Di Eropa dan Amerika Serikat, jarang terlihat pasien lansia yang selama bertahun-tahun terbaring di tempat tidur.  Sedangkan di Taiwan, Jepang dan negara-negara Asia lainnya, untuk lolos dari ‘penyiksaan’ rawat inap dan rawat jalan, sementara ini benar-benar hanya sebuah angan-angan.

Cara menjelang ajal yang berbeda dengan pernafasan buatan

Laporan harian “The Liberty Times” Taiwan, seorang penulis buku “tidak mengucapkan selamat tinggal di tempat tidur RS,” setelah bertahun-tahun mengadakan penelitian dan penyelidikan, ia membentuk “Institut Pengobatan Manula Menjelang Ajal” dan mendiskusikan bagaimana menghadapi pasien lansia, bagaimana anjuran untuk kemandirian pengobatan, barulah dapat mengucapkan selamat tinggal tanpa penyesalan, sehingga kehidupan mereka dapat berakhir lebih seperti seorang manusia.

Sang penulis setelah bertahun-tahun melakukan penelitian menemukan bahwa di Eropa dan Amerika Serikat tidak seperti di Asia, yang terdapat banyak pasien lansia yang terbaring di tempat tidur selama bertahun-tahun, yang membuat mereka merenungkan konsepsi dan status perawatan di negeri sendiri.

Di dalam buku itu juga telah ditelaah faktor apa yang menghambat orang tua menjelang ajal dapat meninggal dengan tenang, sebagai anggota keluarga. Jenis perawatan kesehatan apakah yang harus dipilih ketika mereka sekarat, serta bagaimanakah negara-negara Eropa dan AS secara ideal dapat melakukan kebanyakan para lansia dapat meninggal secara alami.

Namun pasien usia tua di Jepang yang selama bertahun-tahun terbaring di rumah sakit dan tidak mampu bergerak, ada sangat banyak pasien yang terpaksa harus dilakukan penanganan injeksi vena sentral atau asupan nutrisi melalui saluran usus.

Apakah standar medis Jepang terlalu rendah?

Tidak juga, bahkan dapat dikatakan bahwa standard medis Jepang adalah sangat maju jika dibandingkan dengan negara lain.

“Lalu mengapa di negara-negara maju lainnya jarang ditemui pasien usia tua yang terbaring di tempat tidur?”

Pada 2007, si penulis beserta istri (warganegara Jepang) yang juga berprofesi sebagai dokter dan spesialis pengobatan demensia, menemukan jawabannya di Swedia. Mereka mengunjungi rumah sakit dan fasilitas perawatan lansia di pinggiran kota Stockholm.

Di beberapa rumah sakit itu tidak terdapat seorangpun pasien lansia. Bahkan tidak ada satu pun pasien lansia yang menggunakan gastrostomi atau metode nutrisi enteral.

Alasannya adalah, orang Eropa dan AS pada umumnya percaya bahwa lansia pada saat ajal secara alamiah akan kehilangan nafsu makan, itu adalah hal yang wajar dan alami.

Jika menggunakan berbagai suplemen nutrisi buatan, demi memperpanjang usia lansia, itu merupakan campur tangan pengembangan kehidupan alami orang lain. Sebaliknya malah dianggap sebagai semacam pelanggaran hak asasi manusia dan perilaku etika, bahkan dianggap sebagai penyiksaan terhadap lansia.

Itu sebabnya katakanlah telah tertular pneumonia, juga tidak akan disuntik antibiotic, hanya diberikan obat, juga tidak perlu sampai mengikat tangan dan kaki pasien. Artinya, sebagian besar pasien sebelum memasuki tahap kehilangan kesadaran dan dalam jangka lama berbaring di tempat tidur, mereka akan meninggal secara alami.

Panti jompo. (Pusat rehabilitasi Alzheimer Solomon)

Eropa/Amerika atau Jepang yang lebih baik?

Jadi perawatan medis terhadap lansia menjelang ajal, manakah yang lebih baik, Eropa/Amerika atau Jepang yang lebih baik?

Tidak seorang pun yang bisa memastikan. Namun, misalnya, jika semua persendian seorang lansia telah bengkok dan kaku, agar kateter gastrostomi tidak melenceng maka diikatlah kedua tangan lansia. Hanya demi memperpanjang hidup mereka, berbagai perlakuan yang diderita oleh para lansia, betul-betul membuat orang sangat sulit menjaga martabat yang harus mereka miliki sebagai manusia.

Sang penulis mengunjungi panti jompo berbagai negara, mengalami filosofi hidup yang berbeda

Kehidupan sehari-hari di panti jompo sangat mengutamakan berjalan-jalan, itu sebabnya disediakan sebuah taman besar yang dipagari dan di dalam taman itu terdapat meja dan kursi. Seorang taf mengatakan, “Tujuan kehidupan adalah untuk menikmati hidup, seringkali pekerja sosial atau anggota keluarga pasien yang dirawat di sini merayakan pesta ulang tahun dan lain sebagainya di sini.”

Anehnya, karakteristik kehidupan orang Swedia yang doyan minum alkohol, juga sepenuhnya dibawa ke dalam proses pengobatan demensia, panti jompo akan menyiapkan bir setelah makan kepada pasien demensia awal.

Bir ringan dengan kandungan alcohol 2,5%, selama tidak keracunan alkohol, setiap hari boleh minum. Panti akan semaksimal mungkin, semampu mereka untuk mengurangi perampasan kenikmatan hidup dari pasien. Ketika masih hidup dapat menikmati hidupnya, sewaktu meninggal dapat pergi dengan tenang dan ikhlas.

Karena pasien demensia mudah tersesat, maka untuk menghindari kecelakaan, ketika berjalan-jalan akan ditemani staf perawat. Namun, ada seorang wanita berusia 80 tahun penderita demensia, setiap hari pada waktu tertentu akan pergi berjalan-jalan dan menolak untuk ditemani perawat.

Ketika dilarang melakukannya, dia akan melarikan diri dengan memecah jendela. Setelah berkonsultasi dengan institusi dan keluarga pasien, maka diputuskan untuk membiarkan orang tua itu membawa ponsel GPS, yang memungkinkan dirinya untuk berjalan sendiri selama 2 jam per hari.

Bangsa Swedia demi kebebasan fundamental sebagai manusia bersedia menukarnya dengan mengambil risiko tertentu. Karena sikap kebangsaan dan konsepsi sosial yang berbeda juga tercermin dalam permukaan perawatan kesehatan para manula.

Sang penulis dan istrinya telah meninggalkan surat wasiat, dengan jelas menyatakan pada saat tahap sekarat dan tidak bisa makan, mereka tidak mau menerima gastrostomy dan berbagai nutrisi medis subsisten demi memperpanjang usia.

Tidak hanya itu, mereka juga berulang kali mewanti-wanti kepada anak-anaknya, agar jangan karena egois, membiarkan mereka menanggung rasa sakit dari perawatan medis yang sia-sia. (hui/whs/rmat)

Share

Video Popular