Seorang bocah berusia 5 tahun ikut hadir ke dalam pengadilan mendengarkan persidangan kasus pelanggaran aturan parkir ayahnya.

Dalam menanggapi pertanyaan hakim soal berapa denda uang yang patut diberikan sebagai sanksi, bocah tersebut merekomendasikan denda 30 Dollar, di mana dianggap “sangat adil” oleh hakim.

Namun setelah mengetahui bahwa bocah tersebut datang ke pengadilan belum sarapan, hakim kemudian membebaskan denda itu agar ayah bisa membeli sarapan buat anaknya ini.

Hakim : “Siapa nama mu ? ”

Bocah : “Jacub”

Hakim : “Berapa umur mu ? ”

Bocah : “5 tahun”

Hakim menyaksikan bocah tersebut ikut mendampingi ayahnya berdiri di dalam ruang terdakwa, lalu memanggilnya naik ke altar untuk ‘menemani’ hakim.

Bocah dengan polos menjawab hakim bahwa ia belum bersekolah, memiliki cita-cita jadi seorang juru masak, karena ia setiap hari menemani ayahnya bekerja di toko pizza. Pizza adalah makanan kesukaannya dan yang menjadi keahliannya.

Setelah memahami situasi keluarganya, hakim kemudian bertanya, “Saya bisa menjatuhkan 3 macam hukuman yaitu pertama, denda uang sebesar 90 Dollar. Kedua denda sebesar 30 Dollar atau bisa juga bebas dari denda. Bagaiman kamu memberikan saran kepada saya?”

Bocah : “Denda 30 Dollar”

Hakim dan sejumlah pengunjung yang hadir dalam ruang sidang spontan tertawa mendengar ‘putusan’ bocah tersebut. Hakim kemudian bercerita tentang bagaimana Raja Solomon memilih cara yang paling adil guna melenyapkan perbedaan yang didengarkan dengan penuh perhatian oleh bocah tersebut.

Setelah mengetahui bahwa Jacub belum sarapan, hakim lalu bertanya lagi, “Bagaimana jika ayah membawa kamu pergi sarapan sebagai pertukaran (hukuman)?”

Bocah itu dengan senang hati menjawab, “Bagus! Ini adalah urusan besar”.

Jawaban itu membuat suasana happy ending dalam ruangan.

Video ini ramai ditonton orang yang kemudian memuji bahwa hukum Amerika tidak  berfokus pada denda uang, tetapi lebih pada wawasan pendidikannya.  (Sinatra/rmat)

https://www.youtube.com/watch?v=EfI2KG3bo5w

 

Share

Video Popular