SINGKAWANG – Liong Sai dengan panjang 178 meter memeriahkan perayaan Festival Cap Go Meh di Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Naga dengan lebar 1,11 meter yang terdiri dari 17 ruas ini mendapatkan penghargaan sebagai ‘Naga Terpanjang di Dunia’ dari Museum Rekor Indonesia (MURI).

Penyerahan piagam penghargaan dilakukan pada Kamis (9/2/2017) siang di sebuah pusat perbelanjaan di Kota Seribu Kelenteng oleh perwakilan MURI kepada pembuat Naga dari Santo Yosef Grup Singkawang. Perwakilan MURI Semarang, mengatakan rekor yang dipecahkan Naga ini sebelumnya juga dibuat di Kota Singkawang.

“Ini bukan hanya Naga dengan rekor terpanjang di Indonesia, tapi terpanjang di Dunia. Naga ini memecahkan rekor yang juga dibuat di Singkawang, yaitu Naga dengan panjang 143 meter pada tahun 2015,” ujar Wakil Direktur MURI Semarang, Osmar Semesta Susilo.

Sementara itu, Walikota Singkawang, Awang Ishak di tempat yang sama mengatakan pembuatan naga ini tidak lepas dari sumbangsih warga Singkawang yang telah merantau dan berbisnis di luar kota. Dia pun berharap agar mereka tidak bosan-bosan memberikan sumbangsih untuk kemajuan Kota Kelahiran.

“Saya tau Singkawang selama ini bukan tempat untuk mencari uang. Bapak-bapak mencari uang di Pontianak, Jakarta, Surabaya, dan kota-kota lainnya. Tapi dengan sumbangsih ini juga membantu pariwisata untuk mendapat uang dengan menarik wisatawan. Saya berharap kedepannya, bapak-bapak bisa memberikan sumbangsih juga dengan menjadikan singkawang sebagai pusat Industri seperti SIngapura,” ujar Walikota yang akan segera mengakhiri masa jabatannya.

Usai acara penyerahan piagam, sang Naga yang sudah belasan hari bersemayam akhirnya diarak untuk pertamakalinya. Naga Rekor ini dibawa meninggalkan pusat perbelanjaan untuk menjalani prosesi Buka Mata di salah satu Pekong di Kota Singkawang. Ritual ini sendiri melibatkan 400 penari.

Pawai Tatung

Festival Cap Go Meh di Kota SIngkawang juga akan dimeriahkan dengan Pawai Lampion pada Kamis malam dan Ritual Cuci Kampung pada Jumat (10/2/2017) hingga Sabtu (11/2/2017). Ritual cuci kampung ini melibatkan ratusan Tatung yang berkeliling kampung dan kelenteng-kelenteng, pekong, serta wihara.

Tatung sendiri merupakan hasil akulturasi dengan budaya lokal. Tokoh spiritual yang sering dijuluki orang sakti ini umumnya akan memimpin persembahyangan yang diwarnai aksi menusuk bibir dan telinga dengan jarum besar dan duduk atau berdiri di atas  senjata tajam seperti tombak dan pedang pada tandu.

Atraksi para Tatung melakukan ritual Tolak Bala dan mengusir roh jahat telah menjadi atraksi wisata sejak beberapa tahun silam yang dikemas dalam festival Cap Go Meh. Festival ini berhasil menarik minat jutaan wisatawan local, domestic, dan mancanegara sejak belasan tahun silam. (Wayan Adi/asr)

Share

Video Popular