Dewan Keamanan PBB Rapat Darurat Bahas Peluncuran Rudal Balistik Korut

164
Ilustrasi. PBB (epochtimes.today))

Oleh Zhang Bingkai

Korea Utara kembali melakukan peluncuran rudal balistik pada 12 Februari. Hal itu sekali lagi memicu keprihatinan masyarakat internasional. Karena itu, Dewan Keamanan PBB mengadakan rapat darurat khusus membahas masalah tersebut.

Menurut ‘Suara Amerika’ pada Senin (13/2/2017), AS, Jepang dan Korea Selatan bersama-sama mendesak Dewan untuk mengadakan rapat darurat guna membahas masalah yang ditimbulkan akibat peluncuran rudal tersebut.

Kantor berita resmi Korea Selatan memberitakan, uji coba peluncuran sebuah rudal “Bagian dari sistem senjata strategis baru gaya Korea Utara” pada 12 Februari siang itu terlaksana di bawah pengawasan dan pengaturan Kim Jong-un.

Pejabat Korea Selatan menyebutkan bahwa rudal tersebut jatuh ke perairan Jepang setelah meluncur sejauh sekitar 500 km.

Shinzo Abe yang sedang berkunjung ke AS langsung memberikan reaksi dengan mengutuk  Korea Utara.

Korea Utara wajib mematuhi resolusi Dewan Keamanan PBB. Abe dalam sebuah jumpa pers di Florida mengatakan, “Presiden Trump dalam pembicaraan dengan saya telah berjanji bahwa, AS akan sepenuhnya berada di pihak Jepang. Untuk menunjukkan komitmennya, beliau sekarang bersama saya menghadiri jumpa pers tersebut.”

“Saya dan Presiden Trump sama-sama sepakat hendak memperkuat perserikatan dan lebih mengintensifkan kerjasama,” tambahnya.

Trump yang juga hadir di sana mengatakan, “Saya hanya ingin kita semua mengetahui secara jelas bahwa AS akan sepenuhnya berpihak pada negara sekutu besar kita, Jepang.”

Trump menegaskan bahwa AS akan bersama Jepang menekan Korea Utara yang mengancam dengan senjata nuklir.

Sekjen NATO, Jens Stoltenberg juga mengutuk peluncuran tersebut. Ia mengatakan bahwa tindakan Pyongyang ini membuktikan mereka telah sekali lagi melakukan pelanggaran terhadap sejumlah resolusi DK-PBB.

Sejumlah kalangan berpendapat bahwa peluncuran rudal Korut ini memiliki sifat provokasi yang ditujukan kepada pemerintahan Trump.

Direktur Pusat Studi Pertahanan untuk Kepentingan Nasional di Washingtong DC, Harry Kazianis mengatakan, Korut ingin memprovokasi Trump dengan peluncuran rudal tersebut, tetapi tidak berani menanggung resiko kegagalan dari peluncuran rudal balistik antar benua.

“Saya pikir pihak Korut pasti juga takut, kalau rudal balistik antar benua mereka gagal diluncurkan, tentu saja itu akan sangat memalukan,” katanya.

Beberapa orang ahli yang mengamati politik Korut dalam laporan mereka pada paro kedua Januari lalu menyebutkan, militer Korut terlihat sedang giat dalam menyelesaikan pemasangan rudal pada kendaraan peluncurnya.

Ini membuktikan bahwa peluncuran bisa terjadi dalam waktu dekat. Namun, para ahli tersebut mengesampingkan kemungkinan melibatkan rudal jarak jauh karena panjang keseluruhan rudal terpasang itu sepertinya kurang dari 15 meter.

Sementara itu, CNN melaporkan bahwa pemerintah Tiongkok baru memberikan komentar singkat 24 jam kemudian dengan ini yang tanpa menyertakan rencana intervensi terhadap masalah ini sebagaimana yang banyak diharapkan oleh masyarakat dunia.

Menlu Rusia juga menyampaikan sikap tidak setuju dengan peluncuran rudal yang dilakukan Korut.

“Ini sudah merupakan perilaku terang-terangan yang mengabaikan dan membangkang terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB,” bunyi pernyataan Menlu Rusia. (Sinatra/rmat)