Orang-orang bilang hidup tidak menyenangkan. Jika Anda tidak mengalami kesenangan apa pun bagaimana Anda bisa mengenal yang namanya kebahagiaan itu ? Semua orang mencari kebahagiaan, lantas kebahagiaan seperti apa yang sedang kita cari itu ? Padahal, ini adalah kesan indah yang pernah kita alami.

Misalnya, seandainya Anda belum pernah mencicipi kue tart rasa kopi, maka itu bukan karena tidak mendapatkan rasa kopi lantas Anda menjadi tidak gembira ; mereka yang tidak tahu apa yang namanya internet itu juga tidak akan tergila-gila untuk berselancar di dunia maya. Sebaliknya, kesan indah yang pernah dialami itu juga yang seringkali menjadi faktor yang menyebabkan kita tidak gembira, bahagia.

Orang yang suka merokok misalnya, semula juga tidak masalah tanpa rokok dalam kesehariannya, namun, karena kecanduan rokok, sehingga serasa tidak bisa hidup tanpanya. Ada yang gemar bermain game, suka minum minuman keras, dan tidak akan tahan kalau tidak main game atau tidak menenggak minuman keras.

Simak cerita cerita berikut:

Seorang ibu membawa anaknya melihat-lihat dan hendak membeli sesuatu di kaki lima. Mereka melewati sebuah toko roti, dan dari dalam toko sayup-sayup tercium aroma harum roti, sementara dari luar jendela dapur terlihat kue-kue dengan aneka rasa yang baru diangkat itu tertata rapi di setiap raknya. Bocah itu menghentikan langkah kakinya dan berdiri di depan jendela, matanya menatap tak berkedip kue-kue lezat yang sangat menggodanya. Ibunya tahu dengan pikiran (keinginan) anaknya, lalu mengabulkan keinginan anaknya, menyuruhnya memilih kue rasa cokelat kesukaannya. Ketika penjaga toko selesai membungkus kue dan menyerahkan kepadanya, sang bocah melompat kegirangan, lalu dengan tidak sabar rasanya ingin segera melahap kue itu.

Namun, karena waktu hampir tengah hari, dan untuk menghindari anak itu melewatkan makan siangnya, ibunya kemudian mengambil dan menyimpan kue itu dari tangan putranya sambil mengatakan : “Kita tunggu sore nanti baru makan ya ? Namun, hal itu tampanya berdampak besar pada suasana hati sang bocah, yang awalnya baik-baik saja seketika berjongkok di jalan dan menangis keras, tidak mau bangun sembari berteriak : “Mama jahat, jahat, jahat.” Sang bocah menangis histeris, seolah-olah merasakan ketidakadilan yang luar biasa. Karena reaksi anak itu terlalu ekstrim, sehingga orang-orang yang berlalu lalang pun melirik sang bocah, sementara ibunya tampak serba salah dan kikuk dengan sorot mata orang-orang, tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Tepat pada saat itu, lewatlah seorang biksu tua, ia melihat kejadian itu dengan jelas, tiba-tiba ia tersadar dan terlintas dalam benaknya : “Anak ini awalnya baik-baik saja sebelum sang ibu membelikan kue untuknya, tapi setelah kue itu diambil ibunya, paling juga hanya kembali ke kondisi semula, dan tidak kehilangan apa pun ? jadi, apa yang disedihkan ?”

Tidak ada sesuatu yang mutlak di dunia dan tetap harus didapatkan.

Coba renungkan sejenak apakah kita juga seperti bocah itu, tetap harus bisa memakan kue itu, harus menunggu pacar antar jemput, harus isteri yang mengurus dan merapikan segalanya (rumah tangga). Harus bisa menyaksikan suatu acara (TV atau semacamnya), harus minum minuman kerasa sampai puas dan sebagainya.

Sesuatu yang awalnya tidak masalah tanpa mereka itu sekarang tidak bisa lagi rasanya hidup tanpa mereka. Ada juga sebagian orang yang harus memakai/membeli merek tertentu, ke restoran tertentu, makan dengan citarasa tertentu dan sebagainya, yang mana semua ini telah “terikat”olehnya.

Tentu saja, punya suatu kegemaran itu sendiri bukan sesuatu yang buruk, tetapi seperti yang dikatakan oleh Socrates,” Sesuatu yang kita miliki itu juga memiliki kita.”

Alkisah katanya ada seorang pria tua yang sudah beberapa jam memancing ikan di sungai, tapi tak seekor ikan pun yang nyangkut dikailnya. Beberapa kaleng bir ditambah dengan panasnya sinar Matahari membuatnya mengantuk, karena itu ia tidak menyangka sama sekali ada ikan yang nyangkut di kailnya, dan ia tersadar seketika oleh ikan yang menarik tali pancingnya, tapi ia kehilangan keseimbangan, dan jatuh ke sungai .

Saat itu kebetulan ada seorang bocah yang sedang berjalan dengan orang tuanya melihat kejadian itu. Ketika pak tua meronta di dalam air, sang bocah bertanya pada papanya : “Pa, pak tua itu yang menangkap (memancing) ikan atau ikan yang menangkap pak tua?”

Anda yang memancing, atau ikan yang memancing Anda ? Hal ini memang layak kita renungkan.

Coba renungkan sejenak, saat Anda menyukai sesuatu, namun, jika tidak mendapatkannya lantas membuat Anda kecewa, jika demikian, sesuatu yang membuat Anda kecewa bukankah hal itu ?

Jika ingin hidup bahagia, bukan mesti dan harus memenuhi/mendapatkan sesuatu yang Anda inginkan, melainkan harus membuat Anda sendiri tetap bisa menjalani hidup seperti biasa meski “tanpanya” (sesuatu yang diinginkan). Jangan sampai berpikiran, bahwa ada sesuatu yang mutlak di dunia dan tetap harus didapatkan.

Sama seperti kue sang bocah seperti ulasan di atas, sesuatu yang awalnya tidak kita miliki, dimana setelah kehilangan, paling-paling yaa kembali ke kondisi semula (tidak memiliki sesuatu), jadi kenapa harus merasa sangat kecewa dan apa yang harus disedihkan?

Nilai sesuatu itu tidak mutlak, ia berasal dari hasrat/keinginan Anda, jika Anda menginginkannya, ia menjadi berharga, sebaliknya jika tidak menginginkannya, maka ia menjadi tidak berharga.

Jika Anda benar-benar ingin memiliki kehidupan yang lebih baik, ada satu prinsip yang perlu dicamkan baik-baik : Sesuatu yang semakin kita sukai dan semakin banyak tergantung padanya, maka semakin besar jua kita tidak akan bahagia.

Yang harus Anda lakukan adalah bukan memenuhinya (hasrat Anda), melainkan melepaskan hasrat itu, dengan demikian dipastikan Anda tidak akan selalu merasa kecewa. (Epochtimes /He Quan-feng /Jhn)

Share
Tag: Kategori: Uncategorized

Video Popular