Peneliti di Universitas Bergen, Norwegia, terkejut dengan penemuan lebih dari 30 kantong plastik pada perut seekor paus.

Paus itu terdampar di perairan dangkal Pulau Sotra. Kondisinya cukup buruk.

Peneliti mencari tahu penyebab kematiannya, dan menemukan sejumlah besar sampah plastik pada perutnya. Kondisinya kurus, dengan sedikit lemak, kemungkinan ia kekurangan gizi.

Dr. Terje Lislevand, seorang ahli zoologi yang menangani ikan paus ini, mengatakan bahwa usus paus itu mungkin tertutup plastik, menyebabkannya sangat kesakitan.

Para ahli memperkirakan ada lima triliun potongan sampah plastik yang mengambang di lautan. Sampah ini dibuang oleh masyarakat dari seluruh dunia.

Pada tahun 2014, peneliti membeli sampel ikan dari pasar di California dan Indonesia. Satu dari 10 ikan dari California mengandung plastik. Sedangkan Indonesia lebih tinggi, satu dari 4 ikan mengandung plastik.

Ada tindakan nyata yang bisa diambil pemerintah. Setelah Wales memberlakukan biaya 5 pence (setara Rp. 190) untuk kantong plastik di toko dan supermarket, laporan menunjukkan adanya penurunan penggunaan kantong plastik sebanyak 71%.

Langkah penanggulangan sampah plastik juga dilakukan oleh Bangladesh, Afrika Selatan, Rwanda, Kenya, Italia, Meksiko dan negara bagian California. (erabaru.net/Dpr)

Share

Video Popular