(Monkey Business/Shutterstock)

Sekarang ini, setiap dapur akan tampak “kurang lengkap” tanpa adanya microwave, dengan kemampuannya yang efisien untuk memasak , melelehkan makanan beku, dan memanaskan berbagai makanan. Alat yang berguna ini menggunakan radiasi gelombang mikro untuk melakukan tugasnya. Radiasi gelombang mikro adalah jenis radiasi elektromagnetik yang mirip dengan gelombang radio dan sinar inframerah.

Meskipun umumnya diakui sebagai alat yang aman, internet dibanjiri dengan artikel yang memuat bahaya radiasi microwave pada makanan. Beberapa artikel menyebutkan bahwa pemakaian microwave dapat menyebabkan “katarak dan kanker”. Posting yang lain mengatakan microwave “merusak nutrisi yang bermanfaat dalam makanan”.

Jika Anda percaya akan berita ini, maka oven “pembunuh” di dapur seharusnya menjadi pemandangan yang mengerikan, namun saat ini belum ada penelitian yang mendukung bahaya memasak menggunakan microwave. Mudah-mudahan artikel ini dapat menghilangkan ketakutan Anda dengan memeriksa beberapa pengakuan mengenai bahaya menggunakan microwave yang sering terjadi dengan bukti yang sebenarnya.

Apakah microwave merusak nutrisi makanan?

Mengolah makanan mentah melalui semua jenis proses – termasuk pemanasan dan pendinginan – menyebabkan perubahan sifat fisik, komposisi kimia dan profil zat gizi makanan mentah tersebut.

Jika zat gizi hilang dari makanan yang dimasak di dalam microwave, hal ini disebabkan menggunakan suhu yang terlalu tinggi, atau terlalu lama. Kombinasi waktu dan suhu yang tepat dapat membantu mempertahankan sebagian zat gizi serta meningkatkan citarasa, tekstur dan warna makanan.

Waktu dan suhu yang dibutuhkan tergantung pada jenis makanan. Makanan yang berisiko tinggi seperti daging, ikan dan telur perlu dipanaskan minimal sampai 60 ℃ supaya aman untuk dimakan.

Memasak dengan menggunakan microwave cenderung tidak berdampak negatif terhadap vitamin dan senyawa lain yang bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan. Memasak secara cepat sebenarnya membantu memempertahankan kelompok bahan kimia yang bermanfaat, polifenol – yang meningkatkan aktivitas antioksidan total di dalam makanan –terdapat di dalam sayuran hijau.

Sebuah studi membandingkan memasak sayur, seperti kubis, wortel, kembang kol dan bayam dengan menggunakan microwave atau dikukus, dibandingkan dengan menggunakan tekanan tinggi. Ditemukan bahwa sayuran yang dimasak dengan tekanan tinggi kehilangan lebih banyak serat yang tidak dapat larut, yang baik untuk kesehatan usus, dibandingkan dengan menggunakan microwave atau dikukus.

Zat gizi penting yang biasanya rusak saat memasak sayuran adalah vitamin C, di mana kekurangan vitamin C yang parah menyebabkan kondisi seperti kudis. Kerugian kehilangan zat gizi lebih besar jika sayuran direbus dibandingkan dengan menggunakan microwave, karena ketika direbus, zat gizi yang larut di dalam air akan segera terkikis ke dalam air, sedangkan memasak sayur dengan menggunakan microwave sangat sedikit membutuhkan air.

Pemanasan yang singkat, seperti memasak dengan menggunakan microwave, dapat mempertahankan sebagian besar vitamin C di dalam sayuran.

Akankah microwave mengakibatkan kanker?

Beberapa senyawa penyebab kanker yang dipelajari dengan baik adalah amina aromatik heterosiklik (HCA). HCA terbentuk secara alami dalam makanan yang kaya akan protein seperti daging dan ikan selama proses memasak, dan HCA lebih cenderung terbentuk jika daging dimasak untuk waktu yang lama dan pada suhu yang lebih tinggi.

Metode memasak merupakan faktor utama yang mempengaruhi pembentukan HCA. Beberapa peneliti telah melaporkan kadar HCA lebih tinggi terbentuk pada ayam yang dimasak di dalam microwave, dibandingkan dengan ayam yang ditumis, dibakar atau dipanggang.

Namun tidak ada penelitian yang menyatakan atau menunjukkan hubungan antara makan unggas secara rutin yang dimasak di dalam microwave dengan kanker.

Sebuah studi baru-baru ini telah mengungkapkan ikan bakar memiliki kadar HCA yang lebih tinggi dibandingkan dengan ikan yang dimasak di dalam microwave, sedangkan kadar HCA tidak dapat dideteksi sama sekali pada daging sapi yang dimasak di dalam microwave. Daging sapi beku yang dicairkan dan masakan daging atau ikan yang dipanaskan di dalam microwave selama beberapa menit saja, tidak menghasilkan HCA tambahan.

Bagaimana dengan wadah?

Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahan kimia yang terkandung di dalam wadah plastik dapat bermigrasi ke dalam makanan ketika dimasak di dalam microwave, yang telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker.

Namun sebagian besar wadah, wadah dan bungkusan plastik saat ini dirancang secara khusus untuk menahan suhu microwave.

Jika wadah yang dipasarkan sebagai wadah yang aman digunakan di dalam microwave, memiliki simbol microwave atau memberikan petunjuk penggunaan pada microwave yang tepat, serta aman untuk dimasak atau dipanaskan dengan menggunakan microwave.

Terkikisnya racun berbahaya atau senyawa “penyebab kanker” dari produk yang dikemas dengan baik selama dimasak di dalam microwave, yang merupakan suatu keuntungan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut.

Apakah microwave membunuh kuman yang jahat?

Memasak makanan secara bermakna mengurangi risiko penyakit yang ditularkan melalui makanan.

Tantangan utama memasak dengan menggunakan microwave adalah ketimpangan distribusi suhu akibat bentuk makanan tersebut. Anda mungkin memperhatikan saat memanaskan makanan di dalam microwave di mana sering terdapat titik panas dan titik dingin pada makanan yang dipanaskan. Hal ini berpotensi menimbulkan masalah keamanan untuk makan makanan tersebut.

Memasak dengan menggunakan microwave hanya dapat membunuh kuman penyebab penyakit jika kombinasi suhu dan waktu yang benar dicapai oleh seluruh bagian makanan. Memasak  di atas suhu 60 ℃ akan membunuh sebagian besar kuman penyebab penyakit yang ditularkan melalui makanan, tetapi racun yang dihasilkan oleh kuman tersebut dapat toleran terhadap pemanasan di atas suhu 60 ℃.

Jika makanan tersebut sudah tercemar dengan kuman yang menghasilkan racun, memasak dengan menggunakan microwave dapat membunuh kuman penghasil racun tetapi tidak menghancurkan racun tersebut, meskipun kombinasi suhu dan waktu yang benar. Hal ini juga berlaku untuk metode memasak lain. Penyimpanan makanan yang tepat adalah kunci untuk memperkecil risiko tersebut.

Memperkecil risiko

• Hindari memasak sayuran terlalu lama untuk memperkecil kehilangan zat gizi.
• Sebelum memasak menggunakan microwave, periksa label pada wadah dan ikuti petunjuk.
• Jika pada label wadah tidak ditulis aman digunakan untuk microwave, maka beralihlah ke wadah yang aman digunakan.
• Putar piring dan aduk makanan saat memasak dengan microwave untuk menyebarkan suhu pemanasan yang sama dan memperkecil kemungkinan timbulnya penyakit yang ditularkan melalui makanan. Periksa suhu makanan sebelum dimakan.
• Ingat microwave tidak dapat secara ajaib membuat makanan yang tercemar menjadi aman untuk dimakan. Jadi jika ragu-ragu, maka lebih baik makanan tersebut dibuang.(Epochtimes/Vivi)

Share

Video Popular