shu-ge/joni/rmat)