Setiap hari, dokter, perawat dan profesional kesehatan dihadapkan pada situasi yang menuntut empati dan belas kasih. Baik itu ketika memberitahu pasien kanker yang berusia 40 tahun bahwa dia tidak dapat hidup lebih lama, atau menghibur seorang ibu manula yang cemas. Profesional kesehatan memerlukan keahlian untuk mengerti apa yang sedang dihadapi orang lain, dan bereaksi sepantasnya.

Dengan semakin banyaknya tuntutan terhadap dokter dan perawat, serta dorongan untuk membuat konsultasi lebih cepat, maka aspek empati klinik disepelekan dibandingkan dengan kebutuhan akan efisiensi. Tetapi ini tidak berarti pasien berhenti berharap dapat dirawat dengan rasa empati dan belas kasih. Semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa kebutuhan ini sering kali tidak terpenuhi.

Empati adalah kunci komunikasi yang baik

Dalam novel ‘To Kill a Mockingbird’ , Atticus Finch memberitahu kepada Scout, anak perempuannya, bahwa “kamu tidak akan pernah benar-benar mengerti seseorang hingga kamu bisa mempertimbangkan sesuatu dari sudut pandangnya… hingga kamu memakai kulitnya dan berjalan dengannya”.

Ini adalah empati – ketika seseorang memahami perasaan orang lain. Ini melibatkan belas kasih dan kemampuan untuk mengerti dan merespon perasaan orang lain. Seringkali, respon empati akan menuntun pada respon kepedulian.

Empati berbeda dengan simpati, yang digambarkan sebagai perasaan kasihan pada orang lain. Simpati tidak mengharuskan untuk mengerti sudut pandang orang lain, tetapi adalah respon otomatis dan emosional. Dalam perawatan kesehatan, perasaan simpati pada orang lain dapat membuat diri kita jatuh dalam kesedihan dan sering kali menghambat kita untuk memberikan bantuan.

Di masa kini, komunikasi yang buruk, termasuk kurangnya empati dan perilaku peduli, telah membuat angka keluhan semakin meningkat terhadap praktisi medis di Australia.

Kasus malpraktek yang mengejutkan di rumah sakit umum Inggris antara tahun 2005 – 2009 menunjukkan konsekuensi ekstrim dari ketidakpedulian, komunikasi buruk dan kurangnya empati dalam perawatan kesehatan. Kejadian berkisar dari pasien yang dipaksa minum dari vas bunga hingga tidur di atas kotorannya sendiri. Lebih dari 300 kematian berkaitan dengan kelalaian ini.

Dalam laporan menindaklanjuti permintaan pemerintah, inti dari rekomendasi adalah kebutuhan untuk memperbaiki komunikasi antara pekerja perawat kesehatan dan pasien.

Empati adalah dasar komunikasi yang efektif. Bagi para dokter dan perawat, ini berarti menempatkan pasien sebagai pusat perawatan. Keahlian ini meningkatkan tingkat kepuasan tidak hanya pada pasien tetapi juga dokter dan perawat. Paling penting, ini juga terhubung pada membaiknya kesehatan pasien.

Mengapa tenaga medis kehilangan empati?

Teknologi memiliki kontribusi besar pada hilangnya tingkat empati pada profesional kesehatan.

Teknologi juga berefek pada perubahan cara dokter dan perawat berinteraksi dengan pasien mereka. Karena kurangnya kesempatan kontak langsung dengan pasien, ini menghambat kemampuan untuk mengembangkan hubungan dengan pasien, memonitor komunikasi tidak langsung, dan mendapatkan umpan balik dari interaksi itu.

Sebagai contohnya, sentuhan menjadi bagian terbesar dari pekerjaan perawat. Ketika perawat memegang tangan pasien untuk memeriksa detak jantungnya, akan memberikan kontribusi pada suatu jenis koneksi yang melepaskan hormon oksitosin yang memberikan perasaan baik.

Tetapi kini dalam memeriksa detak jantung pasien secara manual telah digantikan dengan alat yang terpasang di jari pasien.

Komputer bergerak menciptakan penghalang fisik bagi perawat ketika mereka menggunakannya untuk memberikan obat dan mengakses dokumen, dan wawancara lewat ponsel pintar pasien telah menggantikan kesempatan bagi perawat untuk hadir secara fisik dan membangun hubungan dengan pasien.

Sementara itu, permainan virtual reality sering kali digunakan untuk mengalihkan perhatian pasien saat menjalani prosedur yang menyakitkan, sedangkan dulu perawat akan memegang tangan pasien.

Dalam hal pembelajaran sering kali menggunakan teknologi simulasi, dimana murid-murid berinteraksi tidak dengan manusia yang nyata tetapi dengan robot komputer.

Sangat dimengerti bagaimana sulitnya merespon sebuah boneka manekin yang dijadikan sebagai pasien dengan kebutuhan emosional. Para siswa akan menemui kesulitan, dalam pengaturan klinis yang nyata, untuk mengintegrasi ketrampilan komunikasi yang diperlukan – khususnya empati.

Program universitas terlalu padat, dimana lulusan diharuskan untuk memenuhi banyak kompetensi sebelum mereka dapat memasuki dunia profesional.

Hasilnya kadang kala murid-murid dalam profesi kesehatan lebih berfokus pada keahlian klinis dan teknis serta mengesampingkan komunikasi yang baik.

Pengacauan oleh teknologi mungkin juga salah satu faktor yang memengaruhi keahlian perawat dan dokter untuk berempati dan berbelas kasih. Teknologi mendukung multi tugas, yang bagus untuk efisiensi tetapi dapat mengganggu profesional kesehatan dari interaksi interpersonal dengan pasien.

Kendala pendanaan di sektor universitas dan berkurangnya kesempatan penempatan klinis memengaruhi pengalaman kerja medis siswa. Ini, dikombinasikan dengan meningkatnya kompleksitas pasien dan kesadaran tanggungjawab hukum dalam hubungannya dengan menjamin keselamatan pasien, semua memberikan kontribusi pada peningkatan ketergantungan pada lingkungan belajar yang terkondisi, seperti laboratorium, daripada interaksi nyata dengan pasien.

Cara belajar menggunakan teknologi sedang dibangun untuk memaksimalkan pengalaman yang membangun empati. Komunikasi baik perlu diajarkan dan dinilai di program universitas dan seluruh praktek klinis.

Kita perlu lebih memahami perkembangan empati dalam profesi kesehatan dan melakukan lebih banyak penelitian bagaimana memperbaiki situasi ini dengan perubahan teknologi. Paling penting, kita harus selalu mendengarkan pasien kita. (Epochtimes/ Sue Dean /Jsp/Yant)

Sue Dean adalah pengajar di Universitas Teknologi Sydney. Artikel ini pertama kali dipublikasikan di The Conversation.

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular